Senin, 17 September 2012
Andai kau selalu disampingku, wahai teman sejati.
hati ini kan slalu tenang di malam hari,
saat ku pulang dari mengarungi panasnya dunia yang membakar kepala dan
kejamnya dunia yang menyesakkan dada.
hati ini kan kembali tenang
saat pulang dengan disambut oleh nasihat,semangat,dan kelembutan akhlaq ukhrowi
melalui dzikir,tilawah, dan qiyamullail
teman sejati dan buah hati
Rumahku surgaku,
harapanku yang semakin jauh.
tempat keimanan dan semangat,
kembali terisi untuk hadapi amanah diluar sana
yang meremukkan pundak dan punggungku.
harapanku......
Ra sah dirasakke...
Namanya Pak Dedet. Aku mengenalnya karena hampir tiap Ahad sering bersama naik kereta Senja Utama Jogja (SenJo) dari Jogja ke Jakarta. Bila dengan teman-teman ‘laskar senja’ DJP kebersamaan itu akan berakhir di stasiun Senen, maka bersama pak Dedet kami masih harus meneruskan perjuangan menuju tempat kerja yang kebetulan satu arah. Masih sekitar 100 km lagi jarak yang harus kami tempuh. Beliau bekerja di suatu kawasan industri daerah Cilegon, sementara aku di Serang. Bila aku mengejar absen sampai jam 7.30, beliau jam 8.00. Untuk lebih mempercepat perjalanan, kami biasanya naik taksi dari Senen ke kebun jeruk. Lumayan ongkos bisa dibagi dua. Kemudian subuhan di musholla kantor Jasa Marga Kebun Jeruk, sebelum meneruskan perjalanan kembali dengan bis/elf jurusan ke Merak. Tak terasa minggu, berganti bulan, berganti tahun kami lalui bersama. Bagi Pak Dedet tahun ini merupakan tahun ke-17 beliau nglaju, sebagai PJKA = Pulang Jumat Kembali Ahad (meski seringkali kalau ditanya, dijawab dengan nada canda ‘baru 17 tahun’, beda dengan aku yang ‘sudah 4 tahun’) . Suatu saat aku pernah bertanya kepadanya apa yang menyebabkan mampu bertahan selama 17 tahun nglaju. “ Ra sah dirasakke mas..” jawabnya sambil tersenyum. Meski mungkin itu hanya sekedar jawaban penghibur diri saja, tapi rasanya aku perlu merenungkan jawaban itu.
Ra sah dirasakke (sebenarnya dari bahasa Jawa ora usah dirasakke = tidak usah dirasakan) ternyata bisa menjadi peluruh segenap kepenatan, duka dan lara yang dirasa. Meski terkadang itu harus dilalui dengan tubuh yang terbaring beberapa hari menahan sakit, ketinggalan kereta karena macet di Tol, kehabisan tiket untuk pulang, dan tentu yang utama menahan dahaga kerinduan pada istri & anak-anak tercinta bila tidak bisa pulang. Ra sah dirasakke juga mampu membuat kami tetap dapat menatap ke depan pada tujuan atas ribuan kilometer jejak langkah yang telah kami tempuh selama ini. Disini berpadu energi & cinta yang menyuluh asa agar tetap berpijar, menjaganya jangan sampai padam. Diatas itu semuanya kami tetap berharap pada Ilahi, agar semua desah nafas & gerak raga ini menjadi tambahan nilai ibadah di sisi-Nya. Sampai suatu malam, di hari rabu bulan lalu “Selamat ya Makassar, Makassar!” seru seorang kawan ketika menelponku. Aku masih termangu tidak percaya. “ Cek SIKKA!” Lalu dia sebutkan suatu amanah baru, di kantor yang benar-benar baru. Aku masih tidak percaya. Inikah saatnya meninggalkan bumi Banten, menuju tempat perantauan baru? Lalu sms-sms berdatangan, mengabarkan hal yang sama. Waktu menjadi terasa cepat berpacu. Berkelebat dalam benak, wajah istriku. Anak-anakku. Teman-teman kantor. Orang-orang yang selama ini telah membersamaiku. Lalu meloncat ke Pulau Sulawesi. Lalu Makassar. Lalu Bandara Sultan Hasanuddin. Lalu.. aku teringat Pak Dedet. Aku perlu mengabarkannya juga akan hari-hari ke depan yang tidak bisa membersamainya lagi..
Akhirnya, suatu malam di hari ahad, di Bandara Adi Sutjipto Selembar tiket pesawat menuju Makassar telah berada dalam genggamanku. Aku duduk di ruang tunggu. Tempat,yang rasanya untuk hari-hari ke depan akan sering aku singgahi. Tempat yang tidak aku temui lagi ‘nasi kucing’ favoritku seperti halnya di angkringan Stasiun Tugu. Tempat yang tidak lagi menawarkan ‘gelaran koran’. Tempat dengan orang-orang yang sungguh berbeda. Sampai sebuah pengumuman menyentakku, bahwa pesawat yang akan aku tumpangi mengalami keterlambatan. Kudengar gumaman orang-orang menggerutu. Ah.. Ra sah dirasakke.. Kualihkan perhatian pada layar kaca, ada MU versus Everton yang masih berlangsung seru.. oleh: sudero sumber: forum salahuddin kpdjp
Namanya Pak Dedet. Aku mengenalnya karena hampir tiap Ahad sering bersama naik kereta Senja Utama Jogja (SenJo) dari Jogja ke Jakarta. Bila dengan teman-teman ‘laskar senja’ DJP kebersamaan itu akan berakhir di stasiun Senen, maka bersama pak Dedet kami masih harus meneruskan perjuangan menuju tempat kerja yang kebetulan satu arah. Masih sekitar 100 km lagi jarak yang harus kami tempuh. Beliau bekerja di suatu kawasan industri daerah Cilegon, sementara aku di Serang. Bila aku mengejar absen sampai jam 7.30, beliau jam 8.00. Untuk lebih mempercepat perjalanan, kami biasanya naik taksi dari Senen ke kebun jeruk. Lumayan ongkos bisa dibagi dua. Kemudian subuhan di musholla kantor Jasa Marga Kebun Jeruk, sebelum meneruskan perjalanan kembali dengan bis/elf jurusan ke Merak. Tak terasa minggu, berganti bulan, berganti tahun kami lalui bersama. Bagi Pak Dedet tahun ini merupakan tahun ke-17 beliau nglaju, sebagai PJKA = Pulang Jumat Kembali Ahad (meski seringkali kalau ditanya, dijawab dengan nada canda ‘baru 17 tahun’, beda dengan aku yang ‘sudah 4 tahun’) . Suatu saat aku pernah bertanya kepadanya apa yang menyebabkan mampu bertahan selama 17 tahun nglaju. “ Ra sah dirasakke mas..” jawabnya sambil tersenyum. Meski mungkin itu hanya sekedar jawaban penghibur diri saja, tapi rasanya aku perlu merenungkan jawaban itu.
