Kamis, 20 Desember 2012

Houtman Z Arifin- Office Boy s.d. Vice President Citibank

“Hidup bukan hanya tentang aku, tetapi juga tentang kita. Hidup itu juga tentang orang tuamu, tentang keluargamu, tentang negerimu, tentang agamamu dan juga tentang orang-orang di sekitarmu. Buat apa kau ada, kalau keberadaanmu manfaatnya tidak dirasakan oleh mereka.”

“Hidupmu dikatakan hebat kalau kau bisa menghebatkan orang-orang lemah. Doa mereka tiada bersekat, oleh karena itulah kau harus mendekat. Kebahagiaan di dalam dirimu, itu ada di dalam hati dan pikiranmu. Sementara di luar dirimu, kebahagiaan itu ada tatkala kau dekat dengan orang-orang yang perlu kau berdayakan.”

“Martabatmu bukan ditentukan oleh banyaknya sertifikat dan bintang jasa di pundak dan dadamu. Tetapi ditentukan oleh seberapa kuat namamu ada di hati orang-orang di sekitarmu. Pujian sejati, bukanlah dalam bentuk gemuruh tepuk tangan tiada henti. Tetapi justru ada di dalam hati, ia keluar dalam bentuk doa di saat-saat sepi.”

Senin, 17 September 2012

Ekspresi Penyesalan….

Di jalanan, ada banyak orang yang melakukan sesuatu baru memikirkan apa akibatnya. Ada yang memundurkan kendaraan sambil kemudian memikirkan apa yang harus dilakukannya sambil memundurkan kendaraannya. Ada sebagian kita yang menyeberang sambil kemudian memikirkan apa yang akan dia lakukan di tengah ruas jalan. Ada yang asyik mengendarai kendaraan sambil telepon atau sms, sambil tak menyediakan alternative tindakan yang akan dilakukan jika ada peristiwa mendadak.

Sebenarnya kecerobohan ini bukan tipikal sebagian kecil di antara kita. Dan kecerobohan semacam itu juga bukan cuma ada di jalanan.

Cahaya ilmu adalah kebutuhan.

Saya pernah menyusul sebuah kijang. Saya dan istri terpaksa menambah kecepatan untuk menyusulnya. Pasalnya, kami melihat pintu kiri depan terbuka. Maksud saya tertutup tapi terbuka. Jika ada yang menyandarkan badannya, pasti orang itu akan terlempar ke luar, kecuali Allah berkehendak lain. Aku sejajarkan motorku untuk memastikan kondisi pintu kiri depan itu.

Kami berkesimpulan, pintu itu memang tak tertutup dengan sempurna. Kami coba melihat kondisi penumpang dan sopir. Mengejutkan. Di belakang kemudi, ada ibu ibu tua. Saya sebut tua, karena kerudung, kaca mata, caranya mengikatkan rambut dan beberapa pernik menunjukkan pilihan style orang tua. Style nenek nenek. Di sebelahnya, ibu yang lebih tua. Bungkuk dan lemah. Di barisan bangku tengah, ada 3 orang. Dua perempuan dan satu laki laki. Semuanya tua. Mereka tak pedulikan kode kami. Kami mulai main ‘kasar’.

Kami mulai membunyikan bel dan melambai lambaikan tangan. Akhirnya mereka tahu. Dan pintupun ditutup dengan sempat kami dengar kata kata saling menyalahkan.

Sebenarnya kecerobohan ini bukan tipikal orang tua.

Dan bukan cuma ada di jalanan.

Ada banyak kecerobohan yang kita lakukan. Semuanya berpangkal dari ketidakmengertian. Ada banyak kebodohan dalam hidup keseharian ini. Ada kemalasan karena dipicu kebodohan. Ada kesombongan yang saham terbesarnya adalah kebodohan. Ada kecerobohan yang penyebab utamanya adalah kebodohan. Ada banyak hal bodoh kita lakukan karena kebebalan kita.
Anda suka melihat wajah penyesalan? Saya suka belajar dari wajah wajah penuh penyesalan. Saya hafal ekspresi penyesalan anak saya yang meletakkan buku gambarnya di lantai dan karyanya menjadi bulan bulanan adik kecilnya. Ada wajah penyesalan kakak yang khas ketika gelas dia terjatuh karena candaannya di meja makan. Ada wajah penyesalan Aisyah ketika dia menggoda adik sampai menyinggung harga diri adik dan adik marah besar. Aku bahkan hafal ekspresi mereka. Aku juga hafal ekspresi penyesalan istriku. Mereka punya wajah penyesalan yang khas. Mereka juga hafal ekspresi penyesalanku.

