Mentari tak pernah menangis, walau dia terpisahkan dengan apa yang dicintainya.
Dia tetap menanti masa, ketika waktu mulai memendar sepi, dan kembali dia
terperangkap dalam kerinduan kepada rembulan
Mentari tak pernah marah,
walau dedaunan tak membalas sinarnya. Esok dia tetap akan bersinar lagi, walau
mungkin ada masa dia merasa bosan dan menawarkan sedikit mendung. Tapi seperti
biasanya, dia tetap kembali untuk dedaunan
Mentari tak mengambil hati,
ketika orang mengeluh akan panasnya, dan kembali merindu hadirnya ketika musim
hujan tiba.
Waktu tak menunggu siapa-siapa, sedangkan kita terus
memerangkap diri dalam cerita usang.
karena hidup itu adalah tentang
perjuangan, terjatuh dan kembali bangkit lagi. Setiap orang terlahir dengan jiwa
pejuang dalam dirinya. Kita hanya perlu menatap jauh ke dalam lubuk hati, apakah
kita telah membunuh petarung itu.
Kamu sakit, kamu hanya perlu bertarung
melawan sakitmu.
Kamu gagal, kamu hanya perlu bertarung melawan
gagalmu.
Kamu tak punya siapa-siapa, kamu hanya perlu bertarung untuk
belajar keindahan kesendirian.
Orang mencemoohmu, kamu hanya perlu
bertarung melawan amarahmu.
Karena hidup adalah perjuangan. Hingga kelak
waktu kita habis, kita telah mampu menjaga amanah Allah
sebaik-baiknya.
Sampaikan kepadaku kawan, kamu tak pernah
menyerah...
Allahu a'lam
Selasa, 28 Oktober 2014
Hadiah Untukmu
Dalam bahasa inggris, ada salah satu kata yang mempunyai dua makna yang berbeda
dalam bahasa Indonesia Kata itu adalah "present". Kata tersebut bisa bermakna
saat ini/sekarang, bisa juga bermakna hadiah.
Jadi hidup ini, saat ini adalah hadiah buat kita.
Seseorang bisa meratapi masa lalunya, namun tak seorang pun yang bisa merubahnya. Seseorang bisa merancang masa depannya, namun tak seorang pun yang bisa tahu pasti apakah dia akan bisa melakukan apa yang direncanakan.
Tapi saat ini, ketika kita masih menghembuskan napas, menikmati sejenak kehidupan dan mensyukuri, itulah yang benar-benar kita jalani.
Bukan masa lalu ataupun masa depan.
Banyak hal yang berubah dalam hidup kita. Banyak orang yang pergi dan meninggalkan kita, dan ada juga yang datang - Karena hidup salah satunya adalah kisah ditinggalkan dan meninggalkan- Namun tahukah kamu ada seseorang yang tak pernah benar-benar meninggalkanmu.
Dia adalah dirimu sendiri.
Kawan, kehidupan ini adalah hadiah untukmu
Dan dirimu, adalah satu-satunya yang tak akan meninggalkan dirimu sendiri.
Saudaraku, janganlah memaksa dirimu terlalu keras. Nikmatilah setiap momen dalam hidupmu. Jadilah mentari, bukan lilin.
Tahukah kamu lilin?
dia menerangi orang lain, tapi pada akhirnya dia sendiri akan habis.
Dia membahagiakan orang lain, tapi ketika dia kehabisan cahaya kebahagiaannya, maka dia tak bisa lagi memberi cahaya tersebut pada orang lain.
Sementara mentari bersinar terang tanpa perlu takut kehabisan cahaya.
Hidup hanyalah sementara, dan kita tak tahu kapan kita mati. Yang perlu kita persiapkan apa bekal kita saja.
Saudaraku, dalam hidup itu bukan masalah win dan lose. Ketika kamu membahagiakan orang yang kau cintai, maka kamu juga harus bahagia terlebih dahulu. Kebahagiaan adalah masalah win dan win. Semua menang dan bahagia
Bila kamu tak punya apa-apa dalam hidupmu, bukan berarti kamu harus menyesalinya. Selama punya kesempatan dan kesehatan, maka tetaplah bersyukur.
Tahukah kamu apa yang paling berharga bagi orang yang sakit keras walau dirinya dipenuhi oleh harta berlimpah? Kesehatan.
Kesehatanmu adalah hal yang penting. Kesehatan bagaikan bunga yang indah di taman jiwamu, bila engkau tak merawatnya, maka dia akan layu. Saat itu kau akan menyesal telah mengabaikannya.
Saudaraku, ada saat kita terjatuh. Maka kita hanya perlu mengingat bahwa hidup itu bagaikan roda, tak selamanya kita di bawah. Bangkitlah. Lupakan masa lalu, dan hiduplah dengan kekuatan terbesarmu.
Kekuatan terbesar yang kita miliki adalah tauhid, iman kepada Allah.
Saudaraku, ketika engkau menangis, maka ingatlah bahwa engkau pernah tertawa.
