Link youtube :
http://www.youtube.com/watch?v=AnVXC_0ul_A&feature=PlayList&p=DA827454944931C6&playnext_from=PL&playnext=1&index=7
Wahai Tuhan jauh sudah
Lelah kaki melangkah
Aku hilang tanpa arah
Rindu hati sinarmu
Wahai Tuhan aku lemah
Hina berlumur noda
Hapuskanlah terangilah
Jiwa di hitam jalanku
Ampunkanlah aku
Terimalah taubatku
Sesungguhnya engkau
Sang Maha Pengampun Dosa
Ya Rabbi ijinkanlah
Aku kembali padaMu
Meski mungkin takkan sempurna
Aku sebagai hambaMu
Ampunkanlah aku
Terimalah taubatku
Sesungguhnya engkau
Sang Maha Pengampun Dosa
Berikanlah aku kesempatan waktu
Aku ingin kembali
Kembali kepadaMu
Dan meski tak layak
Sujud padaMu
Dan sungguh tak layak aku
Dentingan
suara alat musik yang mengawali lagu Opick diatas dan isi syairnya,
membuat hati ini terketuk dan tersiram oleh sesuatu yang menyejukkan..
Bisakah kalian membayangkan, di saat tubuh kita kepanasan dibawah terik
matahari yang menyengat, wajah kita sirami air..Sungguh menyejukkan dan
menyegarkan bukan. Nah, seperti itulah perumpamaan hati saya disaat
mendengarkan lagu ini..Subhanallah, mungkin disaat membuat lagu ini,
suasana ruhiyah Opick sedang sangat baik dan sangat dekat dengan
Dzat-Nya, sehingga saya yakin bahwa pengaruh yang dibawa lagu ini
merupakan salah satu bentuk kebesaran-Nya. Kejernihan, kebersihan,
kelembutan dari syairnya saya yakin merupakan pesan dari-Nya bahwa
itulah yang Dia lakukan bagi para hamba-Nya yang ingin bertaubat. Maha
lembut, Maha pengampun, selalu terbuka untuk menerima taubat hamba-Nya
(Maha penerima taubat), Maha Pengasih, Maha Penyayang, bagi para
hamba-Nya yang selalu ingat pada-Nya dan bersegera bertaubat sesaat
setelah melakukan perbuatan dosa.
Mari, bersegeralah
bertaubat...jangan sampai kita mati namun belum sempat bertaubat dan
menyadari kesalahan..nau'adzubillah tsumma na'udzubillah
Allahumma
inni as aluka salamatan fiddin wa'afiatan filjasad waziyadatan fil 'ilmi
wabarakatan firrizqi, WATAUBATAN QABLAL MAUT, WARAHMATAN 'INDAL MAUT,
WAMAGHFIRATAN BA'DAL MAUT
Allahumma hawwin 'alaina fii sakaratil maut wannajata minannar wal 'afwa 'indal hisab..
Senin, 23 Desember 2013
Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan.
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahsia dari masa muda yang abadi.
Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan.
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan.
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan.
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan.
Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati.
Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa bererti.
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan.
Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahsia dari masa muda yang abadi.
Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan.
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan.
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan.
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan.
Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati.
Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa bererti.
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan.
Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.
Minggu, 22 Desember 2013
Pelajaran Tekad dari si Rani kecil
Rintangan tak dapat menghancurkanku. Setiap rintangan akan menyerah pada ketetapan hati yang kukuh (Leonardo da Vinci)
Setiap kali saya merasa lelah dan tak mampu, saya segera teringat pada Rani kecil.
Dulu, Rani kecil tinggal di sebuah bilik kayu mungil, di pinggir rel kereta api gunung sahari. Ia sangat menyayangi keluarganya dan suka mengarang. Ketika belum bersekolah, ia sudah mengarang sebuah puisi yang dihafalnya dan kemudian dijadikannya sebuah lagu.
Kakakku manis sekali,
aku sayang padanya
Ia pun sayang padaku,
kakakku sayang….
Sebenarnya Rani ingin sekali punya abang, tetapi ia hanya memiliki seorang kakak perempuan yang berusia dua tahun di atasnya. Dan gadis kecil itu sangat mencintai kakaknya.
Rani kecil sangat suka membaca. Ia membaca semua. Buku cerita, buku pelajaran, koran, bungkus cabai, bungkus bawang dan kertas-kertas pembungkus sayur yang dibawa pulang mama dari pasar. Gadis kecil berkepang dua tersebut menjadi kesayangan ibu dan bapak guru. Kelas satu SD ia menjadi rangking ke dua di sekolah.
Suatu hari, anak berusia tujuh tahun itu terjatuh. Kepalanya terbentur ujung besi yang lancip. Berdarah! Ia muntah-muntah beberapa kali dan segera dibawa ke rumah sakit.
”Gegar otak!”suara dokter seperti gelegar petir di telinga keluarganya. “Kita doakan saja semoga tidak ada pengaruh fatal di kemudian hari. Tetapi sungguh, saya tak dapat menjamin apa pun,” sambung dokter tersebut prihatin.
Mama, papa, kakak dan adik Rani bersedih, tetapi gadis kecil itu tak pernah mengeluh. Ia hanya tersenyum. Pun ketika kemudian dokter melakukan general check up dan ia mendapat tambahan ‘vonis’.
“Ada kelainan pada otak bagian belakang….”
“Paru-parunya kotor….”
“Jantungnya bermasalah….”
“Beberapa giginya membusuk dan tak beraturan. Kami harus mencabut 13 giginya….”
“Kami sangat menyesal. Lima benjolan kecil di kepalanya ternyata tumor…, harus diangkat.”