Agak sulit melukiskan wajah penyesalan itu. Tapi ada campuran bodoh, ada unsur sedang berpikir, ada unsur sedang mencoba memperbaiki keadaan, ada sedikit campuran optimis yang dicampurkan dengan hal keraguan dan kekhawatiran. Dan memang sebagian besar ekspresi penyesalan adalah ekspresi yang tak terlukiskan dengan kata kata.

Aku kerap mengingatkan mereka pada ekspresi penyesalan mereka jika peringatan peringatanku mereka abaikan. ‘Nduk, apa aku harus melihat ekspresi begini?’, sergahku sambil menirukan ekspresi mereka. Biasanya kami menertawakan ekspresi itu.

Selama masih ada nafas di badan, selama itu penyesalan masih bersifat relatif dan tak permanen. Masih ada kesempatan memperbaiki diri. Yang tak terbayang adalah ekspresi penyesalan –di hadapanNYA- di sana kelak. Di saat tak ada kesempatan untuk memperbaiki diri dan di saat tak ada lagi yang membantu kita. Di saat tak lain bisa kita mendayagunakan harta dan semua asset yang kita miliki.

Penyesalan itu –penyesalan di hari hadapanNya- pasti khas dan akan sangat ekstrem. Rasanya akan ada campuran kebodohan dan penyesalan yang sangat ekstrem. Entah masih akan adakah unsur berpikir di sana? Entah masihkah ada unsur upaya memperbaiki keadaan. Entah dimana letak optimisme di hari itu dan pasti akan ada banyak sekali ekspresi yang tak terlukiskan dengan kata kata.

Selama masih ada kesempatan, penyesalan bukanlah sarana untuk membunuh semangat dan mengabaikan peluang perbaikan. Ia adalah sarana untuk belajar. Maka, cahaya ilmu adalah kebutuhan kita semua.

Tentu kita tak ingin tampil bodoh di sana kelak. Tentu kita tak ingin menyesal. Karena di sana bukan sekadar soal gelas yang pecah karena kita tak sedang sungguh sungguh berpikir. Penyesalan di sana bukan selevel dengan pecahnya kaca spion karena kecerobohan memundurkan mobil. Di sana, penyesalan tentu lebih dahsyat dibandingkan penyesalan karena seseorang marah karena guyonan keterlaluan kita. Pasti lebih dahsyat dari semua penyesalan di dunia ini. Agar tak salah tingkah di sana, belajar adalah kata kuncinya.

Selama masih ada kesempatan, penyesalan bukanlah sarana untuk membunuh semangat dan mengabaikan peluang perbaikan. Ia adalah sarana untuk belajar. Maka, cahaya ilmu adalah kebutuhan kita semua.



oleh: ekonov
sumber: forum salahuddin kpdjp
Andai kau selalu disampingku, wahai teman sejati. hati ini kan slalu tenang di malam hari, saat ku pulang dari mengarungi panasnya dunia yang membakar kepala dan kejamnya dunia yang menyesakkan dada. hati ini kan kembali tenang saat pulang dengan disambut oleh nasihat,semangat,dan kelembutan akhlaq ukhrowi melalui dzikir,tilawah, dan qiyamullail teman sejati dan buah hati Rumahku surgaku, harapanku yang semakin jauh. tempat keimanan dan semangat, kembali terisi untuk hadapi amanah diluar sana yang meremukkan pundak dan punggungku. harapanku......
Ra sah dirasakke...