Ketika engkau menderita, maka engkau juga pernah bahagia.
Dan selalulah mengingat masa apa yang kita jalani adalah hadiah.
Dan sebuah hadiah menjadi indah bila kita mensyukuri pemberian tersebut dan mempergunakan dengan sebaik-baiknya.
Allahu a'lam
Jadi hidup ini, saat ini adalah hadiah buat kita.
Seseorang bisa meratapi masa lalunya, namun tak seorang pun yang bisa merubahnya. Seseorang bisa merancang masa depannya, namun tak seorang pun yang bisa tahu pasti apakah dia akan bisa melakukan apa yang direncanakan.
Tapi saat ini, ketika kita masih menghembuskan napas, menikmati sejenak kehidupan dan mensyukuri, itulah yang benar-benar kita jalani.
Bukan masa lalu ataupun masa depan.
Banyak hal yang berubah dalam hidup kita. Banyak orang yang pergi dan meninggalkan kita, dan ada juga yang datang - Karena hidup salah satunya adalah kisah ditinggalkan dan meninggalkan- Namun tahukah kamu ada seseorang yang tak pernah benar-benar meninggalkanmu.
Dia adalah dirimu sendiri.
Kawan, kehidupan ini adalah hadiah untukmu
Dan dirimu, adalah satu-satunya yang tak akan meninggalkan dirimu sendiri.
Saudaraku, janganlah memaksa dirimu terlalu keras. Nikmatilah setiap momen dalam hidupmu. Jadilah mentari, bukan lilin.
Tahukah kamu lilin?
dia menerangi orang lain, tapi pada akhirnya dia sendiri akan habis.
Dia membahagiakan orang lain, tapi ketika dia kehabisan cahaya kebahagiaannya, maka dia tak bisa lagi memberi cahaya tersebut pada orang lain.
Sementara mentari bersinar terang tanpa perlu takut kehabisan cahaya.
Hidup hanyalah sementara, dan kita tak tahu kapan kita mati. Yang perlu kita persiapkan apa bekal kita saja.
Saudaraku, dalam hidup itu bukan masalah win dan lose. Ketika kamu membahagiakan orang yang kau cintai, maka kamu juga harus bahagia terlebih dahulu. Kebahagiaan adalah masalah win dan win. Semua menang dan bahagia
Bila kamu tak punya apa-apa dalam hidupmu, bukan berarti kamu harus menyesalinya. Selama punya kesempatan dan kesehatan, maka tetaplah bersyukur.
Tahukah kamu apa yang paling berharga bagi orang yang sakit keras walau dirinya dipenuhi oleh harta berlimpah? Kesehatan.
Kesehatanmu adalah hal yang penting. Kesehatan bagaikan bunga yang indah di taman jiwamu, bila engkau tak merawatnya, maka dia akan layu. Saat itu kau akan menyesal telah mengabaikannya.
Saudaraku, ada saat kita terjatuh. Maka kita hanya perlu mengingat bahwa hidup itu bagaikan roda, tak selamanya kita di bawah. Bangkitlah. Lupakan masa lalu, dan hiduplah dengan kekuatan terbesarmu.
Kekuatan terbesar yang kita miliki adalah tauhid, iman kepada Allah.
Saudaraku, ketika engkau menangis, maka ingatlah bahwa engkau pernah tertawa.
Ketika engkau menderita, maka engkau juga pernah bahagia.
Dan selalulah mengingat masa apa yang kita jalani adalah hadiah.
Dan sebuah hadiah menjadi indah bila kita mensyukuri pemberian tersebut dan mempergunakan dengan sebaik-baiknya.
Allahu a'lam
Karena Dunia Tak Selebar Daun Kelor
"Kapalnya sudah pergi. Kalian terlambat." Kalimat itu membuatku menggerutu dalam
hati. Perjalanan dari Malang menuju Tanjung Perak seperti menjadi sia-sia.
Apalagi kami sudah membeli tiket untuk pulang ke kota kelahiranku setelah
melakukan pendakian selama seminggu di Semeru.
Seharusnya malam ini saya bersama ketiga sahabat, Tony, Tobo, dan Pardi sudah berada di atas kapal menuju ke kampung halaman. Mungkin sambil menikmati desir angin malam yang bermanja-manja menyelimuti tubuh kami. Tapi tidak, waktu tidak menunggu siapa-siapa. Telat sedetik ataupun sejam sama saja. Artinya kami harus menyusun rencana baru.
"Ada sih kapal. Tapi besok." Kata penjual tiket.
Kami saling berpandangan.
"Bagaimana kalau kita menginap di sini saja malam ini?" Kata Tony.
"Boleh." Kata Tobo mendukung Tony.
Memang sepertinya tidak ada pilihan lain.Menggembel di pelabuhan adalah pilihan yang paling pas buat kami saat ini. Tapi mungkin juga bukan pilihan yang pas. Kondisi pelabuhan yang penuh aliran manusia, membuatku membuka mata kewaspadaanku. Barang-barang disusun rapi terjangkau dari pandangan.
