Ditinggalkan dan meninggalkan adalah kejadian yang silih berganti dalam
kehidupan manusia. Terkadang persahabatan yang terjalin lama, tiba-tiba bisa
menghilang karena berbagai hal. Baik terpisahkan jarak, waktu bahkan mungkin
hal-hal yang tak terduga, misalnya pengkhianatan, kebohongan.
Namun
sesungguhnya ada satu sahabat yang tak akan pernah meninggalkanmu, yaitu dirimu
sendiri.
Aneh, terkadang seseorang menolak untuk membahagiakan dirinya
dengan banyak alasan. Alasannya bisa jadi karena dia takut dengan membahagiakan
dirinya, maka dia akan menyakiti orang lain.
Hidupnya pun menjadi lilin,
bersinar bagi orang lain, namun bagian dari dirinya hilang satu persatu. Dan di
saat dia sudah benar-benar kehabisan semangat, apinya pun meredup. Saat itu
sejarah mencatat, tak ada seorang pun yang bahagia, baik dirinya maupun orang
lain.
Jadilah mentari, jangan jadi lilin.
Engkau bukan lilin.
Sahabatmu (yaitu jiwamu sendiri) punya hak untuk berbahagia. Tiada alasan untuk
menunda kebahagiaan. Lakukanlah hal-hal yang kau sukai dan impi-impikan selagi
itu bukan hal yang salah.
Kamu berhak untuk mendapatkan yang terbaik bagi
dirimu tanpa terpengaruh pendapat orang lain. Kamu berhak membuat orang lain
bahagia bukan karena kamu harus, tapi karena itu memang bagian dari
karaktermu.
Yakinlah, saat kamu terjatuh, sahabatmu (yaitu jiwamu
sendiri) yang akan menjadi bagian panjang dari proses penyembuhanmu. Dia akan
setia menemanimu.
Tetaplah membahagiakan sahabatmu, hingga kelak akhir
itu tiba, kamu akan tersenyum dan berkata :
"Tuhan, aku telah menjalani
hidupku dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Terima kasih atas hidup yang
indah ini."
Allahu a'lam
Selasa, 28 Oktober 2014
Ketika Amalan Hati Berbuah Surga
Suatu saat Nabi Muhammad sallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk-duduk
bersama sahabatnya. Tiba-tiba beliau bersabda, "Sekarang akan muncul
ditengah-tengah kalian seorang laki-laki ahli surga". Tentu saja sahabat heran,
siapakah yang dimaksud dengan ahli surga tersebut.
Tak lama kemudian, muncullah seorang laki-laki dari kaum Anshar yang dari jenggotnya masih menetes air wudlunya sambil menenteng dua sandalnya dengan tangan kirinya.
Hari berlalu. Dan keesokan harinya datang lagi, Nabi bersabda hal yang sama. Lalu muncul orang laki-laki itu lagi seperti pada kali yang pertama. Dan pada hari yang ketiga orang tersebut muncul lagi, dan seperti dua hari sebelumnya, Nabi bersabda hal yang sama.
Seorang sahabat, Abdullah bin 'Amr bin Al-‘Aash, penasaran dengan rahasia lelaki tersebut. Ia lalu mengikuti orang tersebut.
Ia berkata, "Sesungguhnya aku sedang berselisih dengan ayahku,lalu aku bersumpah tidak akan datang padanya selama tiga hari, maka jika engkau bisa memberikan tempat kepadaku, aku akan ikut kamu singgah di rumahmu dan kamupun bisa melakukan kegiatanmu seperti biasa"
Lelaki tersebut menjawab, "Ya, boleh"
Abdullah bin 'Amr bermalam bersama orang tersebut selama tiga malam, menanti rahasia mengapa dia dikatakan sebagai ahli surga.
Ternyata, Abdullah bin ‘Amr tidak melihat lelaki tersebut sholat malam selama tiga hari ia berada di rumahnya. Namun bila ia terbangun dari tidurnya, lelaki ahli surga berbolak-balik pada tempat tidurnya selalu menyebut Allah 'Azza wa Jalla dan bertakbir, hingga datang waktu shalat Shubuh.
Salah satu amalan yang bisa dirasakan oleh Abdullah (bin 'Amr) adalah bahwa dia tidak pernah mendengar lelaki tersebut kecuali kebaikan.
Karena amalan-amalan yang dilakukan oleh lelaki ahli surga tersebut biasa-biasa saja, maka Abdullah (bin 'Amr) memutuskan untuk bertanya secara langsung kepadanya.
Abdullah bin 'Amr berkata "Wahai hamba Allah, sesungguhnya antara ku dan antara ayahku tidak ada kemarahan dan tidak pula pemutusan hubungan, akan tetapi karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda tertuju kepadamu sampai tiga kali (yaitu), "Sekarang akan muncul ditengah-tengah kalian seorang laki-laki ahli surga", lalu engkau muncul pula tiga kali. Maka aku ingin singgah dirumahmu supaya aku bisa melihat amalanmu sehingga aku bisa mencontohnya, tetapi aku tidak melihat engkau mengamalkan banyak amalan, lalu apa yang menyebabkan kamu sampai Rasulullah SAW bersabda demikian ?"
