Selasa, 04 Februari 2014

Man Jadda Wajada


Semua masalah dan kesulitan sudah
ada jawabannya di Al Quran :

Ketika kita mengeluh : “Ah mana mungkin…..”
✅Allah menjawab : “Jika AKU menghendaki, cukup Ku berkata
“Jadi”, maka jadilah (QS. Yasin ; 82)

Ketika kita mengeluh : “Capek banget deeh….”
✅Alloh menjawab : “…dan KAMI jadikan
tidurmu untuk istirahat.” (QS.An- Naba :9)

Ketika kita mengeluh : “Berat banget yah, gak sanggup rasanya…”
✅Allah menjawab : “AKU tidak membebani seseorang, melainkan
sesuai kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah : 286)

Ketika kita mengeluh : “Stressss nih bingung”
✅Allah menjawab : “Hanya dengan
mengingatku hati akan menjadi tenang”. (QS. Ar-Ra’d :28)

Ketika kita mengeluh : “Yaaaahh… ini mah semua bakal sia-sia..”
✅Allah menjawab :”Siapa yg mengerjakan kebaikan sebesar biji
dzarah sekalipun, niscaya ia akan
melihat balasannya”. (QS. Al- Zalzalah :7)

Ketika kita mengeluh : “Gile aje..gue sendirian..gak ada seorangpun yang mau bantuin…”
✅Allah menjawab : “Berdoalah
(mintalah) kepadaKU, niscaya Aku
kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60)

Ketika kita mengeluh : “ Duh..sedih banget deh gue…”
✅Allah menjawab : “La Tahzan,..Innallaha Ma’ana... Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah
beserta kita:. (QS. At-Taubah :40)

Ketika kita mengeluh : “ampuuun
kenapa sih susah amat nih kerjaan…”
✅Allah menjawab : “sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah;6-7)..

Soo... segeralah kembali kepadaNya..
Karena semua kebutuhan kita ada padaNya...

Muslim itu hanya punya 2 pilihan, yaitu jadi Muslim yg SEMANGAT atau LEBIH SEMANGAT..!!

Man Jadda wa Jada ..!!

Siapa yg BERSUNGGUH-SUNGGUH, maka Dia akan DAPAT apa yg diinginkannya..!!

Salam penuh Semangat ..!!

Ketika hujan bercerita

Ketika hujan turun, selalu begitu. Gemericiknya, gemuruhnya, seolah membisikkan cerita padaku. Rinainya, tetes-tetes beningnya yang berjatuhan dari langit, seolah memproyeksikan imaji cerita tersebut. Cerita tentang kenangan. Cerita tentang harapan. Cerita tentang cerita lainnya.

Ketika hujan turun, selalu begitu. Hujan menceritakan kepadaku kisah tentang kasih ibu. Betapa tidak, tak terhitung airmata yang terevaporasi saat mengandung kita. Mengusap kepala sembari menyusui kita. Mencemaskan kesehatan kita. Dalam setiap doanya tentang masa depan kita. Tak terhitung bulir-bulir keringat yang tercucur saat perihnya melahirkan kita. Dalam perjuangannya membesarkan kita. Air mata itu. Keringat itu. Setiap titik-titiknya diangkat matahari dan dikumpulkannya di awan. Bertemu dengan cerita-cerita lainnya.

Ketika hujan turun, selalu begitu. Hujan menceritakan tentang semangat. Tentang teladan. Begitu banyak bulir-bulir keringat dari buruh pabrik. Dari tukang becak. Dari pedagang asong. Dari semua orang yang berusaha keras demi kehidupan keluarganya. Begitu banyak juga darah tertumpah bersama kilatan pedang. Bersama desing peluru. Bersama kisah heroik pejuang agama dan bangsa. Semuanya diangkat ke langit bersama cerita-cerita epik itu. Berkumpul dalam awan. Lalu tumpah ruah ke bumi. Menceritakan kisah mereka padaku.

Ketika hujan turun, selalu begitu. Hujan menceritakan padaku tentang harapan. Tentang rasa takut. Tentang getar cinta. Tiga rasa itu bercampur dalam sujud seorang hamba. Dalam interaksinya dengan tuhannya di dinginnya sepertiga malam terakhir. Syahdu. Ia menangis tersedu. Menyesali semua dosanya. Memohon ampunan-Nya. Merengek. Berharap perjumpaan dengan-Nya. Air mata itu mungkin membasahi sajadahnya. Mungkin juga tissue atau lengan bajunya. Lalu, saat di bawah metahari, titik-titik itu diangkat ke langit. Lalu menjadi cerita yang kudapat dari setiap hujan.