“Dulu waktu berkunjung ke sini, saya sempat bertemu dengan teman sedaerah. Saya akan mencarinya bersama Tobo, siapa tahu dia masih di sini. Mungkin kita bisa menginap di tempatnya. Kalian di sini saja.” Tony menceritakan rencananya.
Aku dan Pardi mengiyakan saja. Ide tersebut terdengar masuk akal saat ini.
***
Angin malam mulai berhembus-hembus manja di tubuhkami. Beralaskan matras, aku merebahkan diri sambil menatap langit-langit.Malam seperti bercerita padaku saat ini.
Tony telah kembali. Dengan kabar orang yang dicari tiada ketemu. Jadi kami sepakat untuk tidur saja di depan loket penjual tiket. Tak mengapa, aku mulai menikmati momen ini. Menjalani kehidupan malam di pelabuhan perak. Menjadi gembel, tidur beralaskan bumi, beratapkan langit.
“Milo hangat mas, kopi hangat. Yang hangat-hangat.” Suara seorang ibu terdengar di telingaku. Kami mengalihkan pandangan ke arahnya.
Seorang wanita berumur sekitar 35-an tahunberdiri di hadapan kami. Dia membawa termos, minuman instan dan gelas-gelas plastik. Dengan gigih dia menawarkan jualan minumannya. Walau kami telah berusaha menolaknya. dia tetap menawarkan lagi.
Mendadak aku merasa kasihan kepada wanita itu.Bayangkan, seorang wanita di tengah malam berada di pelabuhan untuk mencari rezeki. Kerasnya kehidupan bagi banyak orang tidak membuat mereka menyerah.Malah mereka semakin berusaha keras untuk berjuang dan tak menyerah.
Aku merotasikan pandanganku. Tingkah manusia bercerita tentang makna hidup kepadaku. Begitu banyak manusia berada di pelabuhan ini. Mereka semua mempunyai penderitaan hidupnya masing-masing. Namun aku bisa melihat, bagi sebagian orang penderitaan kehidupan bukanlah masalah,namun masalahnya adalah bagaimana kita memutuskan untuk menghadapinya.
Sebagian orang memilih untuk berbuat menyerah,dan sebagian lagi memilih untuk menyerah.
Dan mereka yang memilih untuk berjuang, salah satunya adalah wanita di hadapanku.
“Pesan satu mbak. Milo hangat.” Kataku.Teman-teman yang lain ikut memesan.
Wanita itu dengan cekatan menyajikan pesananku. Dalam hatiku aku merasa damai. Walau malam ini kami mengalami masalah, namun selalu ada hikmah yang dapat kami petik tentang kehidupan.Karena memang dunia tak selebar daun kelor, dan masalah dalam hidup pun tak selalu sebesar seperti apa yang kita bayangkan. Pandanglah jauh, maka kita dapat mengerti banyak orang yang mengalami masalah yang lebih besar dalam hidup kita.
Seharusnya malam ini saya bersama ketiga sahabat, Tony, Tobo, dan Pardi sudah berada di atas kapal menuju ke kampung halaman. Mungkin sambil menikmati desir angin malam yang bermanja-manja menyelimuti tubuh kami. Tapi tidak, waktu tidak menunggu siapa-siapa. Telat sedetik ataupun sejam sama saja. Artinya kami harus menyusun rencana baru.
"Ada sih kapal. Tapi besok." Kata penjual tiket.
Kami saling berpandangan.
"Bagaimana kalau kita menginap di sini saja malam ini?" Kata Tony.
"Boleh." Kata Tobo mendukung Tony.
Memang sepertinya tidak ada pilihan lain.Menggembel di pelabuhan adalah pilihan yang paling pas buat kami saat ini. Tapi mungkin juga bukan pilihan yang pas. Kondisi pelabuhan yang penuh aliran manusia, membuatku membuka mata kewaspadaanku. Barang-barang disusun rapi terjangkau dari pandangan.
“Dulu waktu berkunjung ke sini, saya sempat bertemu dengan teman sedaerah. Saya akan mencarinya bersama Tobo, siapa tahu dia masih di sini. Mungkin kita bisa menginap di tempatnya. Kalian di sini saja.” Tony menceritakan rencananya.
Aku dan Pardi mengiyakan saja. Ide tersebut terdengar masuk akal saat ini.
***
Angin malam mulai berhembus-hembus manja di tubuhkami. Beralaskan matras, aku merebahkan diri sambil menatap langit-langit.Malam seperti bercerita padaku saat ini.
Tony telah kembali. Dengan kabar orang yang dicari tiada ketemu. Jadi kami sepakat untuk tidur saja di depan loket penjual tiket. Tak mengapa, aku mulai menikmati momen ini. Menjalani kehidupan malam di pelabuhan perak. Menjadi gembel, tidur beralaskan bumi, beratapkan langit.