Bertahun-tahun Rani kecil mondar mandir dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, dari satu dokter ke dokter lain dan meminum begitu banyak jenis obat yang membuatnya mual, tetapi sedikit pun ia tak pernah mengeluh.
Ia masih suka mengarang, terutama mengarang lagu. Kadang ia mengarang lagu di rumah sakit, kadang sesaat sebelum tidur. Ia mengarang lagu tentang desa, tentang alam yang indah, tentang seorang detektif kecil. Ia juga masih senang membaca. Hanya saja kakaknya melihat sang adik sering memegangi kepala beberapa saat sambil memejamkan mata. Ya, Rani kecil sering pusing dan susah berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Tetapi ia tetap saja penggembira juga senang menyanyi.
Rani baru kelas dua SD, ketika pada suatu hari ia berkata, “Kak, aku ingin sekali punya perpustakaan. Aku juga ingin menyewakan buku-buku cerita kita pada anak-anak lain.”
Kakaknya, kelas empat SD, memandang sang adik dengan mata berbinar. “Kakak setuju. Kita taruh saja buku-buku itu di atas meja kayu, di depan rumah. Kita tawarkan pada mereka yang lewat. Kira-kira berapa harganya ya?“
“Yang tipis sepuluh rupiah. Yang tebal dua puluh lima rupiah. Boleh dipinjam selama tiga hari sampai seminggu.”
Rani dan kakaknya hanya memiliki dua puluh buku cerita. Semuanya mereka jejerkan pada sebuah meja kayu kecil di depan rumah kontrakan tempat tinggal mereka yang baru, di daerah Kebon Kosong. Ternyata banyak anak tetangga yang tertarik dan mau meminjam buku-buku itu. Uang hasil sewa buku pun mereka belikan buku-buku baru.
“Suatu hari kakak akan menulis buku-buku seperti ini,” kata kakaknya sambil memandang langit.
“Aku juga! Aku juga!”seru Rani kecil sembari tertawa memperlihatkan kawat-kawat di giginya, sambil ikut-ikutan memandang langit. Namun perlahan ia menunduk dan bertanya pelan. “Tapi apa aku bisa, kak? Aku kan gegar otak.”
Kakaknya mengangguk. “Tentu, dik. Tentu saja kamu bisa! Kamu bisa melakukan apa pun yang kakak kerjakan bila kamu mau!”
Rani kecil sering pusing, tetapi ia tak pernah berhenti belajar. Lalu Allah menunjukkan kekuasaannya! Anak gegar otak dan penyakitan yang tadinya rangking dua di kelas itu tidak menjadi seorang yang idiot! Ia malah menjadi juara satu, bahkan selalu juara umum di sekolahnya!
Rani kecil tak mau hanya termangu atau terbaring di tempat tidur. Di sela-sela waktunya bersekolah dan ke dokter, Rani kecil mengikuti berbagai kegiatan: Pramuka, karate, teater, vokal grup, apa saja.
“Saya akan melawan penyakit saya dengan berkarya, Kak. Dengan melakukan sesuatu!” kata Rani kecil sambil memandang langit.
Maka setiap kali saya lemah dalam melangkah, saya kembali teringat pada Rani kecil. Di tengah penderitaannya menahan sakit, ia berhasil masuk SMA favoritnya, SMA 1 Budi Utomo, mendapat PMDK untuk meneruskan kuliahnya di IPB, dan menjadi kecintaan teman-temannya.
Rani kecil kini berusia 37 tahun, telah menikah dengan seorang wartawan serta mempunyai sepasang anak yang cerdas dan menggemaskan. Ia menulis banyak artikel, cerpen dan cerita bersambung serta memenangkan beberapa lomba mengarang tingkat nasional. Rani juga menulis skenario televisi. Sejak buku pertamanya terbit tahun 1998 hingga 2002, total ia sudah menulis lebih dari 20 buku! Dua bukunya, Rembulan di Mata Ibu (Mizan, 2000) dan Dialog Dua Layar (Mizan, 2001) dinobatkan sebagai buku remaja terbaik Adikarya IKAPI 2000 dan 2001, sekaligus membuatnya terpilih selama dua tahun berturut-turut sebagai salah satu pengarang terbaik tingkat nasional.
Bukunya yang lain, Derai Sunyi (Mizan, 2002) menjadi novel terpuji tingkat nasional versi Forum Lingkar Pena. Organisasi ini juga memilihnya sebagai Pengarang Terpuji tingkat nasional. Tahun 2003 Penerbit Mizan juga memilihnya sebagai Penulis Remaja Terbaik Mizan. Ia diundang mewakili Indonesia dalam program Penulisan Majelis sastra Asia Tenggara (2003) dan mendapat penghargaan sastrawan muda Asia Tenggara (2005). Tahun 2006 Rani terpilih menjadi satu dari dua sastrawan Indonesia yang diundang ke Korea untuk program Writers in Residence, dan tahun ini diundang ke The Chateau de Lavigny, Swiss untuk program serupa. Karya-karyanya telah disinetronkan dan difilmkan.
Kini ia dikenal pula sebagai Direktur sebuah yayasan yang bergerak di bidang sosial, budaya. Rani juga pengajar dan pemerhati dunia anak dan perempuan, pendiri Rumah Baca yang jumlahnya terus bertambah di tanah air, serta sering diundang untuk berbicara dalam berbagai forum di dalam dan luar negeri. Ia pengarang nasyid --beberapa lagunya dibawakan oleh Snada-- dan sudah meluncurkan tiga album bersama kelompok Bestari.