Ra sah dirasakke (sebenarnya dari bahasa Jawa ora usah dirasakke = tidak usah dirasakan) ternyata bisa menjadi peluruh segenap kepenatan, duka dan lara yang dirasa. Meski terkadang itu harus dilalui dengan tubuh yang terbaring beberapa hari menahan sakit, ketinggalan kereta karena macet di Tol, kehabisan tiket untuk pulang, dan tentu yang utama menahan dahaga kerinduan pada istri & anak-anak tercinta bila tidak bisa pulang. Ra sah dirasakke juga mampu membuat kami tetap dapat menatap ke depan pada tujuan atas ribuan kilometer jejak langkah yang telah kami tempuh selama ini. Disini berpadu energi & cinta yang menyuluh asa agar tetap berpijar, menjaganya jangan sampai padam. Diatas itu semuanya kami tetap berharap pada Ilahi, agar semua desah nafas & gerak raga ini menjadi tambahan nilai ibadah di sisi-Nya. Sampai suatu malam, di hari rabu bulan lalu “Selamat ya Makassar, Makassar!” seru seorang kawan ketika menelponku. Aku masih termangu tidak percaya. “ Cek SIKKA!” Lalu dia sebutkan suatu amanah baru, di kantor yang benar-benar baru. Aku masih tidak percaya. Inikah saatnya meninggalkan bumi Banten, menuju tempat perantauan baru? Lalu sms-sms berdatangan, mengabarkan hal yang sama. Waktu menjadi terasa cepat berpacu. Berkelebat dalam benak, wajah istriku. Anak-anakku. Teman-teman kantor. Orang-orang yang selama ini telah membersamaiku. Lalu meloncat ke Pulau Sulawesi. Lalu Makassar. Lalu Bandara Sultan Hasanuddin. Lalu.. aku teringat Pak Dedet. Aku perlu mengabarkannya juga akan hari-hari ke depan yang tidak bisa membersamainya lagi..
Akhirnya, suatu malam di hari ahad, di Bandara Adi Sutjipto Selembar tiket pesawat menuju Makassar telah berada dalam genggamanku. Aku duduk di ruang tunggu. Tempat,yang rasanya untuk hari-hari ke depan akan sering aku singgahi. Tempat yang tidak aku temui lagi ‘nasi kucing’ favoritku seperti halnya di angkringan Stasiun Tugu. Tempat yang tidak lagi menawarkan ‘gelaran koran’. Tempat dengan orang-orang yang sungguh berbeda. Sampai sebuah pengumuman menyentakku, bahwa pesawat yang akan aku tumpangi mengalami keterlambatan. Kudengar gumaman orang-orang menggerutu. Ah.. Ra sah dirasakke.. Kualihkan perhatian pada layar kaca, ada MU versus Everton yang masih berlangsung seru.. oleh: sudero sumber: forum salahuddin kpdjp
PERTEMANAN ITU TAK ABADI
Apa yang abadi di dunia ini? Tidak ada. Semua makhluq itu fana. Jika semuanya fana, maka semua ikatan makhluq itu juga akan ada masanya untuk berakhir. Sederhana saja. Sederhana, tapi tak kadang bermakna kepedihan. Ikatan Itu Tak Abadi.
Pertemanan itu tak abadi. Seseorang yang menjadi teman baik kita di hari ini, belum tentu akan sebaiknya. Biasa saja. Sebagaimana yang bisa terjadi pada diri kita yang baik bagi seseorang di hari ini namun bisa menjadi sosok yang sangat buruk bagi orang itu di waktu-waktu selanjutnya. Keburukan karena pertemanan yang ektrem di masa lalu kerap mengundang penyesalan di hari-hari akhir ketika pertemanan itu sudah berakhir. Kejahatan atas nama kesetiakawanan di masa lalu kerap menjadi lembaran kelam bagi banyak orang. Kebodohan yang dilakukan atas nama kesetiakawanan juga kerap menjadi bagian yang enggan diungkit oleh sebagian kita di hari-hari penyesalan.
Pertemanan itu tak abadi. Bisnis itu soal kepercayaan dan kenyamanan. Itu juga tak abadi. Kerjasama bisnis itu tak abadi. Ia ada ketika menguntungkan dan dia menjadi sirna ketika ada pengkhianatan. Allah juga menyingkir dari perikatan bisnis yang memuat pengkhianatan. Ikatan bisnis itu tak abadi. Kolega kerja itu soal pergiliran. Itu juga tak abadi. Pindah, mutasi, penempatan, reorganisasi, dan lainnya bisa mengubah sebuah perikatan kerja. Memang akan selalu ada semangat untuk melanggengkan ikatan itu.