“Milo hangat mas, kopi hangat. Yang hangat-hangat.” Suara seorang ibu terdengar di telingaku. Kami mengalihkan pandangan ke arahnya.
Seorang wanita berumur sekitar 35-an tahunberdiri di hadapan kami. Dia membawa termos, minuman instan dan gelas-gelas plastik. Dengan gigih dia menawarkan jualan minumannya. Walau kami telah berusaha menolaknya. dia tetap menawarkan lagi.
Mendadak aku merasa kasihan kepada wanita itu.Bayangkan, seorang wanita di tengah malam berada di pelabuhan untuk mencari rezeki. Kerasnya kehidupan bagi banyak orang tidak membuat mereka menyerah.Malah mereka semakin berusaha keras untuk berjuang dan tak menyerah.
Aku merotasikan pandanganku. Tingkah manusia bercerita tentang makna hidup kepadaku. Begitu banyak manusia berada di pelabuhan ini. Mereka semua mempunyai penderitaan hidupnya masing-masing. Namun aku bisa melihat, bagi sebagian orang penderitaan kehidupan bukanlah masalah,namun masalahnya adalah bagaimana kita memutuskan untuk menghadapinya.
Sebagian orang memilih untuk berbuat menyerah,dan sebagian lagi memilih untuk menyerah.
Dan mereka yang memilih untuk berjuang, salah satunya adalah wanita di hadapanku.
“Pesan satu mbak. Milo hangat.” Kataku.Teman-teman yang lain ikut memesan.
Wanita itu dengan cekatan menyajikan pesananku. Dalam hatiku aku merasa damai. Walau malam ini kami mengalami masalah, namun selalu ada hikmah yang dapat kami petik tentang kehidupan.Karena memang dunia tak selebar daun kelor, dan masalah dalam hidup pun tak selalu sebesar seperti apa yang kita bayangkan. Pandanglah jauh, maka kita dapat mengerti banyak orang yang mengalami masalah yang lebih besar dalam hidup kita.
Jangan Hidup Untuk Menunggu Masa "Indah" Itu Datang
Sadar atau tidak, banyak orang memenjara hidupnya dengan beban masa lalu atau
impian masa depan. Terdengar seperti melodi indah ketika kita membayangkan masa
depan yang "indah", dan mungkin terdengar seperti melodi penyayat hati ketika
teringat masa lalu yang "buruk."
Memang benar, hidup yang benar-benar indah itu memang jauh dari apa yang kita alami sekarang. Anda pun siap berdebat ketika ada orang yang mengatakan bahwa hidup anda di masa lalu tak seburuk yang diceritakan. Karena memang faktanya hal-hal yang tidak menyenangkan pernah atau sedang kita alami.
Tapi ada sebuah ajaran yang mengatakan, "Bila Anda tak bisa memperoleh semuanya, maka jangan meninggalkan yang sedikit." Bila dalam hidup ini kita tidak bisa mensyukuri banyak hal, maka paling tidak kita bisa mensyukuri yang "sedikit". Sedikit dalam pandangan kita, walau sesungguhnya hal tersebut adalah hal yang besar.
"Sedikit" itu misalnya kita masih bisa bernapas. Bernapas itu mempunyai filosofi yang sangat dalam. Ketika kita menghirup udara, maka kita harus mengeluarkannya lagi untuk tetap hidup. Filosofinya, dalam hal yang paling sederhana dalam hidup kita yaitu bernapas, kita harus mengeluarkan usaha untuk mendapatkan hasil yang setimpal.
Simpelnya, bila kita masih bisa bernapas, maka tetap ada kesempatan yang diberikan Allah kepada kita untuk mengubah hidup kita.
Hal yang "sedikit', begitu dekat, namun kita selalu memikirkan kebahagiaan yang lebih "kecil." Coba ditanyakan, adakah manusia yang mau kehilangan kemampuan bernapasnya? Adakah manusia mau kehilangan penglihatannya? adakah manusia yang suka kehilangan nikmat pendengarannya? Adakah manusia yang ingin kehilangan kesehatannya?
Patokan keindahan hidup memang menjadi logika semu. Nikmat hidup dikatakan bila kita sudah punya banyak harta, namun lihatlah di sudut sana banyak orang-orang kaya yang juga kebingungan karena tidak memperoleh kebahagiaan. Nikmat hidup dikatakan bila sudah punya jabatan yang tinggi, namun lihatlah di sudut sana banyak pejabat yang tidak bisa menikmati hidupnya karena banyak masalah yang harus dipertanggungjawabkan. Katanya nikmat hidup bila sudah terkenal, tapi mengapa yang terkenal malah berangan-angan kembali ke kehidupan ketika tak seorang pun mengenal mereka?
Karena sebenarnya, kebahagiaan itu ada pada rasa syukur. Bila kita terus menerus bersyukur, maka kebahagiaan kita akan bertambah.
Jangan hidup demi masa depan yang lebih "indah". Karena yakinlah, keindahan itu berada dalam rasa syukur kita, bukan dalam impian-impian semu yang mungkin kita tak pernah akan kita dapatkan.