Ya, Rani kecil adalah Asma Nadia. Dan si kakak adalah saya sendiri. Dan setiap kali saya merasa lemah dalam melangkah saya akan selalu teringat saat-saat kami masih kecil juga tekad Asma untuk melawan semua penyakitnya dengan berkarya.
“Apa saya bisa menjadi penulis, Kak? Saya kan gegar otak?”
Pertanyaannya dulu selalu kembali terngiang di telinga saya, kala saya menatap langit malam dan melihat jutaan bintang yang berserakan, menyinari rembulan, di sana.
Tentu, anda boleh bangga jika Kakek, Bapak atau Kakak anda seorang pengarang, tetapi hanya diri anda yang mampu mewujudkan cita-cita sebagai seorang pengarang atau penulis, sebab bakat tak ada arti tanpa doa, tekad dan usaha yang sungguh-sungguh dalam mencapainya.
Maka, setiap kali saya lemah dalam berkarya, saya akan segera mengingat Rani kecil, seraya memandang langit. Dan seperti biasa, saya akan menemukan pendar cahaya itu. Cahaya mata seorang adik kecil yang menjelma bintang di sana. Menyemangati saya setiap malam.
oleh : Helvy Tiana Rosa
Setiap kali saya merasa lelah dan tak mampu, saya segera teringat pada Rani kecil.
Dulu, Rani kecil tinggal di sebuah bilik kayu mungil, di pinggir rel kereta api gunung sahari. Ia sangat menyayangi keluarganya dan suka mengarang. Ketika belum bersekolah, ia sudah mengarang sebuah puisi yang dihafalnya dan kemudian dijadikannya sebuah lagu.
Kakakku manis sekali,
aku sayang padanya
Ia pun sayang padaku,
kakakku sayang….
Sebenarnya Rani ingin sekali punya abang, tetapi ia hanya memiliki seorang kakak perempuan yang berusia dua tahun di atasnya. Dan gadis kecil itu sangat mencintai kakaknya.
Rani kecil sangat suka membaca. Ia membaca semua. Buku cerita, buku pelajaran, koran, bungkus cabai, bungkus bawang dan kertas-kertas pembungkus sayur yang dibawa pulang mama dari pasar. Gadis kecil berkepang dua tersebut menjadi kesayangan ibu dan bapak guru. Kelas satu SD ia menjadi rangking ke dua di sekolah.
Suatu hari, anak berusia tujuh tahun itu terjatuh. Kepalanya terbentur ujung besi yang lancip. Berdarah! Ia muntah-muntah beberapa kali dan segera dibawa ke rumah sakit.
”Gegar otak!”suara dokter seperti gelegar petir di telinga keluarganya. “Kita doakan saja semoga tidak ada pengaruh fatal di kemudian hari. Tetapi sungguh, saya tak dapat menjamin apa pun,” sambung dokter tersebut prihatin.
Mama, papa, kakak dan adik Rani bersedih, tetapi gadis kecil itu tak pernah mengeluh. Ia hanya tersenyum. Pun ketika kemudian dokter melakukan general check up dan ia mendapat tambahan ‘vonis’.
“Ada kelainan pada otak bagian belakang….”
“Paru-parunya kotor….”
“Jantungnya bermasalah….”
“Beberapa giginya membusuk dan tak beraturan. Kami harus mencabut 13 giginya….”
“Kami sangat menyesal. Lima benjolan kecil di kepalanya ternyata tumor…, harus diangkat.”
Bertahun-tahun Rani kecil mondar mandir dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, dari satu dokter ke dokter lain dan meminum begitu banyak jenis obat yang membuatnya mual, tetapi sedikit pun ia tak pernah mengeluh.
Ia masih suka mengarang, terutama mengarang lagu. Kadang ia mengarang lagu di rumah sakit, kadang sesaat sebelum tidur. Ia mengarang lagu tentang desa, tentang alam yang indah, tentang seorang detektif kecil. Ia juga masih senang membaca. Hanya saja kakaknya melihat sang adik sering memegangi kepala beberapa saat sambil memejamkan mata. Ya, Rani kecil sering pusing dan susah berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Tetapi ia tetap saja penggembira juga senang menyanyi.
Rani baru kelas dua SD, ketika pada suatu hari ia berkata, “Kak, aku ingin sekali punya perpustakaan. Aku juga ingin menyewakan buku-buku cerita kita pada anak-anak lain.”
Kakaknya, kelas empat SD, memandang sang adik dengan mata berbinar. “Kakak setuju. Kita taruh saja buku-buku itu di atas meja kayu, di depan rumah. Kita tawarkan pada mereka yang lewat. Kira-kira berapa harganya ya?“
“Yang tipis sepuluh rupiah. Yang tebal dua puluh lima rupiah. Boleh dipinjam selama tiga hari sampai seminggu.”
Rani dan kakaknya hanya memiliki dua puluh buku cerita. Semuanya mereka jejerkan pada sebuah meja kayu kecil di depan rumah kontrakan tempat tinggal mereka yang baru, di daerah Kebon Kosong. Ternyata banyak anak tetangga yang tertarik dan mau meminjam buku-buku itu. Uang hasil sewa buku pun mereka belikan buku-buku baru.
“Suatu hari kakak akan menulis buku-buku seperti ini,” kata kakaknya sambil memandang langit.
“Aku juga! Aku juga!”seru Rani kecil sembari tertawa memperlihatkan kawat-kawat di giginya, sambil ikut-ikutan memandang langit. Namun perlahan ia menunduk dan bertanya pelan. “Tapi apa aku bisa, kak? Aku kan gegar otak.”