Namanya Pak Dedet. Aku mengenalnya karena hampir tiap Ahad sering bersama naik kereta Senja Utama Jogja (SenJo) dari Jogja ke Jakarta. Bila dengan teman-teman ‘laskar senja’ DJP kebersamaan itu akan berakhir di stasiun Senen, maka bersama pak Dedet kami masih harus meneruskan perjuangan menuju tempat kerja yang kebetulan satu arah. Masih sekitar 100 km lagi jarak yang harus kami tempuh. Beliau bekerja di suatu kawasan industri daerah Cilegon, sementara aku di Serang. Bila aku mengejar absen sampai jam 7.30, beliau jam 8.00. Untuk lebih mempercepat perjalanan, kami biasanya naik taksi dari Senen ke kebun jeruk. Lumayan ongkos bisa dibagi dua. Kemudian subuhan di musholla kantor Jasa Marga Kebun Jeruk, sebelum meneruskan perjalanan kembali dengan bis/elf jurusan ke Merak. Tak terasa minggu, berganti bulan, berganti tahun kami lalui bersama. Bagi Pak Dedet tahun ini merupakan tahun ke-17 beliau nglaju, sebagai PJKA = Pulang Jumat Kembali Ahad (meski seringkali kalau ditanya, dijawab dengan nada canda ‘baru 17 tahun’, beda dengan aku yang ‘sudah 4 tahun’) . Suatu saat aku pernah bertanya kepadanya apa yang menyebabkan mampu bertahan selama 17 tahun nglaju. “ Ra sah dirasakke mas..” jawabnya sambil tersenyum. Meski mungkin itu hanya sekedar jawaban penghibur diri saja, tapi rasanya aku perlu merenungkan jawaban itu.

Ra sah dirasakke (sebenarnya dari bahasa Jawa ora usah dirasakke = tidak usah dirasakan) ternyata bisa menjadi peluruh segenap kepenatan, duka dan lara yang dirasa. Meski terkadang itu harus dilalui dengan tubuh yang terbaring beberapa hari menahan sakit, ketinggalan kereta karena macet di Tol, kehabisan tiket untuk pulang, dan tentu yang utama menahan dahaga kerinduan pada istri & anak-anak tercinta bila tidak bisa pulang. Ra sah dirasakke juga mampu membuat kami tetap dapat menatap ke depan pada tujuan atas ribuan kilometer jejak langkah yang telah kami tempuh selama ini. Disini berpadu energi & cinta yang menyuluh asa agar tetap berpijar, menjaganya jangan sampai padam. Diatas itu semuanya kami tetap berharap pada Ilahi, agar semua desah nafas & gerak raga ini menjadi tambahan nilai ibadah di sisi-Nya. Sampai suatu malam, di hari rabu bulan lalu “Selamat ya Makassar, Makassar!” seru seorang kawan ketika menelponku. Aku masih termangu tidak percaya. “ Cek SIKKA!” Lalu dia sebutkan suatu amanah baru, di kantor yang benar-benar baru. Aku masih tidak percaya. Inikah saatnya meninggalkan bumi Banten, menuju tempat perantauan baru? Lalu sms-sms berdatangan, mengabarkan hal yang sama. Waktu menjadi terasa cepat berpacu. Berkelebat dalam benak, wajah istriku. Anak-anakku. Teman-teman kantor. Orang-orang yang selama ini telah membersamaiku. Lalu meloncat ke Pulau Sulawesi. Lalu Makassar. Lalu Bandara Sultan Hasanuddin. Lalu.. aku teringat Pak Dedet. Aku perlu mengabarkannya juga akan hari-hari ke depan yang tidak bisa membersamainya lagi..

Akhirnya, suatu malam di hari ahad, di Bandara Adi Sutjipto Selembar tiket pesawat menuju Makassar telah berada dalam genggamanku. Aku duduk di ruang tunggu. Tempat,yang rasanya untuk hari-hari ke depan akan sering aku singgahi. Tempat yang tidak aku temui lagi ‘nasi kucing’ favoritku seperti halnya di angkringan Stasiun Tugu. Tempat yang tidak lagi menawarkan ‘gelaran koran’. Tempat dengan orang-orang yang sungguh berbeda. Sampai sebuah pengumuman menyentakku, bahwa pesawat yang akan aku tumpangi mengalami keterlambatan. Kudengar gumaman orang-orang menggerutu. Ah.. Ra sah dirasakke.. Kualihkan perhatian pada layar kaca, ada MU versus Everton yang masih berlangsung seru.. oleh: sudero sumber: forum salahuddin kpdjp
PERTEMANAN ITU TAK ABADI

Apa yang abadi di dunia ini? Tidak ada. Semua makhluq itu fana. Jika semuanya fana, maka semua ikatan makhluq itu juga akan ada masanya untuk berakhir. Sederhana saja. Sederhana, tapi tak kadang bermakna kepedihan. Ikatan Itu Tak Abadi.