Dan bila kita tak pernah mendapatkan kebahagiaan kita, maka apakah selamanya masa "indah" itu tidak ada?
Karena Tuhan itu Maha Adil, maka kebahagiaan tak diletakkan pada apa yang kita peroleh, namun sejauh mana kita bersyukur pada 'sekecil' apapun hal yang kita miliki
Allahu a'lam
Memang benar, hidup yang benar-benar indah itu memang jauh dari apa yang kita alami sekarang. Anda pun siap berdebat ketika ada orang yang mengatakan bahwa hidup anda di masa lalu tak seburuk yang diceritakan. Karena memang faktanya hal-hal yang tidak menyenangkan pernah atau sedang kita alami.
Tapi ada sebuah ajaran yang mengatakan, "Bila Anda tak bisa memperoleh semuanya, maka jangan meninggalkan yang sedikit." Bila dalam hidup ini kita tidak bisa mensyukuri banyak hal, maka paling tidak kita bisa mensyukuri yang "sedikit". Sedikit dalam pandangan kita, walau sesungguhnya hal tersebut adalah hal yang besar.
"Sedikit" itu misalnya kita masih bisa bernapas. Bernapas itu mempunyai filosofi yang sangat dalam. Ketika kita menghirup udara, maka kita harus mengeluarkannya lagi untuk tetap hidup. Filosofinya, dalam hal yang paling sederhana dalam hidup kita yaitu bernapas, kita harus mengeluarkan usaha untuk mendapatkan hasil yang setimpal.
Simpelnya, bila kita masih bisa bernapas, maka tetap ada kesempatan yang diberikan Allah kepada kita untuk mengubah hidup kita.
Hal yang "sedikit', begitu dekat, namun kita selalu memikirkan kebahagiaan yang lebih "kecil." Coba ditanyakan, adakah manusia yang mau kehilangan kemampuan bernapasnya? Adakah manusia mau kehilangan penglihatannya? adakah manusia yang suka kehilangan nikmat pendengarannya? Adakah manusia yang ingin kehilangan kesehatannya?
Patokan keindahan hidup memang menjadi logika semu. Nikmat hidup dikatakan bila kita sudah punya banyak harta, namun lihatlah di sudut sana banyak orang-orang kaya yang juga kebingungan karena tidak memperoleh kebahagiaan. Nikmat hidup dikatakan bila sudah punya jabatan yang tinggi, namun lihatlah di sudut sana banyak pejabat yang tidak bisa menikmati hidupnya karena banyak masalah yang harus dipertanggungjawabkan. Katanya nikmat hidup bila sudah terkenal, tapi mengapa yang terkenal malah berangan-angan kembali ke kehidupan ketika tak seorang pun mengenal mereka?
Karena sebenarnya, kebahagiaan itu ada pada rasa syukur. Bila kita terus menerus bersyukur, maka kebahagiaan kita akan bertambah.
Jangan hidup demi masa depan yang lebih "indah". Karena yakinlah, keindahan itu berada dalam rasa syukur kita, bukan dalam impian-impian semu yang mungkin kita tak pernah akan kita dapatkan.
Dan bila kita tak pernah mendapatkan kebahagiaan kita, maka apakah selamanya masa "indah" itu tidak ada?
Karena Tuhan itu Maha Adil, maka kebahagiaan tak diletakkan pada apa yang kita peroleh, namun sejauh mana kita bersyukur pada 'sekecil' apapun hal yang kita miliki
Allahu a'lam
Anda Sendiri Yang Memilihnya, Akuilah!
Saya selalu mengingat kata-kata atasannya atasan saya ketika beliau berkunjung
ke kantor. Beliau berpesan, "Kita (mungkin) menjalani lebih banyak kehidupan di
kantor daripada kehidupan di luar, maka ciptakanlah ruang kantor menjadi rumah
yang nyaman bagi kalian."
Kantor atau tempat kita bekerja adalah rumah kedua kita. Di sini kita menjalani kehidupan kita sehari-hari, mencari nafkah yang halal, dan berinteraksi dengan beragam karakter yang berbeda. Dalam sehari (di luar jam tidur dan hari libur), seseorang bisa jadi menghabiskan hidupnya lebih banyak di kantor.
Jadi apa jadinya bila seseorang membenci pekerjaannya?
Sepertinya dan seingat saya pernah membaca sebuah survey yang menyatakan hanya 5 dari seratus orang yang benar-benar bekerja di bidang yang dia sukai. Sisanya 95 % bekerja di bidang yang mereka (cenderung) tidak sukai.
Berbagai faktor yang kompleks membuat seseorang tidak menyukai pekerjaan mereka. Dan uang terkadang tidak menjadi faktor utama seseorang meninggalkan pekerjaan yang tidak disukai. Ada berbagai faktor yang bermain sehingga membuat kita ingin waktu bekerja cepat-cepat selesai, Senin tidak pernah datang, dan sabtu/minggu cepat-cepat datang.