Kakaknya mengangguk. “Tentu, dik. Tentu saja kamu bisa! Kamu bisa melakukan apa pun yang kakak kerjakan bila kamu mau!”
Rani kecil sering pusing, tetapi ia tak pernah berhenti belajar. Lalu Allah menunjukkan kekuasaannya! Anak gegar otak dan penyakitan yang tadinya rangking dua di kelas itu tidak menjadi seorang yang idiot! Ia malah menjadi juara satu, bahkan selalu juara umum di sekolahnya!
Rani kecil tak mau hanya termangu atau terbaring di tempat tidur. Di sela-sela waktunya bersekolah dan ke dokter, Rani kecil mengikuti berbagai kegiatan: Pramuka, karate, teater, vokal grup, apa saja.
“Saya akan melawan penyakit saya dengan berkarya, Kak. Dengan melakukan sesuatu!” kata Rani kecil sambil memandang langit.
Maka setiap kali saya lemah dalam melangkah, saya kembali teringat pada Rani kecil. Di tengah penderitaannya menahan sakit, ia berhasil masuk SMA favoritnya, SMA 1 Budi Utomo, mendapat PMDK untuk meneruskan kuliahnya di IPB, dan menjadi kecintaan teman-temannya.
Rani kecil kini berusia 37 tahun, telah menikah dengan seorang wartawan serta mempunyai sepasang anak yang cerdas dan menggemaskan. Ia menulis banyak artikel, cerpen dan cerita bersambung serta memenangkan beberapa lomba mengarang tingkat nasional. Rani juga menulis skenario televisi. Sejak buku pertamanya terbit tahun 1998 hingga 2002, total ia sudah menulis lebih dari 20 buku! Dua bukunya, Rembulan di Mata Ibu (Mizan, 2000) dan Dialog Dua Layar (Mizan, 2001) dinobatkan sebagai buku remaja terbaik Adikarya IKAPI 2000 dan 2001, sekaligus membuatnya terpilih selama dua tahun berturut-turut sebagai salah satu pengarang terbaik tingkat nasional.
Bukunya yang lain, Derai Sunyi (Mizan, 2002) menjadi novel terpuji tingkat nasional versi Forum Lingkar Pena. Organisasi ini juga memilihnya sebagai Pengarang Terpuji tingkat nasional. Tahun 2003 Penerbit Mizan juga memilihnya sebagai Penulis Remaja Terbaik Mizan. Ia diundang mewakili Indonesia dalam program Penulisan Majelis sastra Asia Tenggara (2003) dan mendapat penghargaan sastrawan muda Asia Tenggara (2005). Tahun 2006 Rani terpilih menjadi satu dari dua sastrawan Indonesia yang diundang ke Korea untuk program Writers in Residence, dan tahun ini diundang ke The Chateau de Lavigny, Swiss untuk program serupa. Karya-karyanya telah disinetronkan dan difilmkan.
Kini ia dikenal pula sebagai Direktur sebuah yayasan yang bergerak di bidang sosial, budaya. Rani juga pengajar dan pemerhati dunia anak dan perempuan, pendiri Rumah Baca yang jumlahnya terus bertambah di tanah air, serta sering diundang untuk berbicara dalam berbagai forum di dalam dan luar negeri. Ia pengarang nasyid --beberapa lagunya dibawakan oleh Snada-- dan sudah meluncurkan tiga album bersama kelompok Bestari.
Ya, Rani kecil adalah Asma Nadia. Dan si kakak adalah saya sendiri. Dan setiap kali saya merasa lemah dalam melangkah saya akan selalu teringat saat-saat kami masih kecil juga tekad Asma untuk melawan semua penyakitnya dengan berkarya.
“Apa saya bisa menjadi penulis, Kak? Saya kan gegar otak?”
Pertanyaannya dulu selalu kembali terngiang di telinga saya, kala saya menatap langit malam dan melihat jutaan bintang yang berserakan, menyinari rembulan, di sana.
Tentu, anda boleh bangga jika Kakek, Bapak atau Kakak anda seorang pengarang, tetapi hanya diri anda yang mampu mewujudkan cita-cita sebagai seorang pengarang atau penulis, sebab bakat tak ada arti tanpa doa, tekad dan usaha yang sungguh-sungguh dalam mencapainya.
Maka, setiap kali saya lemah dalam berkarya, saya akan segera mengingat Rani kecil, seraya memandang langit. Dan seperti biasa, saya akan menemukan pendar cahaya itu. Cahaya mata seorang adik kecil yang menjelma bintang di sana. Menyemangati saya setiap malam.
oleh : Helvy Tiana Rosa
Keputusanmu untuk Pensiun Dini Sungguh sangat Mengejutkanku
Pertama bertemu dengan mu ada rasa teduh disana. Saat engkau mengajar
pelatihan Prajab banyak teman teman yang tidak suka cara mengajarmu.
Sedikit mengantuk langsung kena pertanyaan.
Penampilanmu sungguh sangat sederhana, padahal waktu itu engkau sudah menjabat Kabid - setingkat kepala kantor. Tapi justru dari pandangan pertama itulah saya langsung kesengsem sama engkau. Jatuh cinta yang tidak dapat ditahan lagi.