Orang laki-laki tersebut menjawab : "Tidak ada itu semua kecuali apa yang engkau telah melihatnya".
Maka Abdullah bin Amr berpaling untuk pulang. Melihat beliau akan pulang, lelaki ahli surga tersebut membuka sebuah rahasia dahsyat amalan hatinya
Beliau berkata "Tidak ada itu semua kecuali apa yang engkau telah melihatnya.”
Beliau melanjutkan lagi “Hanya saja tidak ada pada diriku perasaan dendam kepada seorangpun dari kaum Muslimin, dan tidak ada pula perasaan dengki pada diriku kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya".
Abdullah bin Amr tersadar besarnya amalan hati lelaki tersebut, walaupun amalan lahiriahnya terlihat kecil.
Abdullah bin Amr berkata "Inilah yang menyebabkan (kelebihan) kamu, dan itulah yang kami tidak mampu melakukannya".
Allahu a’lam
Tak lama kemudian, muncullah seorang laki-laki dari kaum Anshar yang dari jenggotnya masih menetes air wudlunya sambil menenteng dua sandalnya dengan tangan kirinya.
Hari berlalu. Dan keesokan harinya datang lagi, Nabi bersabda hal yang sama. Lalu muncul orang laki-laki itu lagi seperti pada kali yang pertama. Dan pada hari yang ketiga orang tersebut muncul lagi, dan seperti dua hari sebelumnya, Nabi bersabda hal yang sama.
Seorang sahabat, Abdullah bin 'Amr bin Al-‘Aash, penasaran dengan rahasia lelaki tersebut. Ia lalu mengikuti orang tersebut.
Ia berkata, "Sesungguhnya aku sedang berselisih dengan ayahku,lalu aku bersumpah tidak akan datang padanya selama tiga hari, maka jika engkau bisa memberikan tempat kepadaku, aku akan ikut kamu singgah di rumahmu dan kamupun bisa melakukan kegiatanmu seperti biasa"
Lelaki tersebut menjawab, "Ya, boleh"
Abdullah bin 'Amr bermalam bersama orang tersebut selama tiga malam, menanti rahasia mengapa dia dikatakan sebagai ahli surga.
Ternyata, Abdullah bin ‘Amr tidak melihat lelaki tersebut sholat malam selama tiga hari ia berada di rumahnya. Namun bila ia terbangun dari tidurnya, lelaki ahli surga berbolak-balik pada tempat tidurnya selalu menyebut Allah 'Azza wa Jalla dan bertakbir, hingga datang waktu shalat Shubuh.
Salah satu amalan yang bisa dirasakan oleh Abdullah (bin 'Amr) adalah bahwa dia tidak pernah mendengar lelaki tersebut kecuali kebaikan.
Karena amalan-amalan yang dilakukan oleh lelaki ahli surga tersebut biasa-biasa saja, maka Abdullah (bin 'Amr) memutuskan untuk bertanya secara langsung kepadanya.
Abdullah bin 'Amr berkata "Wahai hamba Allah, sesungguhnya antara ku dan antara ayahku tidak ada kemarahan dan tidak pula pemutusan hubungan, akan tetapi karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda tertuju kepadamu sampai tiga kali (yaitu), "Sekarang akan muncul ditengah-tengah kalian seorang laki-laki ahli surga", lalu engkau muncul pula tiga kali. Maka aku ingin singgah dirumahmu supaya aku bisa melihat amalanmu sehingga aku bisa mencontohnya, tetapi aku tidak melihat engkau mengamalkan banyak amalan, lalu apa yang menyebabkan kamu sampai Rasulullah SAW bersabda demikian ?"
Orang laki-laki tersebut menjawab : "Tidak ada itu semua kecuali apa yang engkau telah melihatnya".
Maka Abdullah bin Amr berpaling untuk pulang. Melihat beliau akan pulang, lelaki ahli surga tersebut membuka sebuah rahasia dahsyat amalan hatinya
Beliau berkata "Tidak ada itu semua kecuali apa yang engkau telah melihatnya.”
Beliau melanjutkan lagi “Hanya saja tidak ada pada diriku perasaan dendam kepada seorangpun dari kaum Muslimin, dan tidak ada pula perasaan dengki pada diriku kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya".
Abdullah bin Amr tersadar besarnya amalan hati lelaki tersebut, walaupun amalan lahiriahnya terlihat kecil.
Abdullah bin Amr berkata "Inilah yang menyebabkan (kelebihan) kamu, dan itulah yang kami tidak mampu melakukannya".