Lalu, apakah yang bisa kita lakukan bila perasaan tidak suka pada pekerjaan itu datang?
Mungkin salah satu cara yang paling efektif adalah melihat dari sudut pandang pengangguran dan pengemis. Coba kita pejamkan mata kita, dan bayangkanlah bila kita berada di posisi yang berlawanan dari posisi kita sekarang. Ingatlah, banyak orang yang tak bekerja yang begitu ingin berada di posisi orang yang bekerja dan penghasilan tetap. Serta bayangkanlah, betapa beruntungnya kita tak menjadi seorang pengemis untuk mendapatkan nafkah yang halal.
Setelah itu kita berusaha mencari sebab-sebab kecil mengapa kita tidak menyukai pekerjaan kita. Semua insya Allah ada jalan keluarnya. Bila kita tidak menyukai pekerjaan karena lingkungan kerja yang menyenangkan, mulailah membangun rumah yang nyaman bagi kita.
Setiap ruang kerja, walaupun sekecil apapun, mempunyai hal yang kita sukai. Seperti seseorang yang menyukai menulis, mungkin dia bisa menyempatkan diri menulis di media-media internal dan coba-coba mengikuti lomba yang diadakan instansinya . Tujuannya agar ada penyegaran dalam pekerjaannya.
Seseorang yang menyukai olahraga, bisa mengikuti klub olahraga di kantornya. Seseorang yang menyukai kegiatan-kegiatan sosial, mungkin bisa membuat kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan sosial di kantornya.
Mulailah menyukai hal-hal yang kecil, misalnya saja atasan yang baik, teman kerja yang ramah, pekerjaan yang masih memberi kita kebebasan untuk beribadah, dan kantin kantor yang dekat dan enak. Mungkin juga, komputer yang belum pernah hang, lelucon-lelucon dari rekan kerja, toilet yang nyaman. Mulailah berhitung hal yang baik dan mencoba mengatasi hal yang buruk.
Pada akhirnya, seperti status seorang teman FB, "jangan pernah meludah di tempat kamu minum". Filosofi itu mengajarkan bahwa jangan karena kita tidak menyukai pekerjaan kita, malah membuat lingkungan kerja kita menjadi buruk bagi orang lain atau lebih parah menjelek-jelekkan tempat kita bekerja.
Bila kita sudah benar-benar tidak bisa menyukai pekerjaan kita bahkan menjelek-jelekkan pekerjaan kita, maka saat itu kita harus memutuskan untuk tidak mengambil gaji kita di awal bulan dan berjuang untuk pekerjaan yang kita sukai.
Setidaknya itu lebih terhormat, karena sesungguhnya pekerjaan adalah pilihan hidup kita juga.
Allahu a'lam
Kantor atau tempat kita bekerja adalah rumah kedua kita. Di sini kita menjalani kehidupan kita sehari-hari, mencari nafkah yang halal, dan berinteraksi dengan beragam karakter yang berbeda. Dalam sehari (di luar jam tidur dan hari libur), seseorang bisa jadi menghabiskan hidupnya lebih banyak di kantor.
Jadi apa jadinya bila seseorang membenci pekerjaannya?
Sepertinya dan seingat saya pernah membaca sebuah survey yang menyatakan hanya 5 dari seratus orang yang benar-benar bekerja di bidang yang dia sukai. Sisanya 95 % bekerja di bidang yang mereka (cenderung) tidak sukai.
Berbagai faktor yang kompleks membuat seseorang tidak menyukai pekerjaan mereka. Dan uang terkadang tidak menjadi faktor utama seseorang meninggalkan pekerjaan yang tidak disukai. Ada berbagai faktor yang bermain sehingga membuat kita ingin waktu bekerja cepat-cepat selesai, Senin tidak pernah datang, dan sabtu/minggu cepat-cepat datang.
Lalu, apakah yang bisa kita lakukan bila perasaan tidak suka pada pekerjaan itu datang?
Mungkin salah satu cara yang paling efektif adalah melihat dari sudut pandang pengangguran dan pengemis. Coba kita pejamkan mata kita, dan bayangkanlah bila kita berada di posisi yang berlawanan dari posisi kita sekarang. Ingatlah, banyak orang yang tak bekerja yang begitu ingin berada di posisi orang yang bekerja dan penghasilan tetap. Serta bayangkanlah, betapa beruntungnya kita tak menjadi seorang pengemis untuk mendapatkan nafkah yang halal.
Setelah itu kita berusaha mencari sebab-sebab kecil mengapa kita tidak menyukai pekerjaan kita. Semua insya Allah ada jalan keluarnya. Bila kita tidak menyukai pekerjaan karena lingkungan kerja yang menyenangkan, mulailah membangun rumah yang nyaman bagi kita.