Idealisme-mu semakin mengharumkan nama baikmu di dunia birokrasi. Banyak sekali cerita cerita `gila' tentang engkau. Saat kau menjabat Kabid di Kantor Wilayah waktu itu, pernah engkau melakukan dinas tugas pembinaan ke kantor operasional di daerah. Tidak seperti kebanyakan orang Kanwil pada umumnya, yang sebelum berangkat ke tujuan menelpon kepala kantor operasional di daerah. Hasilnya, jelas diservis luar biasa. Dijemput, dicarikan hotel, dicarikan oleh oleh, dan diantar pulang. Tetapi engkau tidak seperti mereka. Diam diam engkau sudah meluncur ke kantor daerah itu, dengan pakaian sederhanamu seluruh pegawai di Kantor tidak menyangka bahwa orang Kanwil yang datang ialah engkau. Bahkan satpam di pintu gerbang pun tidak menyangka bahwa engkau seorang Kabid yang sedang 'sidak' ke kantor itu. Ah mungkin ini hanya fiksi?? Tapi itulah engkau….
Dulu, waktu Aceh diterjang tsunami, engkau di percaya sama Kantor Pusat untuk memimpin kantor operasional perbendaharaan disana. Kau bilang waktu itu, duit yang kau kelola besar dan itu menggunakan dolar. Seluruh staff pun adalah hasil pilihanmu, dengan melihat kapabilitas dan kemampuan.
"lancar gak kamu ngomong bahasa inggrisnya?", katamu suatu saat padaku..
"sedikit sedikit ngerti,"jawabku jujur..
"kalau gitu bukan pilihan bapak ikut ke aceh," sergah engkau….dan saya pun nyengir kecut..
Saat itu banyak orang yang iri sama engkau, karena bayarannya tinggi. Tapi mereka tidak tahu, bahwa engkau mengkonsep surat sendiri, mengetik surat sendiri, dan menandatangani surat sendiri serta mengantar surat itu via pos engkau sendiri pula. Sementara staff yang lain super sibuk mengurusi kerjaan mendesak yang lainnya. Ah mungkin ini hanya fiksi?? Tapi itulah engkau….
Itu engkau waktu sudah jadi pimpinan, dulu waktu engkau masih staff biasa kau pun disiplin luar biasa. Sebelum jam berdentang tepat pukul 12.00 kau tidak beranjak dari tempat dudukmu. Tidak mau keluar, sebelum waktu istirahat tiba. Padahal saat itu istrimu sudah menunggu di luar. Tapi kau tetap bergeming tidak keluar menyambut istrimu. Kau duduk dikursimu, dan sang istri menunggu di depan kantor. Katamu saat itu, biar tidak ada pekerjaan kau kuatkan matamu membaca segala peraturan terkait pekerjaanmu. Ah mungkin ini hanya fiksi?? Tapi itulah engkau….
Kalau seorang muslim itu pegangannya Al Qur'an, nah kalau PNS juga harus punya pegangan agar bisa kerja sebaik mungkin. Ada keppres, peraturan menteri, edaran pusat kamu pelajari baik baik biar bisa kerja layaknya kamu bisa hidup dengan benar karena ada Al Qur'an yang kamu pegang, itulah pesanmu padaku suatu ketika.
Sewaktu kau memimpin rapat di kantor pusat, staff mu yang berpenampilan parlente dan lebih mewah dari engkau membuka acara. Seluruh tamu undangan peserta rapat mengira bahwa dialah yang akan memimpin rapat. Tapi akhirnya seluruh tamu undangan itu terkejut, karena staff mu yang berpenampilan parlente dan lebih mewah dari engkau sebelum membuka acara meminta ijin kepadamu agar rapat segera dimulai. Kau duduk jauh di pojok, pakaianmu pun sederhana dan seluruh tamu undangan waktu itu tidak menyangka bahwa kau lah bos nya. Ah mungkin ini hanya fiksi?? Tapi itulah engkau….
Itu semua membuktikan bahwa engkau smart, berpengetahuan luas, dan intelek. Andai tidak ada orang yang menghambat laju pendidikanmu untuk mendapatkan beasiswa, seharusnya engkau tidak cuma menjabat sebagai Kasubdit di Kantor Pusat, bisa saja menjadi direktur, atau dirjen. Tapi takdir berkata lain….
Fisikmu pun sebanding dengan kuatnya intelektualitasmu. Engkau pernah cerita bahwa engkau seharusnya juara pertama lari se jawa tengah, tapi engkau merasa tidak enak menjadi juara karena dibelakang mu persis ada anggota TNI. Dan kau pun mengalah menjadi juara dua. Ah mungkin ini hanya fiksi?? Tapi itulah engkau….
Dulu engkau pernah kami keroyok. Saya dan teman teman berjumlah delapanan orang mengeroyokmu. Berkelahi. Betulan. Ada yang menendang, yang lain mencekik, yang lain memukul keras bahkan ada yang menggelitiki mu. Tapi kau cuma nyengir, udah gini aja kekuatan anak muda. Dan blap blap blap kami pun terjatuh semua karena kau balas membanting kami. Ah mungkin ini hanya fiksi?? Tapi itulah engkau….
Waktu kau di Kantor Pusat pun, tiada minggu tanpa berlari. Ya kau sering berlari di Lapangan Banteng Timur, dan temanmu berlari banyak anggota TNI. Ah mungkin ini hanya fiksi?? Tapi itulah engkau….
Alhamdulilah, waktu saya menikah engkau pun datang. Ya engkau sengaja menyempatkan datang saat engkau ada tugas dari kantor pusat ke aceh beberapa hari. Saya pun sangat senang, sungguh kehadiranmu menghapus rasa sedih saya atas ketidakhadiran seluruh teman satu angkatan, karena mereka sudah kadung menyebar ke seantero Indonesia.