Tapi zaman –bagaimanapun- tak akan membuat perikatan itu sama persis dengan ikatan yang pernah ada. Upaya untuk tetap langgeng itu sebaiknya difahami sebagai sebuah upaya manusiawi. Tapi, ikatan kerja itu tak abadi. Pernikahan juga tidak abadi. Ada banyak hal yang membuat perikatan ini berakhir. Banyak sekali. Pernikahan juga tak abadi. Perikatan dunia itu perikatan dunia. Tapi, kita bisa mengharapkan kebaikan dunia dan akherat dari perikatan dunia yang ada ini. Kita bisa berharap pertemanan yang ada mengantarkan kita ke surgaNya, karena sebagian wajah kita di akherat adalah wajah pertemanan kita di dunia. Kita berharap ikatan bisnis, ikatan kerja, ikatan pernikahan dan semua perikatan itu membawa manfaat bagi kita –bukan Cuma di dunia- dunia dan akherat. Memahami watak partner itu agak mudah ketika kita memiliki visi ukhrawi. Perikatan itu menjadi rumit ketika kita tidak berorientasi akherat. Partner kita akan mudah terlihat rakus jika kita juga rakus. Partner perikatan kita akan sangat terlihat sombong dalam kacamata kesombongan kita. Kawan kita mudah terlihat egois dalam pandangan egoisme kita. Dan istri kita Cuma mau enaknya sendiri –terutama- ketika kemauan kita tidak diikutinya. Perikatan itu rumit jika kita miskin cita rasa akherat.
Aku pernah menerima senyum indah agen asuransi, tukang jualan makanan, pelayan sebuah entitas bisnis, dan lain-lain. Dan Alhamdulillah, aku juga pernah menyaksikan bagaimana perubahan mereka ketika ikatan dan kepentingannya selesai. Mudah. Jika aku ingin mereka yang semacam ini tersenyum lagi, aku tinggal memenuhi maunya. Dan jika aku tak ingin memenuhi kemauannya, aku Cuma tinggal tak berharap pada senyumnya. Maka parade sakit hati dan caci maki karena kepentingannya tak terpenuhi itu bukan hal istimewa bagiku. Itu biasa. Kemarahan yang dipamerkan karena kesukaannya terusik itu biasa. Makian yang dibombardir karena pilihannya tak aku pilih itu biasa.
Pameran penyesalan yang ekspresif karena pernah bersama itu juga hal yang tak boleh sangat menggores hatiku. Senang karena kepentingannya aku ikuti dan tak suka karena kepentingannya aku abaikan itu biasa. Aku juga begitu. Cuma soal jangkauan pandangan saja yang membedakan. Sebaliknya, akan sangat sulit melepas mereka yang sangat kita sukai dari sebuah perikatan. Memang memutus dan melepas pihak yang kita cintai itu sangat tak mudah. Semakin kuat cinta kita maka mungkin akan semakin sulit untuk mengakhiri ikatan itu. Semakin suka kita dengan sebuah ikatan maka semakin sukar kita mengurai ikatan itu. Dan semakin banyak manfaat atau semakin kita sukai manfaat dari sebuah perikatan, maka semakin sakit kita jika tiba saatnya untuk melepas ikatan itu.
Semoga Allah memudahkan urusan perikatan yang substansinya sederhana namun kerap mengaduk-aduk emosi ini. Aamiin. Besok, insyaallah akan belanja ke fulan, agar senyumnya kembali mengembang untukku. Besok, aku akan mencoba menyapanya. Mungkin sudah agak lama aku tak menyapanya. Besok, insyaallah, aku akan mencoba mengajaknya, mungkin ajakanku bisa menyejukkan hatinya. Insyaallah. Ikatan itu tak ada yang benar-benar abadi.
Kuningan, 13 September 2012
oleh: ekonov
sumber: forum salahuddin kpdjp
Apa yang abadi di dunia ini? Tidak ada. Semua makhluq itu fana. Jika semuanya fana, maka semua ikatan makhluq itu juga akan ada masanya untuk berakhir. Sederhana saja. Sederhana, tapi tak kadang bermakna kepedihan. Ikatan Itu Tak Abadi.
Pertemanan itu tak abadi. Seseorang yang menjadi teman baik kita di hari ini, belum tentu akan sebaiknya. Biasa saja. Sebagaimana yang bisa terjadi pada diri kita yang baik bagi seseorang di hari ini namun bisa menjadi sosok yang sangat buruk bagi orang itu di waktu-waktu selanjutnya. Keburukan karena pertemanan yang ektrem di masa lalu kerap mengundang penyesalan di hari-hari akhir ketika pertemanan itu sudah berakhir. Kejahatan atas nama kesetiakawanan di masa lalu kerap menjadi lembaran kelam bagi banyak orang. Kebodohan yang dilakukan atas nama kesetiakawanan juga kerap menjadi bagian yang enggan diungkit oleh sebagian kita di hari-hari penyesalan.
Pertemanan itu tak abadi. Bisnis itu soal kepercayaan dan kenyamanan. Itu juga tak abadi. Kerjasama bisnis itu tak abadi. Ia ada ketika menguntungkan dan dia menjadi sirna ketika ada pengkhianatan. Allah juga menyingkir dari perikatan bisnis yang memuat pengkhianatan. Ikatan bisnis itu tak abadi. Kolega kerja itu soal pergiliran. Itu juga tak abadi. Pindah, mutasi, penempatan, reorganisasi, dan lainnya bisa mengubah sebuah perikatan kerja. Memang akan selalu ada semangat untuk melanggengkan ikatan itu.