Setiap ruang kerja, walaupun sekecil apapun, mempunyai hal yang kita sukai. Seperti seseorang yang menyukai menulis, mungkin dia bisa menyempatkan diri menulis di media-media internal dan coba-coba mengikuti lomba yang diadakan instansinya . Tujuannya agar ada penyegaran dalam pekerjaannya.
Seseorang yang menyukai olahraga, bisa mengikuti klub olahraga di kantornya. Seseorang yang menyukai kegiatan-kegiatan sosial, mungkin bisa membuat kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan sosial di kantornya.
Mulailah menyukai hal-hal yang kecil, misalnya saja atasan yang baik, teman kerja yang ramah, pekerjaan yang masih memberi kita kebebasan untuk beribadah, dan kantin kantor yang dekat dan enak. Mungkin juga, komputer yang belum pernah hang, lelucon-lelucon dari rekan kerja, toilet yang nyaman. Mulailah berhitung hal yang baik dan mencoba mengatasi hal yang buruk.
Pada akhirnya, seperti status seorang teman FB, "jangan pernah meludah di tempat kamu minum". Filosofi itu mengajarkan bahwa jangan karena kita tidak menyukai pekerjaan kita, malah membuat lingkungan kerja kita menjadi buruk bagi orang lain atau lebih parah menjelek-jelekkan tempat kita bekerja.
Bila kita sudah benar-benar tidak bisa menyukai pekerjaan kita bahkan menjelek-jelekkan pekerjaan kita, maka saat itu kita harus memutuskan untuk tidak mengambil gaji kita di awal bulan dan berjuang untuk pekerjaan yang kita sukai.
Setidaknya itu lebih terhormat, karena sesungguhnya pekerjaan adalah pilihan hidup kita juga.
Allahu a'lam
Mata Sebening Embun
Perhatikanlah diri Anda. Dan cobalah hitung-hitung nikmat yang telah Allah SWT
berikan kepada Anda. Maka tak akan berhenti Anda menghitungnya, karena memang
nikmat tersebut begitu banyaknya.
Suatu nikmat yang sangat besar bagi kita adalah mata. Mata merupakan jendela dunia, itulah kata orang bijak. Dengan matalah kita bisa melihat dunia. Mata begitu kecil, namun bisa melihat banyak hal di dunia ini. Bukankah itu suatu keajaiban, bila dengan mata yang kecil kita bisa melihat sesuatu yang besarnya berkali-kali lipat daripada mata kita?
Cobalah tarik nafas anda dalam-dalam dan tutuplah kedua kelopak mata Anda. Sekarang coba rasakan bagaimana Anda melihat dengan mata yang tertutup, bisakah? Tentu saja tidak bisa. Kalau diibaratkan dunia ini adalah pengalaman, dan pengetahuan, kita tak akan bisa mengetahuinya bila kita tak pernah merasakannya. Seperti itulah hidup, kita harus terus membuka mata, agar tahu bahwa hidup ini indah.
Berjalanlah, dan bukalah mata anda. Betapa banyak orang yang lebih menderita dari anda. Anda selama ini berpikir bahwa penderitaan yang dialami adalah yang paling besar. Mungkin saja karena anda lupa membuka mata. Anda lupa di ujung dunia sana ada orang yang menangis, berlinang air mata, mengharap hidup yang anda jalani sekarang. Anda lupa, betapa banyak orang yang iri dengan kehidupan anda yang jauh lebih mudah dari mereka. Banyak orang yang sakit berharap kesehatan yang kita miliki, banyak orang yang kehilangan kemerdekaan, berharap kebebasan seperti yang kita miliki, banyak orang lapar, berharap makanan yang kita makanan.
Anda mungkin melupakannya, karena anda selalu merasa anda-lah yang paling menderita. Tapi tidak, sama sekali tidak.
Karena suatu saat, mata ini akan tertutup, dan saat itu kita tak akan merasakan indahnya dunia ini. Maka nikmatilah saat-saat di mana Tuhan menanugerahi waktu buat kita untuk hidup. Bersyukurlah, dan pandanglah dari sudut hidup yang berbeda melalui mata anda yang sebening embun
Allahu a'lam
Suatu nikmat yang sangat besar bagi kita adalah mata. Mata merupakan jendela dunia, itulah kata orang bijak. Dengan matalah kita bisa melihat dunia. Mata begitu kecil, namun bisa melihat banyak hal di dunia ini. Bukankah itu suatu keajaiban, bila dengan mata yang kecil kita bisa melihat sesuatu yang besarnya berkali-kali lipat daripada mata kita?
Cobalah tarik nafas anda dalam-dalam dan tutuplah kedua kelopak mata Anda. Sekarang coba rasakan bagaimana Anda melihat dengan mata yang tertutup, bisakah? Tentu saja tidak bisa. Kalau diibaratkan dunia ini adalah pengalaman, dan pengetahuan, kita tak akan bisa mengetahuinya bila kita tak pernah merasakannya. Seperti itulah hidup, kita harus terus membuka mata, agar tahu bahwa hidup ini indah.