Syahdan, saat engkau pulang dari naik haji yang kedua, ternyata surat pensiun dini mu sudah disetujui sama atasanmu. Dan sekarang engkau sudah berhenti jadi PNS, saat engkau masih menjabat Kasubdit di Kantor Pusat. Usia mu pun belum tua tua amat, kalaupun usiamu sudah lanjut itu tidak nampak dari badanmu yang tegap, bugar, dan fisik yang prima. Mendengar engkau pensiun saya sedih, sekarang tidak ada lagi panutan saya menjadi PNS.
"jadi apa kira kira yang melatar belakangi bapak pensiun,"? tanya sahabatmu yang juga guru saya suatu saat pada mu
"bapak ingin pensiun saat masih kuat dan punya kemampuan untuk berkarya lagi,"itulah jawaban tegas mu.
Sekarang engkau sudah kembali ke kampung halaman di wonosobo sana. Semoga karyamu bisa memajukan wonosobo. Salam takzim saya untuk mu duhai guru ku. Sungguh saat saya menulis ini, air mata saya bercucuran seakan merasa kehilangan dan tidak rela engkau pensiun. Semoga saya bisa sekuat bapak memegang prinsip dan idealismenya…. Amin Ya Robb,,,
Guru saya itu bernama : TYAS MIYANTO
sumber: http://sosok.kompasiana.com/2011/05/11/keputusanmu-untuk-pensiun-dini-sungguh-sangat-mengejutkanku/
Penampilanmu sungguh sangat sederhana, padahal waktu itu engkau sudah menjabat Kabid - setingkat kepala kantor. Tapi justru dari pandangan pertama itulah saya langsung kesengsem sama engkau. Jatuh cinta yang tidak dapat ditahan lagi.
Idealisme-mu semakin mengharumkan nama baikmu di dunia birokrasi. Banyak sekali cerita cerita `gila' tentang engkau. Saat kau menjabat Kabid di Kantor Wilayah waktu itu, pernah engkau melakukan dinas tugas pembinaan ke kantor operasional di daerah. Tidak seperti kebanyakan orang Kanwil pada umumnya, yang sebelum berangkat ke tujuan menelpon kepala kantor operasional di daerah. Hasilnya, jelas diservis luar biasa. Dijemput, dicarikan hotel, dicarikan oleh oleh, dan diantar pulang. Tetapi engkau tidak seperti mereka. Diam diam engkau sudah meluncur ke kantor daerah itu, dengan pakaian sederhanamu seluruh pegawai di Kantor tidak menyangka bahwa orang Kanwil yang datang ialah engkau. Bahkan satpam di pintu gerbang pun tidak menyangka bahwa engkau seorang Kabid yang sedang 'sidak' ke kantor itu. Ah mungkin ini hanya fiksi?? Tapi itulah engkau….
Dulu, waktu Aceh diterjang tsunami, engkau di percaya sama Kantor Pusat untuk memimpin kantor operasional perbendaharaan disana. Kau bilang waktu itu, duit yang kau kelola besar dan itu menggunakan dolar. Seluruh staff pun adalah hasil pilihanmu, dengan melihat kapabilitas dan kemampuan.
"lancar gak kamu ngomong bahasa inggrisnya?", katamu suatu saat padaku..
"sedikit sedikit ngerti,"jawabku jujur..
"kalau gitu bukan pilihan bapak ikut ke aceh," sergah engkau….dan saya pun nyengir kecut..
Saat itu banyak orang yang iri sama engkau, karena bayarannya tinggi. Tapi mereka tidak tahu, bahwa engkau mengkonsep surat sendiri, mengetik surat sendiri, dan menandatangani surat sendiri serta mengantar surat itu via pos engkau sendiri pula. Sementara staff yang lain super sibuk mengurusi kerjaan mendesak yang lainnya. Ah mungkin ini hanya fiksi?? Tapi itulah engkau….
Itu engkau waktu sudah jadi pimpinan, dulu waktu engkau masih staff biasa kau pun disiplin luar biasa. Sebelum jam berdentang tepat pukul 12.00 kau tidak beranjak dari tempat dudukmu. Tidak mau keluar, sebelum waktu istirahat tiba. Padahal saat itu istrimu sudah menunggu di luar. Tapi kau tetap bergeming tidak keluar menyambut istrimu. Kau duduk dikursimu, dan sang istri menunggu di depan kantor. Katamu saat itu, biar tidak ada pekerjaan kau kuatkan matamu membaca segala peraturan terkait pekerjaanmu. Ah mungkin ini hanya fiksi?? Tapi itulah engkau….
Kalau seorang muslim itu pegangannya Al Qur'an, nah kalau PNS juga harus punya pegangan agar bisa kerja sebaik mungkin. Ada keppres, peraturan menteri, edaran pusat kamu pelajari baik baik biar bisa kerja layaknya kamu bisa hidup dengan benar karena ada Al Qur'an yang kamu pegang, itulah pesanmu padaku suatu ketika.
Sewaktu kau memimpin rapat di kantor pusat, staff mu yang berpenampilan parlente dan lebih mewah dari engkau membuka acara. Seluruh tamu undangan peserta rapat mengira bahwa dialah yang akan memimpin rapat. Tapi akhirnya seluruh tamu undangan itu terkejut, karena staff mu yang berpenampilan parlente dan lebih mewah dari engkau sebelum membuka acara meminta ijin kepadamu agar rapat segera dimulai. Kau duduk jauh di pojok, pakaianmu pun sederhana dan seluruh tamu undangan waktu itu tidak menyangka bahwa kau lah bos nya. Ah mungkin ini hanya fiksi?? Tapi itulah engkau….