Tapi zaman –bagaimanapun- tak akan membuat perikatan itu sama persis dengan ikatan yang pernah ada. Upaya untuk tetap langgeng itu sebaiknya difahami sebagai sebuah upaya manusiawi. Tapi, ikatan kerja itu tak abadi. Pernikahan juga tidak abadi. Ada banyak hal yang membuat perikatan ini berakhir. Banyak sekali. Pernikahan juga tak abadi. Perikatan dunia itu perikatan dunia. Tapi, kita bisa mengharapkan kebaikan dunia dan akherat dari perikatan dunia yang ada ini. Kita bisa berharap pertemanan yang ada mengantarkan kita ke surgaNya, karena sebagian wajah kita di akherat adalah wajah pertemanan kita di dunia. Kita berharap ikatan bisnis, ikatan kerja, ikatan pernikahan dan semua perikatan itu membawa manfaat bagi kita –bukan Cuma di dunia- dunia dan akherat. Memahami watak partner itu agak mudah ketika kita memiliki visi ukhrawi. Perikatan itu menjadi rumit ketika kita tidak berorientasi akherat. Partner kita akan mudah terlihat rakus jika kita juga rakus. Partner perikatan kita akan sangat terlihat sombong dalam kacamata kesombongan kita. Kawan kita mudah terlihat egois dalam pandangan egoisme kita. Dan istri kita Cuma mau enaknya sendiri –terutama- ketika kemauan kita tidak diikutinya. Perikatan itu rumit jika kita miskin cita rasa akherat.
Aku pernah menerima senyum indah agen asuransi, tukang jualan makanan, pelayan sebuah entitas bisnis, dan lain-lain. Dan Alhamdulillah, aku juga pernah menyaksikan bagaimana perubahan mereka ketika ikatan dan kepentingannya selesai. Mudah. Jika aku ingin mereka yang semacam ini tersenyum lagi, aku tinggal memenuhi maunya. Dan jika aku tak ingin memenuhi kemauannya, aku Cuma tinggal tak berharap pada senyumnya. Maka parade sakit hati dan caci maki karena kepentingannya tak terpenuhi itu bukan hal istimewa bagiku. Itu biasa. Kemarahan yang dipamerkan karena kesukaannya terusik itu biasa. Makian yang dibombardir karena pilihannya tak aku pilih itu biasa.
Pameran penyesalan yang ekspresif karena pernah bersama itu juga hal yang tak boleh sangat menggores hatiku. Senang karena kepentingannya aku ikuti dan tak suka karena kepentingannya aku abaikan itu biasa. Aku juga begitu. Cuma soal jangkauan pandangan saja yang membedakan. Sebaliknya, akan sangat sulit melepas mereka yang sangat kita sukai dari sebuah perikatan. Memang memutus dan melepas pihak yang kita cintai itu sangat tak mudah. Semakin kuat cinta kita maka mungkin akan semakin sulit untuk mengakhiri ikatan itu. Semakin suka kita dengan sebuah ikatan maka semakin sukar kita mengurai ikatan itu. Dan semakin banyak manfaat atau semakin kita sukai manfaat dari sebuah perikatan, maka semakin sakit kita jika tiba saatnya untuk melepas ikatan itu.
Semoga Allah memudahkan urusan perikatan yang substansinya sederhana namun kerap mengaduk-aduk emosi ini. Aamiin. Besok, insyaallah akan belanja ke fulan, agar senyumnya kembali mengembang untukku. Besok, aku akan mencoba menyapanya. Mungkin sudah agak lama aku tak menyapanya. Besok, insyaallah, aku akan mencoba mengajaknya, mungkin ajakanku bisa menyejukkan hatinya. Insyaallah. Ikatan itu tak ada yang benar-benar abadi.
Kuningan, 13 September 2012
oleh: ekonov
sumber: forum salahuddin kpdjp
Senin, 03 Januari 2011
Surat Untuk Firman
Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?
Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.
Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!
Source : http://itonesia.com/surat-untuk-firman/
Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.
Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!
Source : http://itonesia.com/surat-untuk-firman/
Jumat, 31 Desember 2010
Menginjak bumi...
Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid : "Saya telah menyaksikan langsung bagaimana orang-orang yang berada dalam komunitas orang-orang baik kemudian mengundurkan diri dari lingkungan itu. Ia kecewa dan putus asa karena keinginannya tidak ia peroleh. Selanjutnya orang itu mulai tidak melakukan amar ma'ruf, lalu meninggalkan shalat wajib dan mencukupkan diri hanya shalat Jum'at saja. Tak sampai disitu, akhirnya ia juga tidak puasa di bulan Ramadhan bahkan kemudian menjadi terbiasa melakukan sesuatu yang membatalkan puasa di siang hari. ia menghisap rokok dengan tenang dan menghembuskan asapnya kepada orang-orang yang berpuasa."
Kekecewaan ini nyaris memuncak. Kekecewaan yang telah merenggut mimpi-mimpi indahku. Hingga kubaca sebuah ironi diatas. Ironi itu hampir mirip dengan apa yang kualami. Doa-doa yang dulu terlantun indah demi menyambut hidup baru, bagai tertiup angin.
Ya Allah, Ya Rabbi. Kenalkanlah aku dengan diriku. Allahumma arrifni nafsii.
Putus asa dan kecewa. Dua hal yang sering terngiang dikepalaku akhir-akhir ini. Dan keduanya nyaris mencapai titik didih saat diri ini menyaksikan sebuah keluarga yang dililit kesulitan dalam hidupnya. Diriku merasa asing. Berada dimanakah diriku sebenarnya saat ini. Jalan yang dulu kutempuh, seakan makin kencang berlari menjauhi dan melambaikan tangan pada diriku tanda selamat tinggal.