Allahu a’lam
Kita Membenci dan Menyukai Karena Sudut Pandang yang Salah
Alkisah, ada seorang ustadzah yang bercerita tentang kisah tentang seorang ibu
yang mengeluhkan perilaku anaknya. Anaknya itu tinggal bersamanya dan merawat
dirinya. Dia mengeluhkan betapa anaknya tidak sebaik anaknya yang tidak tinggal
bersamanya.
Anaknya yang tidak tinggal bersamanya terkadang memberinya hadiah. Sebagai ibu tentu saja dia merasa senang. Dia berharap anak yang tinggal bersamanya itu berbuat sebaik anaknya itu. Dia kecewa karena anak yang tinggal bersamanya tak pernah memberinya hadiah.
Apa jawaban ustadzah tersebut? Menurutnya sang ibu selama ini mempunyai sudut pandang yang salah. Menurutnya, anak yang tak pernah memberinya hadiah mempunyai keutamaan yang lebih besar. Karena sang ibu dirawat oleh anak tersebut, di mana dia setiap hari memberi perhatian dalam bentuk yang lain. Perhatian yang tak pernah disadari ibu tersebut. Bagaimana dia menyiapkan makan dan minum setiap hari dan pengabdian lain yang tertutupi karena ibunya hanya melihat dari sudut pandang yang salah. Hanya karena sang ibu terbiasa merasakan kebaikan tersebut maka hal tersebut menjadi tak istimewa lagi baginya.
Demikianlah dalam kehidupan kita. Banyak kebaikan orang lain berubah menjadi hal yang biasa saja karena setiap hari kita merasakannya. Tak heran, banyak dari kita lebih terharu atas perhatian orang yang baru kita kenal dibanding perhatian orang yang lama mengenal kita.
Betapa banyak anak mengeluhkan orang tuanya, mencela dan bermuka masam kepada orang tuanya di rumah, tetapi mudah tersenyum kepada orang baru yang dikenalnya. terkadang kita mengingat orang tua, keluarga atau saudara yang setiap hari berinteraksi dengan kita hanya dari sudut pandang kesalahan, bukan kebaikan. Namun ketika kita bertemu seseorang yang jarang berinteraksi dan berbuat baik kepada kita hanya sekali, maka lisan kita begitu cepat memuji.
Betullah kata seorang sahabat, "Makanan yang enak dan istimewa, bila dimakan tiap hari tak akan terasa istimewa." Bahkan ayam dan daging yang harganya mahal, bila dikonsumsi tiap hari oleh orang kaya, menjadi biasa saja bahkan berubah menjadi membosankan. Namun, berikanlah kepada orang yang jarang mengkonsumsinya, maka makanan itu akan menjadi spesial dan istimewa.
Nampaknya kebaikan orang lain pun seperti itu. Kebaikan keluarga, sahabat, teman, yang tiap hari kita dapatkan, semulia apapun kebaikan itu, maka akan akan menjadi biasa saja. Kita mulai mencari-cari sudut pandang yang berbeda, mencari kekurangan mereka, dan melupakan kebaikan mereka.
Ketahuilah, keluarga, sahabat, tetangga yang setiap hari berinteraksi dengan kita mempunyai kebaikan yang setiap hari kita terima. Merekalah yang paling berhak kita perlakukan dengan baik, dengan kasih dan sayang. Kebaikan mereka melebihi orang yang berbuat kebaikan orang yang jarang berinteraksi dengan kita.
Matahari yang hangat, menjadi tak istimewa bila setiap hari kita merasakannya. Namun bagi mereka yang yang tak pernah merasakan hangatnya, maka akan menjadi istimewa.
Pantai yang indah menjadi tak istimewa bagi penduduk di sekitarnya, namun menjadi menakjubkan bagi mereka yang tinggal di daerah pegunungan.
Maka mungkin saja kita tak lagi merasakan kebaikan orang lain dan membenci karena keburukannya yang hanya sekali dua kali, karena kita telah terbiasa dengan kebaikannya.
Allahu a'lam
Anaknya yang tidak tinggal bersamanya terkadang memberinya hadiah. Sebagai ibu tentu saja dia merasa senang. Dia berharap anak yang tinggal bersamanya itu berbuat sebaik anaknya itu. Dia kecewa karena anak yang tinggal bersamanya tak pernah memberinya hadiah.
Apa jawaban ustadzah tersebut? Menurutnya sang ibu selama ini mempunyai sudut pandang yang salah. Menurutnya, anak yang tak pernah memberinya hadiah mempunyai keutamaan yang lebih besar. Karena sang ibu dirawat oleh anak tersebut, di mana dia setiap hari memberi perhatian dalam bentuk yang lain. Perhatian yang tak pernah disadari ibu tersebut. Bagaimana dia menyiapkan makan dan minum setiap hari dan pengabdian lain yang tertutupi karena ibunya hanya melihat dari sudut pandang yang salah. Hanya karena sang ibu terbiasa merasakan kebaikan tersebut maka hal tersebut menjadi tak istimewa lagi baginya.