Pertemanan itu tak abadi. Seseorang yang menjadi teman baik kita di hari ini, belum tentu akan sebaiknya. Biasa saja. Sebagaimana yang bisa terjadi pada diri kita yang baik bagi seseorang di hari ini namun bisa menjadi sosok yang sangat buruk bagi orang itu di waktu-waktu selanjutnya. Keburukan karena pertemanan yang ektrem di masa lalu kerap mengundang penyesalan di hari-hari akhir ketika pertemanan itu sudah berakhir. Kejahatan atas nama kesetiakawanan di masa lalu kerap menjadi lembaran kelam bagi banyak orang. Kebodohan yang dilakukan atas nama kesetiakawanan juga kerap menjadi bagian yang enggan diungkit oleh sebagian kita di hari-hari penyesalan.

Pertemanan itu tak abadi. Bisnis itu soal kepercayaan dan kenyamanan. Itu juga tak abadi. Kerjasama bisnis itu tak abadi. Ia ada ketika menguntungkan dan dia menjadi sirna ketika ada pengkhianatan. Allah juga menyingkir dari perikatan bisnis yang memuat pengkhianatan. Ikatan bisnis itu tak abadi. Kolega kerja itu soal pergiliran. Itu juga tak abadi. Pindah, mutasi, penempatan, reorganisasi, dan lainnya bisa mengubah sebuah perikatan kerja. Memang akan selalu ada semangat untuk melanggengkan ikatan itu.

Tapi zaman –bagaimanapun- tak akan membuat perikatan itu sama persis dengan ikatan yang pernah ada. Upaya untuk tetap langgeng itu sebaiknya difahami sebagai sebuah upaya manusiawi. Tapi, ikatan kerja itu tak abadi. Pernikahan juga tidak abadi. Ada banyak hal yang membuat perikatan ini berakhir. Banyak sekali. Pernikahan juga tak abadi. Perikatan dunia itu perikatan dunia. Tapi, kita bisa mengharapkan kebaikan dunia dan akherat dari perikatan dunia yang ada ini. Kita bisa berharap pertemanan yang ada mengantarkan kita ke surgaNya, karena sebagian wajah kita di akherat adalah wajah pertemanan kita di dunia. Kita berharap ikatan bisnis, ikatan kerja, ikatan pernikahan dan semua perikatan itu membawa manfaat bagi kita –bukan Cuma di dunia- dunia dan akherat. Memahami watak partner itu agak mudah ketika kita memiliki visi ukhrawi. Perikatan itu menjadi rumit ketika kita tidak berorientasi akherat. Partner kita akan mudah terlihat rakus jika kita juga rakus. Partner perikatan kita akan sangat terlihat sombong dalam kacamata kesombongan kita. Kawan kita mudah terlihat egois dalam pandangan egoisme kita. Dan istri kita Cuma mau enaknya sendiri –terutama- ketika kemauan kita tidak diikutinya. Perikatan itu rumit jika kita miskin cita rasa akherat.

Aku pernah menerima senyum indah agen asuransi, tukang jualan makanan, pelayan sebuah entitas bisnis, dan lain-lain. Dan Alhamdulillah, aku juga pernah menyaksikan bagaimana perubahan mereka ketika ikatan dan kepentingannya selesai. Mudah. Jika aku ingin mereka yang semacam ini tersenyum lagi, aku tinggal memenuhi maunya. Dan jika aku tak ingin memenuhi kemauannya, aku Cuma tinggal tak berharap pada senyumnya. Maka parade sakit hati dan caci maki karena kepentingannya tak terpenuhi itu bukan hal istimewa bagiku. Itu biasa. Kemarahan yang dipamerkan karena kesukaannya terusik itu biasa. Makian yang dibombardir karena pilihannya tak aku pilih itu biasa.

Pameran penyesalan yang ekspresif karena pernah bersama itu juga hal yang tak boleh sangat menggores hatiku. Senang karena kepentingannya aku ikuti dan tak suka karena kepentingannya aku abaikan itu biasa. Aku juga begitu. Cuma soal jangkauan pandangan saja yang membedakan. Sebaliknya, akan sangat sulit melepas mereka yang sangat kita sukai dari sebuah perikatan. Memang memutus dan melepas pihak yang kita cintai itu sangat tak mudah. Semakin kuat cinta kita maka mungkin akan semakin sulit untuk mengakhiri ikatan itu. Semakin suka kita dengan sebuah ikatan maka semakin sukar kita mengurai ikatan itu. Dan semakin banyak manfaat atau semakin kita sukai manfaat dari sebuah perikatan, maka semakin sakit kita jika tiba saatnya untuk melepas ikatan itu.