Itu semua membuktikan bahwa engkau smart, berpengetahuan luas, dan intelek. Andai tidak ada orang yang menghambat laju pendidikanmu untuk mendapatkan beasiswa, seharusnya engkau tidak cuma menjabat sebagai Kasubdit di Kantor Pusat, bisa saja menjadi direktur, atau dirjen. Tapi takdir berkata lain….
Fisikmu pun sebanding dengan kuatnya intelektualitasmu. Engkau pernah cerita bahwa engkau seharusnya juara pertama lari se jawa tengah, tapi engkau merasa tidak enak menjadi juara karena dibelakang mu persis ada anggota TNI. Dan kau pun mengalah menjadi juara dua. Ah mungkin ini hanya fiksi?? Tapi itulah engkau….
Dulu engkau pernah kami keroyok. Saya dan teman teman berjumlah delapanan orang mengeroyokmu. Berkelahi. Betulan. Ada yang menendang, yang lain mencekik, yang lain memukul keras bahkan ada yang menggelitiki mu. Tapi kau cuma nyengir, udah gini aja kekuatan anak muda. Dan blap blap blap kami pun terjatuh semua karena kau balas membanting kami. Ah mungkin ini hanya fiksi?? Tapi itulah engkau….
Waktu kau di Kantor Pusat pun, tiada minggu tanpa berlari. Ya kau sering berlari di Lapangan Banteng Timur, dan temanmu berlari banyak anggota TNI. Ah mungkin ini hanya fiksi?? Tapi itulah engkau….
Alhamdulilah, waktu saya menikah engkau pun datang. Ya engkau sengaja menyempatkan datang saat engkau ada tugas dari kantor pusat ke aceh beberapa hari. Saya pun sangat senang, sungguh kehadiranmu menghapus rasa sedih saya atas ketidakhadiran seluruh teman satu angkatan, karena mereka sudah kadung menyebar ke seantero Indonesia.
Syahdan, saat engkau pulang dari naik haji yang kedua, ternyata surat pensiun dini mu sudah disetujui sama atasanmu. Dan sekarang engkau sudah berhenti jadi PNS, saat engkau masih menjabat Kasubdit di Kantor Pusat. Usia mu pun belum tua tua amat, kalaupun usiamu sudah lanjut itu tidak nampak dari badanmu yang tegap, bugar, dan fisik yang prima. Mendengar engkau pensiun saya sedih, sekarang tidak ada lagi panutan saya menjadi PNS.
"jadi apa kira kira yang melatar belakangi bapak pensiun,"? tanya sahabatmu yang juga guru saya suatu saat pada mu
"bapak ingin pensiun saat masih kuat dan punya kemampuan untuk berkarya lagi,"itulah jawaban tegas mu.
Sekarang engkau sudah kembali ke kampung halaman di wonosobo sana. Semoga karyamu bisa memajukan wonosobo. Salam takzim saya untuk mu duhai guru ku. Sungguh saat saya menulis ini, air mata saya bercucuran seakan merasa kehilangan dan tidak rela engkau pensiun. Semoga saya bisa sekuat bapak memegang prinsip dan idealismenya…. Amin Ya Robb,,,
Guru saya itu bernama : TYAS MIYANTO
sumber: http://sosok.kompasiana.com/2011/05/11/keputusanmu-untuk-pensiun-dini-sungguh-sangat-mengejutkanku/
Rabu, 11 Desember 2013
Jika telur pecah...
Jika telur pecah karena faktor eksternal
Berarti kehidupannya berakhir
Jika telur pecah karena faktor internal
Berarti ada kehidupan baru dimulai
"SESUATU YANG AGUNG SELALU DIMULAI DARI DALAM"
DR. Salman Audah, seorang ulama' dan pemikir dari Saudi Arabia berkata:
Kita wajib percaya bahwa kita diciptakan bukan:
Untuk gagal
Untuk bersedih, atau
Untuk menjadi manusia-manusia tanpa tujuan
Kita wajib percaya bahwa keberadaan kita bukanlah kebetulan
Bukan pula sekedar suatu angka
Keberadaan kita adalah karena adanya suatu keperluan
"SAYA ADA KARENA ALAM SEMESTA MEMERLUKAN SAYA"
Ambillah ibrah dari harimu
Jadikan kemaren sebagai pengalaman
Dunia adalah persoalan matematik
Bubuhkan tanda - capek dan sengsara
Bubuhkan tanda + cinta dan kesetiaan
Niscaya Tuhan pemilik langit akan menolong dan memberikan taufiq kepadamu
Jika engkau sujud, sampaikan kepada-Nya seluruh rahasiamu
Jangan dengarkan orang-orang di sekelilingmu
Bisiki Dia dengan air matamu
Dan hatimu adalah kekayaanmu
Dan Dia melihat kepadanya
Jangan berkata: dari mana aku mulai
Ketaatan kepada-Nya adalah titik awal
Jangan berkata: mana jalanku
Syari'at Allah adalah penunjuk jalan
Jangan berkata: di mana kenikmatanku
Cukulah syurga Allah sebagai jawabannya
Jangan berkata: besok aku akan memulai
Bisa jadi itulah akhir perjalananmu
Dunia itu tiga hari:
Sehari telah kita lalui dan tidak akan kembali
Hari ini yang tidak akan abadi, dan
Besok, yang kita tidak tahu akan bersama siapa? Dan di mana?
Saat seseorang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas kepadamu
Jangan marah..senyumlah..sebab ia telah mengungkapkan jati dirinya, sehingga engkau tidak perlu capek menggalinya
Dan biasakan lidahmu untuk mengucapkan:
Allahummaghfirli (ya Allah, ampuni daku)
Sebab ada saat-saat tertentu Allah SWT tidak menolak permohonan siapa pun.