Demikianlah dalam kehidupan kita. Banyak kebaikan orang lain berubah menjadi hal yang biasa saja karena setiap hari kita merasakannya. Tak heran, banyak dari kita lebih terharu atas perhatian orang yang baru kita kenal dibanding perhatian orang yang lama mengenal kita.
Betapa banyak anak mengeluhkan orang tuanya, mencela dan bermuka masam kepada orang tuanya di rumah, tetapi mudah tersenyum kepada orang baru yang dikenalnya. terkadang kita mengingat orang tua, keluarga atau saudara yang setiap hari berinteraksi dengan kita hanya dari sudut pandang kesalahan, bukan kebaikan. Namun ketika kita bertemu seseorang yang jarang berinteraksi dan berbuat baik kepada kita hanya sekali, maka lisan kita begitu cepat memuji.
Betullah kata seorang sahabat, "Makanan yang enak dan istimewa, bila dimakan tiap hari tak akan terasa istimewa." Bahkan ayam dan daging yang harganya mahal, bila dikonsumsi tiap hari oleh orang kaya, menjadi biasa saja bahkan berubah menjadi membosankan. Namun, berikanlah kepada orang yang jarang mengkonsumsinya, maka makanan itu akan menjadi spesial dan istimewa.
Nampaknya kebaikan orang lain pun seperti itu. Kebaikan keluarga, sahabat, teman, yang tiap hari kita dapatkan, semulia apapun kebaikan itu, maka akan akan menjadi biasa saja. Kita mulai mencari-cari sudut pandang yang berbeda, mencari kekurangan mereka, dan melupakan kebaikan mereka.
Ketahuilah, keluarga, sahabat, tetangga yang setiap hari berinteraksi dengan kita mempunyai kebaikan yang setiap hari kita terima. Merekalah yang paling berhak kita perlakukan dengan baik, dengan kasih dan sayang. Kebaikan mereka melebihi orang yang berbuat kebaikan orang yang jarang berinteraksi dengan kita.
Matahari yang hangat, menjadi tak istimewa bila setiap hari kita merasakannya. Namun bagi mereka yang yang tak pernah merasakan hangatnya, maka akan menjadi istimewa.
Pantai yang indah menjadi tak istimewa bagi penduduk di sekitarnya, namun menjadi menakjubkan bagi mereka yang tinggal di daerah pegunungan.
Maka mungkin saja kita tak lagi merasakan kebaikan orang lain dan membenci karena keburukannya yang hanya sekali dua kali, karena kita telah terbiasa dengan kebaikannya.
Allahu a'lam
Mungkin Kita Pengamat Keledai Itu ... .
Alkisah, seorang bijak melakukan perjalanan yang cukup jauh dengan anaknya.
Karena perjalanan yang cukup jauh, maka membawa keledai sebagai alat
transportasi mereka. Sang bijak dan anaknya menunggangi keledai itu berdua dan
akhirnya sampai di suatu desa.
Di desa tersebut, perbuatan sang bijak dan anaknya yang menunggangi keledai secara bersamaan mendapatkan komentar dari seorang penduduk.
"Lihat, betapa zhalimnya lelaki itu, keledai yang kecil mereka tunggangi berdua. Betapa jahat mereka mereka."
Mendengar hal tersebut, sang bijak pun turun. Dia membiarkan anaknya berada di punggung keledai sendirian. Mulailah dia berjalan di samping keledai hingga melewati desa yang lain.
Di desa tersebut, terdengar lagi komentar yang lain dari penduduk yang melihat mereka berdua.
"Lihat, betapa zhalim anak itu. Ayahnya dibiarkan berjalan, sedangkan dia asyik berada di atas keledai. Sungguh anak itu kurang ajar dan durhaka."
Tentu saja, sang anak tak mau dikatakan sebagai anak yang kurang ajar. Dipersilahkannya ayahnya untuk naik ke punggung keledai. Kemudian dia berjalan di samping keledai dan melanjutkan perjalanan.
Ternyata perbuatan sang bijak dan anaknya, tetap mengundang komentar dari penduduk desa di jalan yang mereka lewati. Kali ini sang bijak yang mendapatkan komentar yang cukup pedas.
"Ayah yang sungguh tak punya kasih dan sayang. Sungguh malang nasib anaknya, dia berjalan begitu jauh, sementara ayahnya asyik menikmati perjalanan di punggung keledai."
Kali ini sang bijak berkata kepada anaknya.
"Hai anakku, bagaimana kalau kita berjalan saja tanpa ada seorang dari kita yang menaiki keledai. Mungkin, tak ada lagi yang memberikan komentar atas tingkah laku kita." Kata sang bijak dengan suara lembut kepada anaknya.
"Iya ayah." Jawab anaknya setuju.