Semoga Allah memudahkan urusan perikatan yang substansinya sederhana namun kerap mengaduk-aduk emosi ini. Aamiin. Besok, insyaallah akan belanja ke fulan, agar senyumnya kembali mengembang untukku. Besok, aku akan mencoba menyapanya. Mungkin sudah agak lama aku tak menyapanya. Besok, insyaallah, aku akan mencoba mengajaknya, mungkin ajakanku bisa menyejukkan hatinya. Insyaallah. Ikatan itu tak ada yang benar-benar abadi.

Kuningan, 13 September 2012
oleh: ekonov
sumber: forum salahuddin kpdjp

Senin, 03 Januari 2011

Surat Untuk Firman

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?
Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.
Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

Source : http://itonesia.com/surat-untuk-firman/

Jumat, 31 Desember 2010

Menginjak bumi...

Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid : "Saya telah menyaksikan langsung bagaimana orang-orang yang berada dalam komunitas orang-orang baik kemudian mengundurkan diri dari lingkungan itu. Ia kecewa dan putus asa karena keinginannya tidak ia peroleh. Selanjutnya orang itu mulai tidak melakukan amar ma'ruf, lalu meninggalkan shalat wajib dan mencukupkan diri hanya shalat Jum'at saja. Tak sampai disitu, akhirnya ia juga tidak puasa di bulan Ramadhan bahkan kemudian menjadi terbiasa melakukan sesuatu yang membatalkan puasa di siang hari. ia menghisap rokok dengan tenang dan menghembuskan asapnya kepada orang-orang yang berpuasa."

Kekecewaan ini nyaris memuncak. Kekecewaan yang telah merenggut mimpi-mimpi indahku. Hingga kubaca sebuah ironi diatas. Ironi itu hampir mirip dengan apa yang kualami. Doa-doa yang dulu terlantun indah demi menyambut hidup baru, bagai tertiup angin.
Ya Allah, Ya Rabbi. Kenalkanlah aku dengan diriku. Allahumma arrifni nafsii.
Putus asa dan kecewa. Dua hal yang sering terngiang dikepalaku akhir-akhir ini. Dan keduanya nyaris mencapai titik didih saat diri ini menyaksikan sebuah keluarga yang dililit kesulitan dalam hidupnya. Diriku merasa asing. Berada dimanakah diriku sebenarnya saat ini. Jalan yang dulu kutempuh, seakan makin kencang berlari menjauhi dan melambaikan tangan pada diriku tanda selamat tinggal.
Ya Allah Ya Rabbi. Apakah sudah saatnya aku kembali pada diriku yang sebenarnya dan jujur pada semua jalan yang kutempuh, bahwa diri ini jauh dari kriteria orang-orang yang berjalan diatasnya. Apakah sudah saatnya aku membenahi hati dan jiwa ini. Tidak lain hanyalah demi kebahagiaan hidup. Memang, selama berada di jalan itu, ku sering merasa terbebani. Beban dianggap sebagai orang baik, padahal diri ini jauh sekali dari kriteria orang baik.
Apakah sudah saatnya kuhijrah ke sebuah tempat baru, untuk menata hidup baru. Agar diri ini bebas seperti burung yang bebas terbang ke arah manapun yang ia sukai. Agar dapat membina hati dan jiwa ini. Agar punya lebih banyak waktu untuk merenung dan jauh dari hiruk pikuk yang selama ini menggelayuti diri. Hiruk pikuk yang membuat diri lupa untuk bertafakkur, bertadabbur, dan beruzlah. Agar punya lebih banyak waktu untuk membaca dan menulis. Dan agar punya lebih banyak waktu untuk berkhalwat dengan-Mu.
Allahumma inni as aluka salamatan fiddin, wa'afiyatan fil jasad, waziyadatan fil 'ilmi, wabarakatan firrizqy, wataubatan qablal mauut, warahmatan 'indal mauut, wamaghfiratan ba'dal mauut.Allahumma hawwin 'alaina fii sakaratil mauut, wannajata minannar, wal 'afwa 'indal hisab.