Berjalanlah, dan bukalah mata anda. Betapa banyak orang yang lebih menderita dari anda. Anda selama ini berpikir bahwa penderitaan yang dialami adalah yang paling besar. Mungkin saja karena anda lupa membuka mata. Anda lupa di ujung dunia sana ada orang yang menangis, berlinang air mata, mengharap hidup yang anda jalani sekarang. Anda lupa, betapa banyak orang yang iri dengan kehidupan anda yang jauh lebih mudah dari mereka. Banyak orang yang sakit berharap kesehatan yang kita miliki, banyak orang yang kehilangan kemerdekaan, berharap kebebasan seperti yang kita miliki, banyak orang lapar, berharap makanan yang kita makanan.
Anda mungkin melupakannya, karena anda selalu merasa anda-lah yang paling menderita. Tapi tidak, sama sekali tidak.
Karena suatu saat, mata ini akan tertutup, dan saat itu kita tak akan merasakan indahnya dunia ini. Maka nikmatilah saat-saat di mana Tuhan menanugerahi waktu buat kita untuk hidup. Bersyukurlah, dan pandanglah dari sudut hidup yang berbeda melalui mata anda yang sebening embun
Allahu a'lam
Jadilah sahabat bagi Dirimu Sendiri
Ditinggalkan dan meninggalkan adalah kejadian yang silih berganti dalam
kehidupan manusia. Terkadang persahabatan yang terjalin lama, tiba-tiba bisa
menghilang karena berbagai hal. Baik terpisahkan jarak, waktu bahkan mungkin
hal-hal yang tak terduga, misalnya pengkhianatan, kebohongan.
Namun sesungguhnya ada satu sahabat yang tak akan pernah meninggalkanmu, yaitu dirimu sendiri.
Aneh, terkadang seseorang menolak untuk membahagiakan dirinya dengan banyak alasan. Alasannya bisa jadi karena dia takut dengan membahagiakan dirinya, maka dia akan menyakiti orang lain.
Hidupnya pun menjadi lilin, bersinar bagi orang lain, namun bagian dari dirinya hilang satu persatu. Dan di saat dia sudah benar-benar kehabisan semangat, apinya pun meredup. Saat itu sejarah mencatat, tak ada seorang pun yang bahagia, baik dirinya maupun orang lain.
Jadilah mentari, jangan jadi lilin.
Engkau bukan lilin. Sahabatmu (yaitu jiwamu sendiri) punya hak untuk berbahagia. Tiada alasan untuk menunda kebahagiaan. Lakukanlah hal-hal yang kau sukai dan impi-impikan selagi itu bukan hal yang salah.
Kamu berhak untuk mendapatkan yang terbaik bagi dirimu tanpa terpengaruh pendapat orang lain. Kamu berhak membuat orang lain bahagia bukan karena kamu harus, tapi karena itu memang bagian dari karaktermu.
Yakinlah, saat kamu terjatuh, sahabatmu (yaitu jiwamu sendiri) yang akan menjadi bagian panjang dari proses penyembuhanmu. Dia akan setia menemanimu.
Tetaplah membahagiakan sahabatmu, hingga kelak akhir itu tiba, kamu akan tersenyum dan berkata :
"Tuhan, aku telah menjalani hidupku dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Terima kasih atas hidup yang indah ini."
Allahu a'lam
Namun sesungguhnya ada satu sahabat yang tak akan pernah meninggalkanmu, yaitu dirimu sendiri.
Aneh, terkadang seseorang menolak untuk membahagiakan dirinya dengan banyak alasan. Alasannya bisa jadi karena dia takut dengan membahagiakan dirinya, maka dia akan menyakiti orang lain.
Hidupnya pun menjadi lilin, bersinar bagi orang lain, namun bagian dari dirinya hilang satu persatu. Dan di saat dia sudah benar-benar kehabisan semangat, apinya pun meredup. Saat itu sejarah mencatat, tak ada seorang pun yang bahagia, baik dirinya maupun orang lain.
Jadilah mentari, jangan jadi lilin.
Engkau bukan lilin. Sahabatmu (yaitu jiwamu sendiri) punya hak untuk berbahagia. Tiada alasan untuk menunda kebahagiaan. Lakukanlah hal-hal yang kau sukai dan impi-impikan selagi itu bukan hal yang salah.
Kamu berhak untuk mendapatkan yang terbaik bagi dirimu tanpa terpengaruh pendapat orang lain. Kamu berhak membuat orang lain bahagia bukan karena kamu harus, tapi karena itu memang bagian dari karaktermu.
Yakinlah, saat kamu terjatuh, sahabatmu (yaitu jiwamu sendiri) yang akan menjadi bagian panjang dari proses penyembuhanmu. Dia akan setia menemanimu.
Tetaplah membahagiakan sahabatmu, hingga kelak akhir itu tiba, kamu akan tersenyum dan berkata :
"Tuhan, aku telah menjalani hidupku dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Terima kasih atas hidup yang indah ini."
Allahu a'lam
Langganan:
Postingan (Atom)