Mulailah mereka berjalan berdua tanpa menaiki keledai. Tapi ternyata, tetap ada saja penduduk yang mengomentari tingkah mereka. Bahkan kali ini mereka dikatakan sebagai orang bodoh.
"Bodoh, sungguh bodoh kalian berdua. Punya keledai, malah kalian berjalan begitu jauh. Sungguh kalian tak punya otak." Komentar penduduk desa tersebut.
Mendengar hal tersebut sang bijak berkata kepada anaknya.
"Nak, sesungguhnya apapun yang kita lakukan orang-orang akan tetap memberikan komentar kepada kita. Sesungguhnya ini menjadi hikmah bagi kita, bahwa walaupun sebaik apapun perbuatan kita, tetap saja dalam pandangan orang yang dengki akan terlihat buruk."
***
Dalam kehidupan kita, kita bisa jadi berada dalam posisi sang bijak dan anaknya atau para pemberi komentar. Bila kita dalam posisi sang bijak dan anaknya, bisa jadi bila kita terus mendengarkan komentar negatif orang lain, maka kita tak akan melanjutkan perjalanan dan kebaikan yang kita niatkan.
Tapi, yang paling buruk adalah kita memasang posisi sebagai pemberi komentar. Seringkali kita mendengar istilah NATO, No Action, Talk Only. Sudah tidak melakukan perbuatan amal, malah mencela orang lain yang berbuat kebaikan, bahkan mencegahnya.
Misalnya saja, ketika ita melihat sukarelawan yang memasang simbol organisasinya ketika memberi bantuan kepada korban musibah, maka kita asyik berkomentar dan membedah hatinya.
"Ah, pasti dia tidak ikhlas, hanya ingin membuat organisasinya terkenal."
Atau ketika kita melihat seseorang yang mengumumkan sedekahnya, malah kita menganggapnya riya. Padahal kita sendiri tak ikut membantu baik secara harta dan fisik, dan juga tak ikut bersedekah. Kita asyik mengomentari perbuatan seseorang, seakan-akan kita bisa membedah hati mereka.
Maka bila kita tak bisa berbuat baik, setidaknya kita jangan mencegah orang lain berbuat baik dengan komentar kita.
Dan seandainya kita bisa memilih, maka pilihlah menjadi di posisi sang bijak dan anaknya, bukan sang pengamat keledai. Karena terkadang apa yang kita pikirkan, belum tentu sesuai dengan apa yang dialami oleh mereka yang kita komentari.
Allahu a'lam
Di desa tersebut, perbuatan sang bijak dan anaknya yang menunggangi keledai secara bersamaan mendapatkan komentar dari seorang penduduk.
"Lihat, betapa zhalimnya lelaki itu, keledai yang kecil mereka tunggangi berdua. Betapa jahat mereka mereka."
Mendengar hal tersebut, sang bijak pun turun. Dia membiarkan anaknya berada di punggung keledai sendirian. Mulailah dia berjalan di samping keledai hingga melewati desa yang lain.
Di desa tersebut, terdengar lagi komentar yang lain dari penduduk yang melihat mereka berdua.
"Lihat, betapa zhalim anak itu. Ayahnya dibiarkan berjalan, sedangkan dia asyik berada di atas keledai. Sungguh anak itu kurang ajar dan durhaka."
Tentu saja, sang anak tak mau dikatakan sebagai anak yang kurang ajar. Dipersilahkannya ayahnya untuk naik ke punggung keledai. Kemudian dia berjalan di samping keledai dan melanjutkan perjalanan.
Ternyata perbuatan sang bijak dan anaknya, tetap mengundang komentar dari penduduk desa di jalan yang mereka lewati. Kali ini sang bijak yang mendapatkan komentar yang cukup pedas.
"Ayah yang sungguh tak punya kasih dan sayang. Sungguh malang nasib anaknya, dia berjalan begitu jauh, sementara ayahnya asyik menikmati perjalanan di punggung keledai."
Kali ini sang bijak berkata kepada anaknya.
"Hai anakku, bagaimana kalau kita berjalan saja tanpa ada seorang dari kita yang menaiki keledai. Mungkin, tak ada lagi yang memberikan komentar atas tingkah laku kita." Kata sang bijak dengan suara lembut kepada anaknya.
"Iya ayah." Jawab anaknya setuju.
Mulailah mereka berjalan berdua tanpa menaiki keledai. Tapi ternyata, tetap ada saja penduduk yang mengomentari tingkah mereka. Bahkan kali ini mereka dikatakan sebagai orang bodoh.
"Bodoh, sungguh bodoh kalian berdua. Punya keledai, malah kalian berjalan begitu jauh. Sungguh kalian tak punya otak." Komentar penduduk desa tersebut.
Mendengar hal tersebut sang bijak berkata kepada anaknya.