Begitulah.. dalam siklus hujan, ada siklus cerita yang tersimpan di dalamnya. Nanti, di setiap hujan, dengarkanlah. Tatap tiap tetesnya yang berjatuhan. Hujan akan menceritakan semuanya.

Ketika hujan turun. . .

Senin, 03 Februari 2014

Pasti bertemu

Mungkin aku memang tak pernah kau inginkan
mungkin juga aku bukanlah yang kau harapkan ..

Tapi aku menginginkan mu
juga mengharapkan mu . .

“Maaf , aku mencintai mu”

aku tak tau rasa ini hadir begitu saja
tanpa pernah ku meminta juga tak pernah ku memuja ..

Hanya kau yang ku ingin
dan kau yang ku harap ..

aku tak tau sampai kapan ku bisa bertahan dengan rasa yang tak mungkin engkau perhatikan ..

Maaf aku mencintai mu
Walau kita belum pernah bertemu..
 
"Andai engkau tahu betapa ku mencinta..
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku..
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau pinta..
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya..
Jika aku bukan jalanmu..
Ku berhenti mengharapkanmu..
Jika aku memang tercipta untukmu..
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu.."
 

Kamis, 09 Januari 2014

Ketika beban hidup terasa berat & melelahkan

Jadilah seperti air dalam mencapai tujuan hidup kita. ''Sebagaimana air mengalir. Dia tidak pernah berhenti hanya karena bebatuan dihadapannya...
Dengan luwesnya air itu berbelok arah menghindari halangan tersebut...
Tanpa marah, protes maupun berontak...
Begitu penghalangnya dilewati, kembali air itu masuk ke arus semula...
Hingga akhirnya sampai kemuara tujuannya...

Pada hati yang retak ...
Akan selalu ada ruang untuk bernafas lega...

Jika letih berhentilah sejenak...
Rasakan setiap karunia Allah yg selalu meliputi...
Biarkan belaian kasih-Nya memeluk hati dengan erat...
Maka akan selalu ada harapan dan semangat baru untuk menghadapi hari esok..

Jangan jatuhkan diri pada kekhawatiran yg berlebihan...
Karena ALLAH Senantiasa memiliki taqdir yg indah untuk setiap hamba-Nya yg selalu berusaha bersyukur dan bersabar...

Bila kita tak kuat menjalaninya...
Bisikkan kedalam hati ''Bahwa ALLAH takkan memberi kita peran yg kita sendiri tak sanggup menjalaninya..''

Lalu berjalanlah melambat, atau sesekali berhentilah sejenak...
Ketenangan akan datang dari bisikan nurani kita...
Berfikirlah dengan tenang...
Rasakan dengan hati...
Lihatlah semua dengan jelas...

Bahwa ALLAH selalu bersama orang orang yg berserah diri..

by. +Nesa P.V.

Rabu, 08 Januari 2014

Aku termenung di bawah mentari 
Di antara megahnya alam ini 
Menikmati indahnya kasihMu 
Kurasakan damainya hatiku 
SabdaMu bagai air yang mengalir 
Basahi panas terik di hatiku
Menerangi semua jalanku 
Kurasakan indahnya hatiku
Reff: 
Jangan biarkan damai ini pergi 
Jangan biarkan semuanya berlalu
Hanya padaMu Tuhan tempatku berteduh 
Dari semua kepalsuan dunia
Bila ku jauh dari diriMu
Akan ku tempuh semua perjalanan 
Agar selalu ada dekatMu 
Hingga kurasakan lembutnya kasihMu
(Damai BersamaMu by Chrisye)

Nyanyian kedamaian...selalu terngiang di telinga dan terlintas di kepala, di setiap pikiran dan jiwa terguncang oleh suatu keadaan menyakitkan di depan mata...Nyayian kedamaian membuat hati kembali bersih dan kembali pasrah pada-Nya, saat kondisi jiwa sedang runtuh...