Oleh : Ust. Musyaffa Abdurrahim, Lc.
Berarti kehidupannya berakhir
Jika telur pecah karena faktor internal
Berarti ada kehidupan baru dimulai
"SESUATU YANG AGUNG SELALU DIMULAI DARI DALAM"
DR. Salman Audah, seorang ulama' dan pemikir dari Saudi Arabia berkata:
Kita wajib percaya bahwa kita diciptakan bukan:
Untuk gagal
Untuk bersedih, atau
Untuk menjadi manusia-manusia tanpa tujuan
Kita wajib percaya bahwa keberadaan kita bukanlah kebetulan
Bukan pula sekedar suatu angka
Keberadaan kita adalah karena adanya suatu keperluan
"SAYA ADA KARENA ALAM SEMESTA MEMERLUKAN SAYA"
Ambillah ibrah dari harimu
Jadikan kemaren sebagai pengalaman
Dunia adalah persoalan matematik
Bubuhkan tanda - capek dan sengsara
Bubuhkan tanda + cinta dan kesetiaan
Niscaya Tuhan pemilik langit akan menolong dan memberikan taufiq kepadamu
Jika engkau sujud, sampaikan kepada-Nya seluruh rahasiamu
Jangan dengarkan orang-orang di sekelilingmu
Bisiki Dia dengan air matamu
Dan hatimu adalah kekayaanmu
Dan Dia melihat kepadanya
Jangan berkata: dari mana aku mulai
Ketaatan kepada-Nya adalah titik awal
Jangan berkata: mana jalanku
Syari'at Allah adalah penunjuk jalan
Jangan berkata: di mana kenikmatanku
Cukulah syurga Allah sebagai jawabannya
Jangan berkata: besok aku akan memulai
Bisa jadi itulah akhir perjalananmu
Dunia itu tiga hari:
Sehari telah kita lalui dan tidak akan kembali
Hari ini yang tidak akan abadi, dan
Besok, yang kita tidak tahu akan bersama siapa? Dan di mana?
Saat seseorang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas kepadamu
Jangan marah..senyumlah..sebab ia telah mengungkapkan jati dirinya, sehingga engkau tidak perlu capek menggalinya
Dan biasakan lidahmu untuk mengucapkan:
Allahummaghfirli (ya Allah, ampuni daku)
Sebab ada saat-saat tertentu Allah SWT tidak menolak permohonan siapa pun.
Oleh : Ust. Musyaffa Abdurrahim, Lc.

Selasa, 03 Desember 2013
"HIDUP ITU SEPERTI TASBIH"
Berawal dan berakhir dititik yang sama.
Bukan tasbih jika cuma 1 butir,
bukan hidup jika hanya 1 dimensi.
Kehidupan akan sempurna jika telah melewati serangkaian suka - duka, bahagia-sedih, sehat-sakit, sukses-gagal, pasang-surut.
Seperti #tasbih yang melingkar, hidup juga demikian.
Kemanapun kita pergi dan berlari menghindar tetap dalam lingkaran takdir-NYA.
Semoga kita dapat menjalani setiap hari-hari kita dengan kesabaran, ketabahan, keikhlasan dan dengan senyuman manis yang kita miliki. Semoga hari-hari kita juga diberikan keberkahan dan keridhoan ALLAH SWT. Aamiiin.
by. Nesa P.V
Kamis, 20 Desember 2012
Houtman Z Arifin- Office Boy s.d. Vice President Citibank
“Hidup bukan hanya tentang aku, tetapi juga tentang kita. Hidup itu juga tentang orang tuamu, tentang keluargamu, tentang negerimu, tentang agamamu dan juga tentang orang-orang di sekitarmu. Buat apa kau ada, kalau keberadaanmu manfaatnya tidak dirasakan oleh mereka.”
“Hidupmu dikatakan hebat kalau kau bisa menghebatkan orang-orang lemah. Doa mereka tiada bersekat, oleh karena itulah kau harus mendekat. Kebahagiaan di dalam dirimu, itu ada di dalam hati dan pikiranmu. Sementara di luar dirimu, kebahagiaan itu ada tatkala kau dekat dengan orang-orang yang perlu kau berdayakan.”
“Martabatmu bukan ditentukan oleh banyaknya sertifikat dan bintang jasa di pundak dan dadamu. Tetapi ditentukan oleh seberapa kuat namamu ada di hati orang-orang di sekitarmu. Pujian sejati, bukanlah dalam bentuk gemuruh tepuk tangan tiada henti. Tetapi justru ada di dalam hati, ia keluar dalam bentuk doa di saat-saat sepi.”
“Hidupmu dikatakan hebat kalau kau bisa menghebatkan orang-orang lemah. Doa mereka tiada bersekat, oleh karena itulah kau harus mendekat. Kebahagiaan di dalam dirimu, itu ada di dalam hati dan pikiranmu. Sementara di luar dirimu, kebahagiaan itu ada tatkala kau dekat dengan orang-orang yang perlu kau berdayakan.”
“Martabatmu bukan ditentukan oleh banyaknya sertifikat dan bintang jasa di pundak dan dadamu. Tetapi ditentukan oleh seberapa kuat namamu ada di hati orang-orang di sekitarmu. Pujian sejati, bukanlah dalam bentuk gemuruh tepuk tangan tiada henti. Tetapi justru ada di dalam hati, ia keluar dalam bentuk doa di saat-saat sepi.”
Langganan:
Postingan (Atom)