Ya Allah Ya Rabbi. Apakah sudah saatnya aku kembali pada diriku yang sebenarnya dan jujur pada semua jalan yang kutempuh, bahwa diri ini jauh dari kriteria orang-orang yang berjalan diatasnya. Apakah sudah saatnya aku membenahi hati dan jiwa ini. Tidak lain hanyalah demi kebahagiaan hidup. Memang, selama berada di jalan itu, ku sering merasa terbebani. Beban dianggap sebagai orang baik, padahal diri ini jauh sekali dari kriteria orang baik.
Apakah sudah saatnya kuhijrah ke sebuah tempat baru, untuk menata hidup baru. Agar diri ini bebas seperti burung yang bebas terbang ke arah manapun yang ia sukai. Agar dapat membina hati dan jiwa ini. Agar punya lebih banyak waktu untuk merenung dan jauh dari hiruk pikuk yang selama ini menggelayuti diri. Hiruk pikuk yang membuat diri lupa untuk bertafakkur, bertadabbur, dan beruzlah. Agar punya lebih banyak waktu untuk membaca dan menulis. Dan agar punya lebih banyak waktu untuk berkhalwat dengan-Mu.
Allahumma inni as aluka salamatan fiddin, wa'afiyatan fil jasad, waziyadatan fil 'ilmi, wabarakatan firrizqy, wataubatan qablal mauut, warahmatan 'indal mauut, wamaghfiratan ba'dal mauut.Allahumma hawwin 'alaina fii sakaratil mauut, wannajata minannar, wal 'afwa 'indal hisab.
Kekecewaan ini nyaris memuncak. Kekecewaan yang telah merenggut mimpi-mimpi indahku. Hingga kubaca sebuah ironi diatas. Ironi itu hampir mirip dengan apa yang kualami. Doa-doa yang dulu terlantun indah demi menyambut hidup baru, bagai tertiup angin.
Ya Allah, Ya Rabbi. Kenalkanlah aku dengan diriku. Allahumma arrifni nafsii.
Putus asa dan kecewa. Dua hal yang sering terngiang dikepalaku akhir-akhir ini. Dan keduanya nyaris mencapai titik didih saat diri ini menyaksikan sebuah keluarga yang dililit kesulitan dalam hidupnya. Diriku merasa asing. Berada dimanakah diriku sebenarnya saat ini. Jalan yang dulu kutempuh, seakan makin kencang berlari menjauhi dan melambaikan tangan pada diriku tanda selamat tinggal.
Ya Allah Ya Rabbi. Apakah sudah saatnya aku kembali pada diriku yang sebenarnya dan jujur pada semua jalan yang kutempuh, bahwa diri ini jauh dari kriteria orang-orang yang berjalan diatasnya. Apakah sudah saatnya aku membenahi hati dan jiwa ini. Tidak lain hanyalah demi kebahagiaan hidup. Memang, selama berada di jalan itu, ku sering merasa terbebani. Beban dianggap sebagai orang baik, padahal diri ini jauh sekali dari kriteria orang baik.
Apakah sudah saatnya kuhijrah ke sebuah tempat baru, untuk menata hidup baru. Agar diri ini bebas seperti burung yang bebas terbang ke arah manapun yang ia sukai. Agar dapat membina hati dan jiwa ini. Agar punya lebih banyak waktu untuk merenung dan jauh dari hiruk pikuk yang selama ini menggelayuti diri. Hiruk pikuk yang membuat diri lupa untuk bertafakkur, bertadabbur, dan beruzlah. Agar punya lebih banyak waktu untuk membaca dan menulis. Dan agar punya lebih banyak waktu untuk berkhalwat dengan-Mu.
Allahumma inni as aluka salamatan fiddin, wa'afiyatan fil jasad, waziyadatan fil 'ilmi, wabarakatan firrizqy, wataubatan qablal mauut, warahmatan 'indal mauut, wamaghfiratan ba'dal mauut.Allahumma hawwin 'alaina fii sakaratil mauut, wannajata minannar, wal 'afwa 'indal hisab.
Sabtu, 04 Desember 2010
Jadilah seperti Lebah
Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).” (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)
Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul. Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan dengan manusia lain. Sehingga di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi, apa yang dia lakukan, peran dan tugas apa pun yang dia emban akan selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Maka jadilah dia orang yang seperti dijelaskan Rasulullah saw., “Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain.”
Kehidupan ini agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera membutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera.
Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan, “Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)
Sekarang, bandingkanlah apa yang dilakukan lebah dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang mukmin, seperti berikut ini:
Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih.
Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh berbeda dengan lalat. Serangga yang terakhir amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.
Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman:
Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 168)
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A’raf: 157)
Karenanya, jika ia mendapatkan amanah dia akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi adalah merupakan khabaits (kebusukan).
Mengeluarkan yang bersih.
Siapa yang tidak kenal madu lebah. Semuanya tahu bahwa madu mempunyai khasiat untuk kesehatan manusia. Tapi dari organ tubuh manakah keluarnya madu itu? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Dia produktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikan. Belakangan, ditemukan pula produk lebah selain madu yang juga diyakini mempunyai khasiat tertentu untuk kesehatan: liurnya!
Seorang mukmin adalah orang yang produktif dengan kebajikan. “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)
Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapi al-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentuk ibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakili dengan kalimat “rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu” (irka’u, wasjudu, wa’budu rabbakum). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.
Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lain melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaat manusia.
Tidak pernah merusak
Seperti yang disebutkan dalam hadits yang sedang kita bahas ini, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi. Begitulah seorang mukmin. Dia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apa pun: baik material maupun nonmaterial. Bahkan dia selalu melakukan perbaikan-perbaikan terhadap yang dilakukan orang lain dengan cara-cara yang tepat. Dia melakukan perbaikan akidah, akhlak, dan ibadah dengan cara berdakwah. Mengubah kezaliman apa pun bentuknya dengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu. Jika kerusakan terjadi akibat korupsi, ia memberantasnya dengan menjauhi perilaku buruk itu dan mengajukan koruptor ke pengadilan.