"Nak, sesungguhnya apapun yang kita lakukan orang-orang akan tetap memberikan komentar kepada kita. Sesungguhnya ini menjadi hikmah bagi kita, bahwa walaupun sebaik apapun perbuatan kita, tetap saja dalam pandangan orang yang dengki akan terlihat buruk."
***
Dalam kehidupan kita, kita bisa jadi berada dalam posisi sang bijak dan anaknya atau para pemberi komentar. Bila kita dalam posisi sang bijak dan anaknya, bisa jadi bila kita terus mendengarkan komentar negatif orang lain, maka kita tak akan melanjutkan perjalanan dan kebaikan yang kita niatkan.
Tapi, yang paling buruk adalah kita memasang posisi sebagai pemberi komentar. Seringkali kita mendengar istilah NATO, No Action, Talk Only. Sudah tidak melakukan perbuatan amal, malah mencela orang lain yang berbuat kebaikan, bahkan mencegahnya.
Misalnya saja, ketika ita melihat sukarelawan yang memasang simbol organisasinya ketika memberi bantuan kepada korban musibah, maka kita asyik berkomentar dan membedah hatinya.
"Ah, pasti dia tidak ikhlas, hanya ingin membuat organisasinya terkenal."
Atau ketika kita melihat seseorang yang mengumumkan sedekahnya, malah kita menganggapnya riya. Padahal kita sendiri tak ikut membantu baik secara harta dan fisik, dan juga tak ikut bersedekah. Kita asyik mengomentari perbuatan seseorang, seakan-akan kita bisa membedah hati mereka.
Maka bila kita tak bisa berbuat baik, setidaknya kita jangan mencegah orang lain berbuat baik dengan komentar kita.
Dan seandainya kita bisa memilih, maka pilihlah menjadi di posisi sang bijak dan anaknya, bukan sang pengamat keledai. Karena terkadang apa yang kita pikirkan, belum tentu sesuai dengan apa yang dialami oleh mereka yang kita komentari.
Allahu a'lam
Bagi Kita Hal yang Kecil, bagi Orang Lain Mungkin itu Seluruh Hidupnya
Alkisah, ada sebuah artikel yang menuliskan perjuangan seorang pendaki untuk
naik ke puncak gunung Everest. Naik ke puncak gunung everest merupakan cita-cita
yang sangat dia inginkan. Untuk itu dia mengajak seorang penduduk lokal untuk
menemaninya menggapai cita-citanya.
Everest adalah gunung tertinggi di dunia, tentu saja untuk mencapainya memerlukan usaha yang tidak main-main pula. Telah banyak orang yang mencobanya dan gagal. Berdua, pendaki dan penduduk lokal itu mencoba mendaki sampai ke puncak. Bahu membahu, mereka akhirnya hampir sampai ke puncak gunung tertinggi di dunia itu. Itu berarti salah satu dari mereka adalah orang pertama yang berhasil sampai ke puncak gunung everest.
Beberapa langkah lagi sang pemandu akan menjadi orang pertama yang sampai di puncak gunung everest. Tapi, sang pemandu yang melihat sang pendaki berada di belakangnya, berhenti dan menunggu sang pendaki. Dia memberi kesempatan kepada pendaki itu untuk menjadi orang pertama yang menggapai puncak gunung everest.
Syahdan, kisah pendaki yang menggapai puncak gunung everest menjadi perhatian banyak orang. Banyak wartawan yang berniat mewawancara sang pendaki, namun ada salah satu wartawan mempunyai sudut pandang yang lain. Dia mewawancarai sang pemandu, dan menanyakan mengapa dia membiarkan pendaki itu menggapai sang puncak, padahal dirinya lebih mampu untuk menggapai puncak. Bukankah itu berarti dia membiarkan orang lain mendapatkan keberhasilan?
Apa jawaban sang pemandu. Sungguh sederhana, namun bermakna sangat dalam.
"impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih impiannya"
***
Dalam kehidupan, kita sering mendengarkan seseorang bercerita tentang keberhasilannya dengan sangat bangga. Seorang ayah bercerita tentang keberhasilan anaknya, seorang yang baru naik jabatan bercerita tentang keberhasilannya dengan sangat bahagia, atau seseorang yang berhasil menggapai impiannya yang menurut kita sederhana dan mudah digapai.
Pilihannya bagi kita ketika mendengar cerita kesuksesannya, mungkin kita diam saja, atau mungkin kita malah merendahkan kesuksesannya.
"Itu kan biasa saja, saya malah sering melakukannya. Di keluarga saya itu biasa". Bisa saja kita mengucapkannya di hadapan orang itu, dan membuatnya malu.
Kita membunuh kebahagiaan seseorang.