Iman...saatnya iman ini dicharge kembali...karena sejatinya iman ini naik turun...barangkali, di saat mendengar berita menyakitkan seperti itu, diri ini lupa bahwa pemegang kehendak hanyalah diri-Nya......Dengan prinsip Iyyakana'budu waiyyaka nasta'in, kembali berpasrah pada-Nya, meminta pertolongan-Nya....

Ikhlaskan Apa Yang Terjadi

Jika hatimu lelah, basuh peluhmu dengan sabar...

Ceritakan dukamu pada ketabahan...

Usap air matamu dengan harapan...

Jika kamu terluka, kuatkan dirimu karena Allah selalu menyayangimu...

^^

Ketika wajah ini penat memikirkan dunia, maka berwudhulah...

Ketika tangan ini lelah menggapai cita-cita, maka bertakbirlah...

Ketika pundak tak kuasa memikul amanah, maka bersujudlah...

Tunduk dan rendah hatilah di saat yang lain angkuh...

Teguhlah di saat yang lain runtuh...

Tegarlah di saat yang lain terkapar...

^^

Ikhlaskan apa yang terjadi dan mungkin bukan menjadi milikmu dan mendekatlah kepada Allah Ta’ala agar lelah tak membuatmu surut dalam langkah...

Senin, 23 Desember 2013

Hidup Bahagia dengan Mengelola Kegagalan dan Keberhasilan

Penulis terkenal Doug Hooper pernah mengatakan “You are what you think” dalam bukunya dengan judul yang sama dengan kesimpulan bahwa pendapat kita tentang ihwal diri kita termasuk menyangkut masalah keberhasilan dan kegagalan dari berbagai pencapaian hidup yang secara konsisten ada dalam benak kita itulah yang menjadi kenyataan untuk diri kita. Hal senada diungkapkan pula oleh Stephen R. Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People (1993) bahwa kita melihat dunia, bukan sebagaimana dunia apa adanya, melainkan sebagaimana kita adanya atau sebagaimana kita dikondisikan untuk melihatnya.

Seseorang dapat merasa selamanya hidup gagal dan mencap dirinya sendiri seakan terlahir dan sepantasnya untuk menjadi manusia sial, pecundang dan gagal. Demikian pula penilaian dan cara pandangnya terhadap segala hasil usaha dan pencapaian orang lain akan selalu gagal, negatif dan pokoknya mengecewakan. Hal itu lahir dari sikap diri negatif yang mendorongnya untuk melihat diri dan dunia luar dengan kacamata kuda yang gelap dan picik dari satu arah, sehingga hampir tak terlihat sisi pandang lain secara jernih sekalipun sebenarnya yang ia pandang adalah positif ataupun terdapat sisi dan unsur positif.

Dalam konteks ini, patut kita hayati hadits qudsi yang meriwayatkan titah Allah bahwa keputusan takdir-Nya terhadap garis hidup manusia tergantung bagaimana ia berfikir dan berprasangka tentang-Nya. John Maxwell dalam The Winning Attitude: Your Key to Personal Success (1993) dalam salah satu dari 6 teori dan aksioma tentang sikap menyimpulkan bahwa sikap sangat menentukan keberhasilan dan kegagalan mengacu para prinsip “slight-edge” Menurutnya, sikap kita apakah tetap sabar untuk mencapai tujuan atau cepat menyerah akan menentukan kita untuk sukses atau gagal (berhenti usaha).

Paul J Meyer pernah mengatakan bahwa 90 % orang-orang yang gagal sebetulnya belum tentu gagal, hanya saja mereka cepat menyerah. Sebagai ilustrasi rahasia sunnatullah sukses dan gagal ini dapat kita lihat pada fenomena air yang dimasak sampai mendidih. Air tidak akan mendidih meskipun telah mencapai 99,9 derajat celsius sebab air hanya akan mendidih pada 100 derajat celsius dan bukan pada 99,9 derajat meskipun hanya kurang 0,01 derajat celsius saja.