Bekerja keras
Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat “menetas”), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukmin untuk bekerja keras? “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Alam Nasyrah: 7)
Kerja keras dan semangat pantang kendur itu lebih dituntut lagi dalam upaya menegakkan keadilan. Karena, meskipun memang banyak yang cinta keadilan, namun kebanyakan manusia –kecuali yang mendapat rahmat Allah– tidak suka jika dirinya “dirugikan” dalam upaya penegakkan keadilan.
Bekerja secara jama’i dan tunduk pada satu pimpinan
Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)
Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu
Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan “kehormatan” umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin: musuh tidak dicari. Tapi jika ada, tidak lari.
Itulah beberapa karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orang beriman. Bukanlah sia-sia Allah menyebut-nyebut dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surah: An-Nahl. Allahu a’lam.
source : dakwatuna.com
Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul. Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan dengan manusia lain. Sehingga di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi, apa yang dia lakukan, peran dan tugas apa pun yang dia emban akan selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Maka jadilah dia orang yang seperti dijelaskan Rasulullah saw., “Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain.”
Kehidupan ini agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera membutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera.
Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan, “Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)
Sekarang, bandingkanlah apa yang dilakukan lebah dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang mukmin, seperti berikut ini:
Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih.
Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh berbeda dengan lalat. Serangga yang terakhir amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.
Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman:
Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 168)
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A’raf: 157)
Karenanya, jika ia mendapatkan amanah dia akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi adalah merupakan khabaits (kebusukan).
Mengeluarkan yang bersih.
Siapa yang tidak kenal madu lebah. Semuanya tahu bahwa madu mempunyai khasiat untuk kesehatan manusia. Tapi dari organ tubuh manakah keluarnya madu itu? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Dia produktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikan. Belakangan, ditemukan pula produk lebah selain madu yang juga diyakini mempunyai khasiat tertentu untuk kesehatan: liurnya!
Seorang mukmin adalah orang yang produktif dengan kebajikan. “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)
Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapi al-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentuk ibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakili dengan kalimat “rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu” (irka’u, wasjudu, wa’budu rabbakum). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.
Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lain melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaat manusia.
Tidak pernah merusak
Seperti yang disebutkan dalam hadits yang sedang kita bahas ini, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi. Begitulah seorang mukmin. Dia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apa pun: baik material maupun nonmaterial. Bahkan dia selalu melakukan perbaikan-perbaikan terhadap yang dilakukan orang lain dengan cara-cara yang tepat. Dia melakukan perbaikan akidah, akhlak, dan ibadah dengan cara berdakwah. Mengubah kezaliman apa pun bentuknya dengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu. Jika kerusakan terjadi akibat korupsi, ia memberantasnya dengan menjauhi perilaku buruk itu dan mengajukan koruptor ke pengadilan.
Bekerja keras
Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat “menetas”), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukmin untuk bekerja keras? “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Alam Nasyrah: 7)
Kerja keras dan semangat pantang kendur itu lebih dituntut lagi dalam upaya menegakkan keadilan. Karena, meskipun memang banyak yang cinta keadilan, namun kebanyakan manusia –kecuali yang mendapat rahmat Allah– tidak suka jika dirinya “dirugikan” dalam upaya penegakkan keadilan.
Bekerja secara jama’i dan tunduk pada satu pimpinan
Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)
Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu
Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan “kehormatan” umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin: musuh tidak dicari. Tapi jika ada, tidak lari.
Itulah beberapa karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orang beriman. Bukanlah sia-sia Allah menyebut-nyebut dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surah: An-Nahl. Allahu a’lam.
source : dakwatuna.com
My name is Khan...
Salman Khan (Sal Khan) bisa memasukkan nama Bill Gates sebagai salah satu penggemarnya. Serius, ini Bill Gates orang terkaya di dunia.
Khan bukan jawara Lembah Silikon, seperti Mark Zuckerberg yang menemukan Facebook atau Andy Rubin yang membuat Google bangkit dengan Android. Khan cuma seorang guru.
Khan menghabiskan waktunya di sebuah bekas toilet mini yang ia sulap menjadi studio rekaman sekaligus perpustakaan. Ruangan berukuran 1,5 x 2 meter itu adalah think thank yang dia sebut: bgC3. Di ruang sesak inilah Khan menghabiskan waktunya bersama dua komputer, headphone di telinga, kaus tidur dan piyama, menunggu siang sambil membaca buku atau membuat video.
“Orang ini luar biasa,” kata Gates dalam surelnya. “Dia mengerjakan banyak hal dengan sumber daya yang amat terbatas.”
Mengapa Khan begitu dikagumi Bill Gates? Gates dan anak laki-lakinya yang berumur 11 tahun, Rory, terpana oleh video-video pendidikan bikinan Khan, dari video aljabar sampai biologi. Yang membuat kagum Gates adalah sosok Khan yang meninggalkan dunia gemerlap sebagai manajer investasi beralih menjadi guru yang mendidik jutaan orang lewat video Internet.
Di kontrakannya yang sempit di Lembah Silikon itulah guru digital ini membikin tutorial video. Hebatnya, semua itu dikerjakannya sendiri, mulai dari menyusun materi, memvideokan, hingga menjadi guru sekaligus. Khan sebenarnya adalah lulusan MBA (master business of administration) Universitas Harvard. Dulu dia manajer keuangan. Tapi hidupnya kini dia serahkan ke dunia pendidikan, yang dia sebut Khan Academy ( http://khanacademy.org/). Di Khan Academy itu, dia adalah satu-satunya guru. Dia bisa mengajar apa saja, dari kalkulus, trigonometri, kimia, fisika, biologi, sampai tentang perang Napoleon, dan pelajaran ekonomi dari pabrik cupcake.