Padahal bagi kita itu hal yang biasa, namun bagi orang lain itu adalah 'seluruh hidup' mereka. Misalnya, bagi sebagian orang mendapatkan pekerjaan adalah hal yang biasa, namun bagi sebagian orang mendapatkan pekerjaan adalah 'seluruh hidup' mereka. Bagi sebagian orang, berkunjung ke suatu tempat adalah hal yang biasa, namun bagi orang lain itu adalah kebahagiaan yang besar bagi mereka. Bagi sebagian orang, mempunyai anak yang masuk ke suatu universitas terkenal adalah biasa, namun bagi sebahagiaan orang tua, itu adalah 'seluruh hidup' mereka ketika mempunyai anak yang menggapai sukses.
Bagi sang pemandu, mungkin menggapai puncak adalah hal yang sederhana. Namun tidak bagi sang pendaki. Sang pemandu tak mau membunuh kebahagiaan sang pendaki, dengan menggapai puncak lebih dulu.
Bila kita tidak bisa membantu orang lain mencapai puncak kesuksesan seperti sang pemandu, mungkin kita bisa memilih dengan cara lain. Cara yang sederhana. Jangan pernah membunuh kebahagiaan orang lain dengan kata-kata kita yang menyakitkan.
Allahu a'lam
Everest adalah gunung tertinggi di dunia, tentu saja untuk mencapainya memerlukan usaha yang tidak main-main pula. Telah banyak orang yang mencobanya dan gagal. Berdua, pendaki dan penduduk lokal itu mencoba mendaki sampai ke puncak. Bahu membahu, mereka akhirnya hampir sampai ke puncak gunung tertinggi di dunia itu. Itu berarti salah satu dari mereka adalah orang pertama yang berhasil sampai ke puncak gunung everest.
Beberapa langkah lagi sang pemandu akan menjadi orang pertama yang sampai di puncak gunung everest. Tapi, sang pemandu yang melihat sang pendaki berada di belakangnya, berhenti dan menunggu sang pendaki. Dia memberi kesempatan kepada pendaki itu untuk menjadi orang pertama yang menggapai puncak gunung everest.
Syahdan, kisah pendaki yang menggapai puncak gunung everest menjadi perhatian banyak orang. Banyak wartawan yang berniat mewawancara sang pendaki, namun ada salah satu wartawan mempunyai sudut pandang yang lain. Dia mewawancarai sang pemandu, dan menanyakan mengapa dia membiarkan pendaki itu menggapai sang puncak, padahal dirinya lebih mampu untuk menggapai puncak. Bukankah itu berarti dia membiarkan orang lain mendapatkan keberhasilan?
Apa jawaban sang pemandu. Sungguh sederhana, namun bermakna sangat dalam.
"impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih impiannya"
***
Dalam kehidupan, kita sering mendengarkan seseorang bercerita tentang keberhasilannya dengan sangat bangga. Seorang ayah bercerita tentang keberhasilan anaknya, seorang yang baru naik jabatan bercerita tentang keberhasilannya dengan sangat bahagia, atau seseorang yang berhasil menggapai impiannya yang menurut kita sederhana dan mudah digapai.
Pilihannya bagi kita ketika mendengar cerita kesuksesannya, mungkin kita diam saja, atau mungkin kita malah merendahkan kesuksesannya.
"Itu kan biasa saja, saya malah sering melakukannya. Di keluarga saya itu biasa". Bisa saja kita mengucapkannya di hadapan orang itu, dan membuatnya malu.
Kita membunuh kebahagiaan seseorang.
Padahal bagi kita itu hal yang biasa, namun bagi orang lain itu adalah 'seluruh hidup' mereka. Misalnya, bagi sebagian orang mendapatkan pekerjaan adalah hal yang biasa, namun bagi sebagian orang mendapatkan pekerjaan adalah 'seluruh hidup' mereka. Bagi sebagian orang, berkunjung ke suatu tempat adalah hal yang biasa, namun bagi orang lain itu adalah kebahagiaan yang besar bagi mereka. Bagi sebagian orang, mempunyai anak yang masuk ke suatu universitas terkenal adalah biasa, namun bagi sebahagiaan orang tua, itu adalah 'seluruh hidup' mereka ketika mempunyai anak yang menggapai sukses.
Bagi sang pemandu, mungkin menggapai puncak adalah hal yang sederhana. Namun tidak bagi sang pendaki. Sang pemandu tak mau membunuh kebahagiaan sang pendaki, dengan menggapai puncak lebih dulu.
Bila kita tidak bisa membantu orang lain mencapai puncak kesuksesan seperti sang pemandu, mungkin kita bisa memilih dengan cara lain. Cara yang sederhana. Jangan pernah membunuh kebahagiaan orang lain dengan kata-kata kita yang menyakitkan.
Allahu a'lam
Setiap do'a akan menemukan jalannya sendiri
Suatu saat Imam Ahmad bin Hanbal melakukan perjalanan ke suatu
daerah. Sebagai seorang penuntut ilmu serta seorang ulama beliau memang
seringkali berkunjung ke suatu daerah tanpa membawa banyak bekal.