Dalam manajemen keberhasilan dan kegagalan, diperlukan seni menetapkan pola keberhasilan melalui proses yang terdiri dari lima langkah sebagaimana tips sukses yang ditawarkan Art Mortell dalam The Courage to Fail (1993) yaitu;

1. Tentukan atau kenali rasa takut yang melemahkan diri kita;

2. beritahu orang lain tentang sebab-sebab kebingungan Anda, yang dapat membantu membebaskan diri Anda dari rasa takut;

3. putuskan bagaimana kita bisa berhenti bila upaya kita menimbulkan kekecewaan yang sangat sampai kita yakin bahwa kita dapat mengendalikan situasi;

4. mulailah dengan perlahan-lahan sampai kita bisa menghadapi tantangan dengan baik dan mengurangi bahaya timbulnya kepanikan;

5. bayangkan diri kita sedang berada di tempat yang menyenangkan, sehingga rasa takut digantikan oleh emosi yang positif dan mampu menggunakannya untuk mendorong kreativitas.

Kalau kita memandang kegagalan diri dan orang lain di dunia ini sebagai sesuatu yang ‘gatot’ (gagal total), kiamat dan tamat riwayat, maka kita akan berhenti pada kegagalan dan tidak akan pernah melihat keberhasilan. Dalam hidup, yang dikenang orang bahkan yang kita ingat sebenarnya keberhasilan kita, dan bukannya pengalaman kegagalan kita. Mereka yang berhasil adalah yang mampu membuat sebuah pondasi yang kokoh dari batu-bata yang dilemparkan orang lain padanya. Jarang orang yang menyadari bahwa Isaac Newton pernah lemah prestasi belajarnya ketika di sekolah dasar, Henri Ford pernah gagal dalam bisnis dan bangkrut sebanyak 5 kali, Dale Carnegie pernah depresi dahsyat dan sempat terlintas untuk bunuh diri, Winston Churchill pernah tidak naik kelas enam, Abraham Lincoln pernah diturunkan pangkatnya menjadi prajurit biasa sebagaimana Khalid bin Walid pernah dilengserkan Umar bin Khathab dari posisi komandan menjadi prajurit biasa, Nabi Yusuf sempat menjadi budak yang diperjualbelikan, dan Nabi Muhammad saw. pernah tidak berjaya pada perang Uhud, pernah terusir, dihina, terlukai dan tidak dihiraukan.

Keberhasilan merupakan bola salju yang bermula dari ukuran kecil yang terus bergulir untuk terus membesar. Cara kita menyikapi setiap pencapaian, hasil dan anugerah (nikmat) hidup adalah pola kita memperlakukan bola salju. Bila kita remehkan dan tidak kita hargai sehingga cenderung mengabaikannya, maka tidak akan tumbuh besar, bahkan justru akan mencairkan dan melenyapkannya. Itulah ekspresi jiwa dalam mensyukuri dan menghargai hasil betapapun adanya. Bukankah Nabi saw bersabda bahwa orang yang tidak pandai menghargai dan berterima kasih orang lain maka ia tidak akan dapat bersyukur kepada Allah. Beliau juga berpesan agar kita tidak meremehkan suatu kebaikan pun. (QS.An-Naml:19, 40, Ibrahim:7)

Hargailah proses dan usaha betapapun hasilnya untuk dapat meraih keberhasilan yang hakiki. Orang yang pandai bersyukur adalah orang yang pandai berterimakasih, dan orang yang pandai berterima kasih adalah orang yang pandai menghargai dan orang tidak akan dapat menghargai apapun bila tidak memahami, menyadari dan menghargai proses serta usaha. Karakter utama orang shalih adalah menggunakan akal pikiran untuk memahami proses (Ulul Albab) termasuk segala ciptaan Allah di semesta alam, sehingga segala ucapan, sikap dan komentarnya selalu positif, menyejukkan, memotivasi, membersitkan inspirasi, dan penuh kearifan. Refleksi spontan imani Ulul Albab berupa komentar “Rabana ma khalaqta hadza bathilan” (Ya Tuhan Kami, tidaklah apapun yang Engkau ciptakan ini sia-sia, Maha suci Engkau… QS. Ali Imran:191) sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap proses dan sumber kebaikan, apapun hasil takdir-Nya.