Sejauh ini, dari bekas toilet itu, dia telah menciptakan 1.630 tutorial dan ditonton oleh 70 ribu orang per hari. Angka itu nyaris dua kali lipat jumlah mahasiswa Harvard plus Universitas Sanford. “Jumlah pengunjung tertinggi mencapai 200 ribu orang,” kata Khan. Sebuah kesungguhan dan ketulusan yang membuat banyak orang iri, termasuk Bill Gates.
“Keindahan dari pengajaran Khan adalah konsistensi dia,” ujar Gates.
Seperti entrepreneur hebat lainnya, Khan terjun di dunia pendidikan tanpa sengaja. Dia lahir dan besar di New Orleans. Khan putra imigran berdarah Bangladesh dan India. Di bangku kuliah, Khan adalah bintang. Dia punya tiga gelar dari universitas ternama di Amerika Serikat: MBA dari Harvard, bachelor of science bidang matematika dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), serta bachelor dan master dari MIT untuk bidang kelistrikan. Dia sempat menjadi presiden kelas di MIT.
Khan jatuh cinta kepada kegiatan mengajar setelah ia menjadi guru sukarelawan untuk anak-anak Brookline. Ini adalah anak-anak yang mengalami sindrom attention deficit disorder, yang kesulitan memusatkan fokus perhatian. Dia juga tersentuh ketika keponakannya, yang kelas VII, bertanya soal konversi berat dalam kilogram. Khan pun mulai membuat tutorial dengan menggunakan teknologi yang sederhana. Ia hanya menggunakan software Yahoo Doodle dan Microsoft Paint berteknologi rendah untuk membuat sketsa, dengan latar belakang hitam dan garis-garis berwarna cerah dan persamaan ketika ia bekerja melalui penjelasannya. Video pertama yang ia buat adalah pelajaran mengonversi gram untuk kilogram yang awalnya hanya ditujukan bagi sepupunya itu. Sejak itulah kecanduan mengajar di sekolah online dimulai.
Khan mulai membuat tutorial dengan menulis program JavaScript sendiri. Dia bekerja di sela-sela waktu istirahatnya sebagai manajer investasi, di antara waktu main bola. Lalu dia rekam dalam bentuk video dan diunggah ke YouTube.
Khan akhirnya benar-benar hidup untuk akademinya setelah mendapat pesangon US$ 1 juta (Rp 9 miliar). Uang itu dia sebut Khan Capital, yang digunakan untuk membiayai hidupnya dengan investasi. Khan berkukuh tak mau mengkomersialkan situsnya. “Saya sudah punya dua mobil Honda, istri yang cantik dan anak yang hebat, serta rumah,” katanya.
Tak ada sekat suku bangsa, ruang, apalagi teritorial. Baik yang ada di ujung Samudra Atlantik hingga pedalaman Hutan Amazon, semua diajari Salman Khan lewat sekolah dunia maya miliknya secara cuma-cuma.
Bagi sebagian orang, matematika memang sudah seperti momok yang sulit dimengerti, apalagi dikuasai. Perasaan yang sama dialami pula oleh seorang bocah Korea berusia 11 tahun.
Tapi, siapa sangka pelajaran yang selalu membuatnya stres tersebut berbalik menjadi pelajaran favoritnya setelah ia membuka situs buatan SalmAn Khan, www.khanacademy.org.
Tidak hanya anak dari Korea, sepasang orang tua di California, AS, tampak tak kuasa meluapkan rasa senang atas kemajuan yang dilakukan anak mereka dalam pelajaran aljabar.
“Saya tidak tahu siapa Anda. Tapi dalam pikiran saya, Anda adalah penyelamat. Anak-anak saya benar-benar bersemangat dengan matematikanya. Terima kasih,” ucapnya di situs yang dikelola seorang pria yang baru menginjak usia 33 tahun.
Khan tak pernah miskin dengan kebaikan. Sebab, pengusaha-pengusaha Lembah Silikon pun membanjiri dia dengan donasi. Indonesia butuh orang-orang baik budi dan tidak sombong seperti dia.
Selamat hari guru, 25 November (walau udah telat he5x), teman.. Semua dari kita adalah guru.........sekaligus murid. Lakukan saja peranmu dengan baik.
Guru........... tidak selalu orang yang mengajar di sekolah.
Guru........... tidak selalu orang yang dihargai sebagai pahlawan tanpa tanda jasa
Guru........... terkadang hanya seseorang yang ingin mendidik anak bangsa
Yang tulus ikhlas melakukan pengabdiannya
Meski cacian dan cercaan yang diterimanyaDari orang-orang yang ditolongnya...................
.
Jadilah guru bagi orang-orang di sekitarmu, dan biarkan Allah yang membayarmu.
by Dewi
source : milis alumni stan
Khan bukan jawara Lembah Silikon, seperti Mark Zuckerberg yang menemukan Facebook atau Andy Rubin yang membuat Google bangkit dengan Android. Khan cuma seorang guru.
Khan menghabiskan waktunya di sebuah bekas toilet mini yang ia sulap menjadi studio rekaman sekaligus perpustakaan. Ruangan berukuran 1,5 x 2 meter itu adalah think thank yang dia sebut: bgC3. Di ruang sesak inilah Khan menghabiskan waktunya bersama dua komputer, headphone di telinga, kaus tidur dan piyama, menunggu siang sambil membaca buku atau membuat video.
“Orang ini luar biasa,” kata Gates dalam surelnya. “Dia mengerjakan banyak hal dengan sumber daya yang amat terbatas.”