Seperti kebiasaan para musafir, maka beliau berniat untuk bermalam di mesjid. Namun niat beliau mendapatkan halangan. Seorang penjaga mesjid tidak mengizinkannya untuk menginap. Sang imam pun keluar dengan membawa barang barangnya.
Ketika berada di luar mesjid, seorang pemilik usaha memanggil sang ulama. Mungkin merasa kasihan dengan keadaan sang ulama, maka beliau mengajak imam Ahmad untuk menginap di tempatnya.
Imam Ahmad memperhatikan lelaki tersebut. Ada yang menakjubkan dari lelaki tersebut. Walau sibuk bekerja, bibir beliau terus menerus bergerak untuk berdzikir.
Imam Ahmad pun merasa penasaran dengan kebiasaan lelaki itu. Imam bertanya sejak kapan lelaki itu melakukan kebiasaannya berdzikir. Ternyata dia telah melakukan kebiasaan tersebut bertahun-tahun. Sebagai berkah dari kebiasaannya berdzikir, lelaki itu berkata, hampir semua doanya terkabul, kecuali satu hal.
"Doa apa?" Tanya imam penasaran.
"Sejak lama saya berdoa agar dipertemukan dengan Imam Ahmad. Tapi belum dikabulkan." Jawab lelaki itu.
Imam Ahmad berseru takjub.
"Sayalah Ahmad bin Hanbal."
***
Ada saat kita bertanya-tanya tentang doa yang tak kunjung terkabulkan. Hati risau dan gelisah menanti jawaban. Sebagian orang akan menyerah, namun sebagian orang akan terus berdoa dan berdoa.
Allah terkadang menjawab doa kita secara misterius. Doa kepada Allah yang tulus dan ikhlas pasti dibalas. Terkadang dibalas persis seperti doa kita, terkadang diganti dengan hal lain karena Allah tahu apa yang kita inginkan bukan yang terbaik buat kita, dan bisa jadi doa kita akan dibalas dengan kebaikan di akhirat.
Tetaplah berdoa dengan tulus dan ikhlas, karena setiap doa akan menemukan jalannya sendiri.
Allahu a'lam
Seperti kebiasaan para musafir, maka beliau berniat untuk bermalam di mesjid. Namun niat beliau mendapatkan halangan. Seorang penjaga mesjid tidak mengizinkannya untuk menginap. Sang imam pun keluar dengan membawa barang barangnya.
Ketika berada di luar mesjid, seorang pemilik usaha memanggil sang ulama. Mungkin merasa kasihan dengan keadaan sang ulama, maka beliau mengajak imam Ahmad untuk menginap di tempatnya.
Imam Ahmad memperhatikan lelaki tersebut. Ada yang menakjubkan dari lelaki tersebut. Walau sibuk bekerja, bibir beliau terus menerus bergerak untuk berdzikir.
Imam Ahmad pun merasa penasaran dengan kebiasaan lelaki itu. Imam bertanya sejak kapan lelaki itu melakukan kebiasaannya berdzikir. Ternyata dia telah melakukan kebiasaan tersebut bertahun-tahun. Sebagai berkah dari kebiasaannya berdzikir, lelaki itu berkata, hampir semua doanya terkabul, kecuali satu hal.
"Doa apa?" Tanya imam penasaran.
"Sejak lama saya berdoa agar dipertemukan dengan Imam Ahmad. Tapi belum dikabulkan." Jawab lelaki itu.
Imam Ahmad berseru takjub.
"Sayalah Ahmad bin Hanbal."
***
Ada saat kita bertanya-tanya tentang doa yang tak kunjung terkabulkan. Hati risau dan gelisah menanti jawaban. Sebagian orang akan menyerah, namun sebagian orang akan terus berdoa dan berdoa.
Allah terkadang menjawab doa kita secara misterius. Doa kepada Allah yang tulus dan ikhlas pasti dibalas. Terkadang dibalas persis seperti doa kita, terkadang diganti dengan hal lain karena Allah tahu apa yang kita inginkan bukan yang terbaik buat kita, dan bisa jadi doa kita akan dibalas dengan kebaikan di akhirat.
Tetaplah berdoa dengan tulus dan ikhlas, karena setiap doa akan menemukan jalannya sendiri.
Allahu a'lam
Jumat, 17 Oktober 2014
Kesunyian
Masih saja kau hinggapi kalbuku
walau telah ada sesosok wanita disampingku
dan bidadari-bidarari kecil nan cantik di hadapanku
wahai kesunyian....
Deras airmata ini tumpah
disaat ku ingat dirimu
wahai kesunyian....
Jalan panjang kehidupan
penuh liku dan onak duri
penuh topeng dan sayatan luka
telah ku tempuh sejauh ini
dan akankah kutempuh selalu
wahai kesunyian ??....
Beban di pundakku
seolah tak pernah berkurang
Hujaman batu di kepalaku
seolah tak pernah berhenti
wahai kesunyian....
Langganan:
Postingan (Atom)