Tipe wanita yang pandai menghargai pencapaian suami bagaimanapun kondisinya sebagai bagian dari manajemen keberhasilan adalah Ummul Mukminin Khadijah. Di saat-saat Rasulullah merasa sangat cemas, kesepian, ketakutan, dan merasa ditinggalkan, maka Khadijah justru mengungkit sisi-sisi kebaikan sosial dan pencapaian moral Nabi saw yang begitu tinggi sehingga mampu membangkitkan kembali motivasi Nabi saw. Demikian pula tipe suami yang pandai menghargai istri adalah Rasulullah saw dimana beliau tidak pernah mencela makanan maupun masakan sebagai penghargaan terhadap proses usaha dan sumbernya yang Maha Pemberi. Beliau juga tidak mencela kondisi fisik istrinya Aisyah yang tidak langsing lagi sebagai penghargaan beliau terhadap usaha dan pengorbanan Aisyah untuk tetap setia menghibur dan mendampingi Nabi saw, sehingga beliau cukup menyiratkan pentingnya pemeliharaan tubuh melalui olahraga lari.

Di saat sahabat merasa gagal mempertahankan kualitas iman dan spiritualitas, Nabi saw memberikan penghargaan terhadap adanya kesadaran untuk merawat spiritualitas dan beliau memberikan motivasi bahwa kondisi keimanan seseorang memang fluktuatif sehingga dapat naik dan turun, naiknya dengan ketaatan dan turunnya dengan ketidakpatuhan. Namun sebaliknya di saat para sahabat merasa terlalu yakin dengan pencapaian dan prestasi amalnya, beliau mengingatkan bahwa surga tidak ditentukan oleh amal, melainkan murni karena rahmat Allah semata termasuk nasib beliau. Hal itu agar para sahabat tidak berhenti beramal sehingga Allah meridhai dan merahmati mereka.

Kata-kata bijak dan prinsip-prinsip kearifan yang menumbuhkan motivasi dan memacu inspirasi sangat diperlukan dalam seni manajemen keberhasilan dan kegagalan bagi diri dan orang lain. Kung-fu-tze pernah ditanya tentang apa yang akan dilakukan jika ia menjadi kaisar Cina. Tanpa ragu-ragu ia menjawab, “Aku akan mendidik rakyatku dengan kata-kata yang penuh inspirasi, semoga dengan menggunakan kata-kata itu mereka akan menjadi generasi bangsa yang gagah perkasa.”

Keberhasilan perlu disongsong, dibangun dan dijaga sebagaimana kegagalan perlu diantisipasi, dihindari dan dilawan. Don Gabor dalam Big Things Happen (1997) memberikan 7 daftar pemeriksaan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membangun sukses yaitu;

1. tetap berusaha dan bekerja untuk membuat kemampuan ada lebih menonjol dari sebelumnya;

2. gunakan bakat Anda dalam banyak cara sedapat mungkin;

3. beri diri Anda kesan dan citra positif untuk mencapai tujuan;

4. cari manfaat dan hikmah dari keberhasilan Anda;

5. periksalah arsip tentang rencana dan program yang belum diselesaikan atau impian yang belum kesampaian;

6. masukkan sebanyak mungkin pengetahuan dari keberhasilan dan kegagalan Anda sebisa Anda;

7. dapatkan orang-orang yang bisa Anda ajak berbagi pengalaman dan pengetahuan Anda.

Orang tidak akan dapat menghargai setiap pencapaian, prestasi dan hasil diri sendiri maupun orang lain kalau tidak menyadari dan menghargai proses dan usaha serta mengingat Allah sebagai sumber segala karunia. Wallahu A’lam Wa Billahit Taufiq Wal Hidayah. []

Thanks to : www.dakwatuna.com

Doa untuk sekeranjang tempe

Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe . Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. "Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. .." demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe , dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan- ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk akan, dan modal membeli kacang, yang akan dia olah kembali menjadi tempe .

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe . Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..."

Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe . Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung.

Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe . Dan... dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe . Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku..."
Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe . Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut. "Keajaiban Tuhan akan datang... pasti," yakinnya. Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "tangan" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya. Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. "Pasti sekarang telah jadi tempe !" batinnya.

Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi. Kecewa, aitmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar...merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat...

Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. "Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya??" Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. "Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe ..."
Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. "jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe ..." "Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?" tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! "Alhamdulillah! " pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?" "Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi,saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Ohh ya, jadi semuanya berapa, Bu?"

Pembaca, ini kisah yang biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan "memaksakan" Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sangat sempurna. Kisah sederhana yang menarik, karena seringkali kita pun mengalami hal yg serupa.
Di saat kita tidak memahami ada hikmah di balik semua skenario yg Allah SWT takdirkan.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (QS. Al Baqarah 216)