Mengapa Khan begitu dikagumi Bill Gates? Gates dan anak laki-lakinya yang berumur 11 tahun, Rory, terpana oleh video-video pendidikan bikinan Khan, dari video aljabar sampai biologi. Yang membuat kagum Gates adalah sosok Khan yang meninggalkan dunia gemerlap sebagai manajer investasi beralih menjadi guru yang mendidik jutaan orang lewat video Internet.
Di kontrakannya yang sempit di Lembah Silikon itulah guru digital ini membikin tutorial video. Hebatnya, semua itu dikerjakannya sendiri, mulai dari menyusun materi, memvideokan, hingga menjadi guru sekaligus. Khan sebenarnya adalah lulusan MBA (master business of administration) Universitas Harvard. Dulu dia manajer keuangan. Tapi hidupnya kini dia serahkan ke dunia pendidikan, yang dia sebut Khan Academy ( http://khanacademy.org/). Di Khan Academy itu, dia adalah satu-satunya guru. Dia bisa mengajar apa saja, dari kalkulus, trigonometri, kimia, fisika, biologi, sampai tentang perang Napoleon, dan pelajaran ekonomi dari pabrik cupcake.
Sejauh ini, dari bekas toilet itu, dia telah menciptakan 1.630 tutorial dan ditonton oleh 70 ribu orang per hari. Angka itu nyaris dua kali lipat jumlah mahasiswa Harvard plus Universitas Sanford. “Jumlah pengunjung tertinggi mencapai 200 ribu orang,” kata Khan. Sebuah kesungguhan dan ketulusan yang membuat banyak orang iri, termasuk Bill Gates.
“Keindahan dari pengajaran Khan adalah konsistensi dia,” ujar Gates.
Seperti entrepreneur hebat lainnya, Khan terjun di dunia pendidikan tanpa sengaja. Dia lahir dan besar di New Orleans. Khan putra imigran berdarah Bangladesh dan India. Di bangku kuliah, Khan adalah bintang. Dia punya tiga gelar dari universitas ternama di Amerika Serikat: MBA dari Harvard, bachelor of science bidang matematika dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), serta bachelor dan master dari MIT untuk bidang kelistrikan. Dia sempat menjadi presiden kelas di MIT.
Khan jatuh cinta kepada kegiatan mengajar setelah ia menjadi guru sukarelawan untuk anak-anak Brookline. Ini adalah anak-anak yang mengalami sindrom attention deficit disorder, yang kesulitan memusatkan fokus perhatian. Dia juga tersentuh ketika keponakannya, yang kelas VII, bertanya soal konversi berat dalam kilogram. Khan pun mulai membuat tutorial dengan menggunakan teknologi yang sederhana. Ia hanya menggunakan software Yahoo Doodle dan Microsoft Paint berteknologi rendah untuk membuat sketsa, dengan latar belakang hitam dan garis-garis berwarna cerah dan persamaan ketika ia bekerja melalui penjelasannya. Video pertama yang ia buat adalah pelajaran mengonversi gram untuk kilogram yang awalnya hanya ditujukan bagi sepupunya itu. Sejak itulah kecanduan mengajar di sekolah online dimulai.
Khan mulai membuat tutorial dengan menulis program JavaScript sendiri. Dia bekerja di sela-sela waktu istirahatnya sebagai manajer investasi, di antara waktu main bola. Lalu dia rekam dalam bentuk video dan diunggah ke YouTube.
Khan akhirnya benar-benar hidup untuk akademinya setelah mendapat pesangon US$ 1 juta (Rp 9 miliar). Uang itu dia sebut Khan Capital, yang digunakan untuk membiayai hidupnya dengan investasi. Khan berkukuh tak mau mengkomersialkan situsnya. “Saya sudah punya dua mobil Honda, istri yang cantik dan anak yang hebat, serta rumah,” katanya.
Tak ada sekat suku bangsa, ruang, apalagi teritorial. Baik yang ada di ujung Samudra Atlantik hingga pedalaman Hutan Amazon, semua diajari Salman Khan lewat sekolah dunia maya miliknya secara cuma-cuma.
Bagi sebagian orang, matematika memang sudah seperti momok yang sulit dimengerti, apalagi dikuasai. Perasaan yang sama dialami pula oleh seorang bocah Korea berusia 11 tahun.
Tapi, siapa sangka pelajaran yang selalu membuatnya stres tersebut berbalik menjadi pelajaran favoritnya setelah ia membuka situs buatan SalmAn Khan, www.khanacademy.org.
Tidak hanya anak dari Korea, sepasang orang tua di California, AS, tampak tak kuasa meluapkan rasa senang atas kemajuan yang dilakukan anak mereka dalam pelajaran aljabar.
“Saya tidak tahu siapa Anda. Tapi dalam pikiran saya, Anda adalah penyelamat. Anak-anak saya benar-benar bersemangat dengan matematikanya. Terima kasih,” ucapnya di situs yang dikelola seorang pria yang baru menginjak usia 33 tahun.
Khan tak pernah miskin dengan kebaikan. Sebab, pengusaha-pengusaha Lembah Silikon pun membanjiri dia dengan donasi. Indonesia butuh orang-orang baik budi dan tidak sombong seperti dia.
Selamat hari guru, 25 November (walau udah telat he5x), teman.. Semua dari kita adalah guru.........sekaligus murid. Lakukan saja peranmu dengan baik.
Guru........... tidak selalu orang yang mengajar di sekolah.
Guru........... tidak selalu orang yang dihargai sebagai pahlawan tanpa tanda jasa
Guru........... terkadang hanya seseorang yang ingin mendidik anak bangsa
Yang tulus ikhlas melakukan pengabdiannya
Meski cacian dan cercaan yang diterimanyaDari orang-orang yang ditolongnya...................
.
Jadilah guru bagi orang-orang di sekitarmu, dan biarkan Allah yang membayarmu.
by Dewi
source : milis alumni stan
Langganan:
Postingan (Atom)